alexametrics
25.4 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Alasan Penting Kenapa MA NU Banat Kudus Jaring Bakat Siswi sejak Masuk

KUDUS – MA NU Banat Kudus merupakan salah satu madrasah aliyah (MA) setingkat sekolah menengah atas (SMA) yang memiliki karakteristik unik. Dengan kekhususan bagi peserta didik putri.

Keberadaan MA NU Banat Kudus sebagai upaya mewujudkan cita-cita para perintis sekaligus pendirinya yang ingin mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan. Diharapkan, tercipta generasi yang memiliki intelektual serta ber-akhlaqul karimah. Sesuai dengan ajaran agama Islam ahlussunnah waljama’ah.

Kepala MA NU Banat Kudus Shohibul Huda, M.Pd menerangkan, sistem pembelajaran MA NU Banat di antaranya ada kegiatan intrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, dan pengembangan bahasa asing (Inggris dan Arab).


”Kami terus berupaya mewujudkan madrasah yang unggul pada sisi akademik maupun nonakademi. Sesuai dengan visi dan misi madrasah. Di antara caranya dengan mengikuti lomba-lomba, baik kancah nasional maupun internasional,” terangnya.

Eksistensi MA NU Banat di masa pandemi terbukti mampu dipertahankan. Yakni peserta didiknya mampu menyabet medali emas tingkat internasional tahun ini. Huda mengatakan, siswa berprestasi bukan secara instan. Tapi, sejak dini atau sejak siswi masuk sudah diarahkan sesuai dengan bakatnya.

”Kami mencari siswi yang potensial ikut beberapa lomba dari hasil ranking 10 besar. Dibina sesuai dengan bakat. Selain itu, dilihat prestasi sebelumnya atau saat di jenjang sekolah sebelum MA. Kemudian guru mengarahkan siswa sesuai kemampuan,” jelasnya.

Misalnya, ada siswi yang punya bakat seni, pihak sekolah mengarahkan sesuai dengan bidangnya melalui ekstrakulikuler. Dengan memberikan tambahan jam di luar kegiatan belajar mengajar (KBM). Kemudian yang suka sains, ada kelompok karya ilmiah remaja (KIR). Masing-masing ada guru pembimbing yang berkompeten di bidangnya.

Huda mengatakan, selama pandemi tidak ada hambatan untuk siswanya berprestasi. Motivasi ke siswa terus dilakukan. Meski dengan cara online untuk menyampaikan materi teori. Sedangkan untuk praktik, sesekali ada tatap muka. Jika memang mendesak.

Menurutnya, meski MA NU Banat punya basic sekolah dengan banyak pembelajaran agama, namun tetap menganggap penting pelajaran umum. ”Kami mengikuti tren yang ada. Secara labelnya memang sekolah agama, tapi pembelajaran umum juga bisa unggul,” jelasnya.

Baca Juga :  Hoaks, Lowongan Kerja di BPJS Kesehatan Kudus Tersebar Viral

Huda mengatakan, harapan MA NU Banat Kudus ke depan, tetap unggul prestasi tak hanya kancah nasional, tapi juga internasional. Selain itu, lulusan MA NU Banant lebih banyak yang melanjutkan studinya ke luar negeri. ”Saat ini, alumni sudah ada yang kuliah di Mesir, Yaman, Jepang, bahkan Jerman. Hampir tiap tahun juga ada alumni yang lulus jurusan kedokteran. Hal ini masih perlu ditingkatkan lagi,” harapnya.

Pembina ekstrakulikuler KIR Fatmawati menambahkan, KIR memang cukup banyak peminatnya. Kemudian ada seleksi ikut lomba sampai tingkat internasional. Setiap pekan ada bimbingan. Jadi kelihatan siswi yang aktif. ”Ide-ide dari siswa. Kemudian dikonsultasikan ke pembimbing dan kami mengarahkan. Untuk pengembangan selanjutnya murni dari siswa,” ungkapnya.

Untuk saat ini, mempersiapkan siswi mengikuti lomba International Science and Invention Fair (ISIF), Indonesian Science Project Olympiad (ISPO), dan yang masih berlangsung seleksi Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (Kopsi). Selain itu, juga mempersiapkan ikut Madrasah Young Researcher Supercam (Myres) yang mengangkat judul Psikoneuroimunologi secara Qurani (Studi Pengaruh Murottal Alquran Terhadap Stres Psikologis pada Lansia di Kudus).

”ISIF kami kirim tiga tim. Terdiri dari enam siswa. ISPO kirim satu siswa dan Kopsi kirim dua tim dengan empat siswi. Masing-masing lomba bermacam-macam tema. Rata-rata tentang life sains atau yang bisa dimanfaatkan di lingkungan sekitar,” terangnya. Ia menjelaskan, Kopsi mengangkat tema tentang daya beli masayarakat sebelum dan sesudah pandemi serta tentang aplikasi pendetesksi kanker serviks.

