alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

Karakter Kejujuran Diuji di Era Pandemi

KARAKTER kejujuran sangat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan dalam segala hal. Disamping itu ada faktor kerja keras, usaha, dan nasib baik.  Dengan demikian, harus diyakini bahwa kejujuran sangatlah penting dalam kehidupan.

Kejujuran adalah suatu sikap yang lurus hati, menyatakan yang sebenar-benarnya, tidak berbohong dan tidak curang. Jujur juga bisa bermakna kesesuaian antara niat dengan ucapan dan perbuatan. Sifat jujur sangat penting dan harus dimiliki sebagai makhluk individu.

Dalam dunia pendidikan juga membutuhkan karakter kejujuran tersebut, baik untuk peserta didik maupun guru.  Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, serta pada jenjang pendidikan dasar, menengah, termasuk pendidikan anak usia dini.


Dalam konteks yang lebih luas keberadaan guru dalam proses mengajar menjadi sesuatu yang penting. Karena salah satu kunci dari keberhasilan dalam proses pembelajaran bukan hanya dilihat dari aspek keberhasilan seorang siswa mendapatkan nilai yang bagus, tetapi yang lebih penting adalah sejauh mana seorang guru membangun dan menanamkan nilai-nilai akhlak mulia dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sehingga kemudian diharapkan anak-anak didiknya menjadi anak yang mempunyai karakter, disiplin, mandiri, jujur dan selalu berusaha meningkatkan kemampuan dirinya.

Peran guru dalam membangun karakter kejujuran di lingkungan dunia pendidikan sangat penting dan luas. Dianggap sangat penting karena guru sering berkomunikasi langsung dengan peserta didiknya dalam proses pembelajaran. Pada saat proses itulah guru menanamkan karakter kejujuran kepada peserta didiknya.

Contoh sederhana pada waktu penilaian harian atau ulangan. Seorang guru harus menyampaikan pesan kepada peserta didiknya agar tidak menyontek. Walaupun menyontek seperti sudah menjadi  tradisi yang berkembang di dunia pendidikan, dan itu sudah mengakar kuat di sebagian peserta didik. Apalagi di era pandemi seperti ini, dimana peserta didik melaksanakan pembelajaran secara daring.

Baca Juga :  Lebih Aktif dengan Game Edukatif

Setiap tugas dan penilaian ulangan harian dilaksanakan di rumah. Pasti bagi peserta didik yang tidak jujur, mengerjakan tugas itu dibantu oleh orang lain, atau lewat aplikasi tertentu. Ingin mendapatkan nilai terbaik merupakan salah satu pemicu mengapa banyak orang memutuskan untuk bertindak tidak jujur.

Padahal, apalah arti sebuah nilai yang bagus jika dalam proses mendapatkannya dilakukan dengan cara tidak jujur. Semua orang tahu apa artinya jujur, namun tak banyak orang yang bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Keluarga juga sangat berperan dalam membentuk karakter kejujuran bagi anak. Karena di dalam keluarga pasti terjalin komunikasi yang sangat erat antara orang tua dan anak. Anak akan mencontoh apa yang mereka lihat sehari-hari. Jadi secara otomatis sikap orang tua menjadi panutan dan teladan anak.

Orang tua juga harus bersikap jujur jika ingin membentuk karakter anaknya menjadi orang yang jujur. Jangan sekali-kali mengajarkan anak untuk berbohong. Karena sekali berbohong akan dilanjutkan dengan kebohongan berikutnya.

Dan peran sebagai seorang guru,  harus lebih sering menyampaikan pesan untuk berbuat jujur dalam pembelajaran. Pesan itu disampaikan dengan bahasa yang sederhana yang bisa ditangkap peserta didik. Dan itu harus dilakukan terus menerus dalam menyampaikan pesan-pesan moral. Sehingga pada akhirnya terwujudlah rumusan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, jujur, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (*)

KARAKTER kejujuran sangat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan dalam segala hal. Disamping itu ada faktor kerja keras, usaha, dan nasib baik.  Dengan demikian, harus diyakini bahwa kejujuran sangatlah penting dalam kehidupan.

Kejujuran adalah suatu sikap yang lurus hati, menyatakan yang sebenar-benarnya, tidak berbohong dan tidak curang. Jujur juga bisa bermakna kesesuaian antara niat dengan ucapan dan perbuatan. Sifat jujur sangat penting dan harus dimiliki sebagai makhluk individu.

Dalam dunia pendidikan juga membutuhkan karakter kejujuran tersebut, baik untuk peserta didik maupun guru.  Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, serta pada jenjang pendidikan dasar, menengah, termasuk pendidikan anak usia dini.

Dalam konteks yang lebih luas keberadaan guru dalam proses mengajar menjadi sesuatu yang penting. Karena salah satu kunci dari keberhasilan dalam proses pembelajaran bukan hanya dilihat dari aspek keberhasilan seorang siswa mendapatkan nilai yang bagus, tetapi yang lebih penting adalah sejauh mana seorang guru membangun dan menanamkan nilai-nilai akhlak mulia dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sehingga kemudian diharapkan anak-anak didiknya menjadi anak yang mempunyai karakter, disiplin, mandiri, jujur dan selalu berusaha meningkatkan kemampuan dirinya.

Peran guru dalam membangun karakter kejujuran di lingkungan dunia pendidikan sangat penting dan luas. Dianggap sangat penting karena guru sering berkomunikasi langsung dengan peserta didiknya dalam proses pembelajaran. Pada saat proses itulah guru menanamkan karakter kejujuran kepada peserta didiknya.

Contoh sederhana pada waktu penilaian harian atau ulangan. Seorang guru harus menyampaikan pesan kepada peserta didiknya agar tidak menyontek. Walaupun menyontek seperti sudah menjadi  tradisi yang berkembang di dunia pendidikan, dan itu sudah mengakar kuat di sebagian peserta didik. Apalagi di era pandemi seperti ini, dimana peserta didik melaksanakan pembelajaran secara daring.

Baca Juga :  Pameran Virtual sebagai Solusi Jitu saat Pandemi

Setiap tugas dan penilaian ulangan harian dilaksanakan di rumah. Pasti bagi peserta didik yang tidak jujur, mengerjakan tugas itu dibantu oleh orang lain, atau lewat aplikasi tertentu. Ingin mendapatkan nilai terbaik merupakan salah satu pemicu mengapa banyak orang memutuskan untuk bertindak tidak jujur.

Padahal, apalah arti sebuah nilai yang bagus jika dalam proses mendapatkannya dilakukan dengan cara tidak jujur. Semua orang tahu apa artinya jujur, namun tak banyak orang yang bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Keluarga juga sangat berperan dalam membentuk karakter kejujuran bagi anak. Karena di dalam keluarga pasti terjalin komunikasi yang sangat erat antara orang tua dan anak. Anak akan mencontoh apa yang mereka lihat sehari-hari. Jadi secara otomatis sikap orang tua menjadi panutan dan teladan anak.

Orang tua juga harus bersikap jujur jika ingin membentuk karakter anaknya menjadi orang yang jujur. Jangan sekali-kali mengajarkan anak untuk berbohong. Karena sekali berbohong akan dilanjutkan dengan kebohongan berikutnya.

Dan peran sebagai seorang guru,  harus lebih sering menyampaikan pesan untuk berbuat jujur dalam pembelajaran. Pesan itu disampaikan dengan bahasa yang sederhana yang bisa ditangkap peserta didik. Dan itu harus dilakukan terus menerus dalam menyampaikan pesan-pesan moral. Sehingga pada akhirnya terwujudlah rumusan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, jujur, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/