alexametrics
25.2 C
Kudus
Thursday, May 26, 2022

Class Meeting, Strategi Efektif Perkenalan Antarsiswa saat Pandemi

SEKALIPUN pembelajaran tatap muka (PTM) sudah dilangsungkan, belum bisa dipastikan siswa dalam satu kelas saling mengenal. Sebab, selama PTM siswa hanya memiliki sedikit waktu di kelas.

Itu pun mereka dikondisikan berjenjang sesuai sesi dan menjaga jarak. Penggunaan masker juga membuat mereka tidak mudah mengenal wajah satu dengan yang lain. Sebagai guru, saya pun mengalami hal serupa. Tidak mudah mengenal wajah mereka.

Memang, sangat lama mereka tidak saling bertemu. Hampir dua tahun pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuat mereka terasing satu dengan yang lain. Karena merasa asing satu dengan yang lain, mereka kurang memiliki keberanian untuk saling mengenal ketika PTM sudah dilangsungkan.


Kondisi seperti ini wajar dialami siapa pun. Kalau sama-sama asing, orang tidak mudah cepat mengenal bukan? Selalu ada perasaan malu. Apalagi di kalangan siswa (anak-anak), perasaan malu masih sangat dominan. Perasaan malu yang sangat dominan membatasi mereka saling mengenal. Sekali pun sudah dimediasi, mereka tetap lambat untuk lebih mengenal satu dengan yang lain.

Saya menjumpai fakta tersebut di sekolah SMP 1 Mejobo, Kudus. Ketika saya bertanya kepada salah satu siswa mengenai pengenalannya terhadap teman sekelas, dia mengatakan masih banyak yang belum kenal.

Padahal, PTM sudah enam bulan berlangsung. Hal ini menandakan PTM selama ini belum efektif membangun perkenalan antarsiswa. Kenyataan tersebut wajar saja. Sebab, PTM yang berlangsung masih terbatas. Tidak hanya terbatas siswa masuk diatur dengan cara sif, tetapi juga terbatas waktu pembelajarannya.

Dengan begitu, waktu lebih banyak untuk proses pembelajaran materi. Siswa dan guru terbatas memasuki momen-momen yang bersifat sosialisasi satu dengan yang lain.

Namun, dalam pengamatan saya selama berlangsung class meeting di SMP 1 Mejobo yang dilaksanakan selepas siswa mengikuti penilaian akhir semester ganjil kemarin (PAS), perkenalan satu siswa dengan siswa yang lain cukup efektif. Hanya, karena selama ini class meeting selalu dihubungkan dengan kerumunan, maka kegiatan itu di sekolah kami saat pandemi dipilihkan yang tidak mengondisikan antarsiswa kontak fisik. Misalnya, paduan suara, rebana (kelompok kelas), senam kreasi, dan gerak lagu Tiktok.

Baca Juga :  Generasi Milenial Berburu Cuan Menggunakan Medsos

Aktivitas yang dilakukan secara berkelompok dengan tanpa kontak fisik tersebut, ternyata mampu mewujudkan perkenalan antarsiswa. Khususnya mereka yang ambil peran. Kita dapat membayangkan proses mereka berlatih dalam mengikuti aktivitas-aktivitas class meeting itu, dan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat, seperti memakai masker.

Mereka mendiskusikan dan memadukan gagasan-gagasan dan praktik-praktik yang mereka sepakati, agar memberikan hasil terbaik dalam class meeting.

Dengan begitu, mereka tidak hanya mengenal fisik, tetapi (akhirnya) juga mengenal sikap dan pemikiran satu dengan yang lain.

Umumnya, guru/wali kelas melibatkan siswa dalam class meeting secara merata. Satu siswa hanya mengikuti satu aktivitas dalam class meeting, sehingga sangat mungkin semua siswa ikut ambil bagian. Hal ini yang memungkinkan siswa mengenal satu dengan yang lain. Situasi class meeting yang tidak formal sangat mendukung perkenalan tersebut. Situasi seperti itu, sulit ditemukan dalam PTM selama ini.

Dalam class meeting, proses perkenalan juga terbentuk pada diri siswa yang menonton atau sebagai suporter. Sebab, sebagai penonton atau suporter, siswa memiliki sikap yang sama dalam mendukung teman satu kelasnya yang mengikuti kegiatan itu. Kesamaan sikap itu memungkinkan mereka cepat saling mengenal.