Dia mebambahkan, hal yang paling utama adalah ide. Siswa perlu diberikan semangat dan informasi untuk menggugah ide-ide mereka. ”Sebetulnya dari permasalahan sederhana di kehidupan sehari-hari bisa diangkat untuk penelitian. Kemudian saat ada lomba tinggal diajukan,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – MA NU Banat Kudus merupakan salah satu madrasah aliyah (MA) setingkat sekolah menengah atas (SMA) yang memiliki karakteristik unik. Dengan kekhususan bagi peserta didik putri.

Keberadaan MA NU Banat Kudus sebagai upaya mewujudkan cita-cita para perintis sekaligus pendirinya yang ingin mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan. Diharapkan, tercipta generasi yang memiliki intelektual serta ber-akhlaqul karimah. Sesuai dengan ajaran agama Islam ahlussunnah waljama’ah.

Kepala MA NU Banat Kudus Shohibul Huda, M.Pd menerangkan, sistem pembelajaran MA NU Banat di antaranya ada kegiatan intrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, dan pengembangan bahasa asing (Inggris dan Arab).

”Kami terus berupaya mewujudkan madrasah yang unggul pada sisi akademik maupun nonakademi. Sesuai dengan visi dan misi madrasah. Di antara caranya dengan mengikuti lomba-lomba, baik kancah nasional maupun internasional,” terangnya.

Eksistensi MA NU Banat di masa pandemi terbukti mampu dipertahankan. Yakni peserta didiknya mampu menyabet medali emas tingkat internasional tahun ini. Huda mengatakan, siswa berprestasi bukan secara instan. Tapi, sejak dini atau sejak siswi masuk sudah diarahkan sesuai dengan bakatnya.

”Kami mencari siswi yang potensial ikut beberapa lomba dari hasil ranking 10 besar. Dibina sesuai dengan bakat. Selain itu, dilihat prestasi sebelumnya atau saat di jenjang sekolah sebelum MA. Kemudian guru mengarahkan siswa sesuai kemampuan,” jelasnya.

Misalnya, ada siswi yang punya bakat seni, pihak sekolah mengarahkan sesuai dengan bidangnya melalui ekstrakulikuler. Dengan memberikan tambahan jam di luar kegiatan belajar mengajar (KBM). Kemudian yang suka sains, ada kelompok karya ilmiah remaja (KIR). Masing-masing ada guru pembimbing yang berkompeten di bidangnya.

Huda mengatakan, selama pandemi tidak ada hambatan untuk siswanya berprestasi. Motivasi ke siswa terus dilakukan. Meski dengan cara online untuk menyampaikan materi teori. Sedangkan untuk praktik, sesekali ada tatap muka. Jika memang mendesak.

Menurutnya, meski MA NU Banat punya basic sekolah dengan banyak pembelajaran agama, namun tetap menganggap penting pelajaran umum. ”Kami mengikuti tren yang ada. Secara labelnya memang sekolah agama, tapi pembelajaran umum juga bisa unggul,” jelasnya.

Baca Juga :  Peringati Hari Kartini, Nojorono Kudus Gelar ”Perempuan Berkarya”

Huda mengatakan, harapan MA NU Banat Kudus ke depan, tetap unggul prestasi tak hanya kancah nasional, tapi juga internasional. Selain itu, lulusan MA NU Banant lebih banyak yang melanjutkan studinya ke luar negeri. ”Saat ini, alumni sudah ada yang kuliah di Mesir, Yaman, Jepang, bahkan Jerman. Hampir tiap tahun juga ada alumni yang lulus jurusan kedokteran. Hal ini masih perlu ditingkatkan lagi,” harapnya.

Pembina ekstrakulikuler KIR Fatmawati menambahkan, KIR memang cukup banyak peminatnya. Kemudian ada seleksi ikut lomba sampai tingkat internasional. Setiap pekan ada bimbingan. Jadi kelihatan siswi yang aktif. ”Ide-ide dari siswa. Kemudian dikonsultasikan ke pembimbing dan kami mengarahkan. Untuk pengembangan selanjutnya murni dari siswa,” ungkapnya.

Untuk saat ini, mempersiapkan siswi mengikuti lomba International Science and Invention Fair (ISIF), Indonesian Science Project Olympiad (ISPO), dan yang masih berlangsung seleksi Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (Kopsi). Selain itu, juga mempersiapkan ikut Madrasah Young Researcher Supercam (Myres) yang mengangkat judul Psikoneuroimunologi secara Qurani (Studi Pengaruh Murottal Alquran Terhadap Stres Psikologis pada Lansia di Kudus).

”ISIF kami kirim tiga tim. Terdiri dari enam siswa. ISPO kirim satu siswa dan Kopsi kirim dua tim dengan empat siswi. Masing-masing lomba bermacam-macam tema. Rata-rata tentang life sains atau yang bisa dimanfaatkan di lingkungan sekitar,” terangnya. Ia menjelaskan, Kopsi mengangkat tema tentang daya beli masayarakat sebelum dan sesudah pandemi serta tentang aplikasi pendetesksi kanker serviks.

Dia mebambahkan, hal yang paling utama adalah ide. Siswa perlu diberikan semangat dan informasi untuk menggugah ide-ide mereka. ”Sebetulnya dari permasalahan sederhana di kehidupan sehari-hari bisa diangkat untuk penelitian. Kemudian saat ada lomba tinggal diajukan,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/