Tak hanya mengenal fisik, tetapi yang lebih dari itu adalah mengenal perasaan. Mereka memiliki empati yang sama dalam mendukung timnya. Semua suporter di tiap-tiap kelas melakukan hal seperti itu. Dengan begitu, ada proses perkenalan yang bersifat masif di kalangan siswa.

Setidaknya kenyataan itu dapat dibuktikan berdasarkan data survei. Survei dilakukan dengan Google Form dan disebarkan kepada siswa melalui grup WhatsApp kelas VII, VIII, dan IX seusai pelaksanaan class meeting. Ada 848 siswa (responden) yang memberikan respon.

Terhadap pernyataan ”Class meeting saat pandemi Covid-19 dapat meningkatkan jumlah siswa mengenal siswa lain,” 41,8 persen responden menyatakan sangat setuju; 50,6 persen merespon setuju; sisanya merespon kurang setuju dan tidak setuju. (*)

SEKALIPUN pembelajaran tatap muka (PTM) sudah dilangsungkan, belum bisa dipastikan siswa dalam satu kelas saling mengenal. Sebab, selama PTM siswa hanya memiliki sedikit waktu di kelas.

Itu pun mereka dikondisikan berjenjang sesuai sesi dan menjaga jarak. Penggunaan masker juga membuat mereka tidak mudah mengenal wajah satu dengan yang lain. Sebagai guru, saya pun mengalami hal serupa. Tidak mudah mengenal wajah mereka.

Memang, sangat lama mereka tidak saling bertemu. Hampir dua tahun pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuat mereka terasing satu dengan yang lain. Karena merasa asing satu dengan yang lain, mereka kurang memiliki keberanian untuk saling mengenal ketika PTM sudah dilangsungkan.

Kondisi seperti ini wajar dialami siapa pun. Kalau sama-sama asing, orang tidak mudah cepat mengenal bukan? Selalu ada perasaan malu. Apalagi di kalangan siswa (anak-anak), perasaan malu masih sangat dominan. Perasaan malu yang sangat dominan membatasi mereka saling mengenal. Sekali pun sudah dimediasi, mereka tetap lambat untuk lebih mengenal satu dengan yang lain.

Saya menjumpai fakta tersebut di sekolah SMP 1 Mejobo, Kudus. Ketika saya bertanya kepada salah satu siswa mengenai pengenalannya terhadap teman sekelas, dia mengatakan masih banyak yang belum kenal.

Padahal, PTM sudah enam bulan berlangsung. Hal ini menandakan PTM selama ini belum efektif membangun perkenalan antarsiswa. Kenyataan tersebut wajar saja. Sebab, PTM yang berlangsung masih terbatas. Tidak hanya terbatas siswa masuk diatur dengan cara sif, tetapi juga terbatas waktu pembelajarannya.

Dengan begitu, waktu lebih banyak untuk proses pembelajaran materi. Siswa dan guru terbatas memasuki momen-momen yang bersifat sosialisasi satu dengan yang lain.

Namun, dalam pengamatan saya selama berlangsung class meeting di SMP 1 Mejobo yang dilaksanakan selepas siswa mengikuti penilaian akhir semester ganjil kemarin (PAS), perkenalan satu siswa dengan siswa yang lain cukup efektif. Hanya, karena selama ini class meeting selalu dihubungkan dengan kerumunan, maka kegiatan itu di sekolah kami saat pandemi dipilihkan yang tidak mengondisikan antarsiswa kontak fisik. Misalnya, paduan suara, rebana (kelompok kelas), senam kreasi, dan gerak lagu Tiktok.

Baca Juga :  Pembelajaran Tatap Muka 100 Persen di Jepara Mulai Diberlakukan

Aktivitas yang dilakukan secara berkelompok dengan tanpa kontak fisik tersebut, ternyata mampu mewujudkan perkenalan antarsiswa. Khususnya mereka yang ambil peran. Kita dapat membayangkan proses mereka berlatih dalam mengikuti aktivitas-aktivitas class meeting itu, dan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat, seperti memakai masker.

Mereka mendiskusikan dan memadukan gagasan-gagasan dan praktik-praktik yang mereka sepakati, agar memberikan hasil terbaik dalam class meeting.

Dengan begitu, mereka tidak hanya mengenal fisik, tetapi (akhirnya) juga mengenal sikap dan pemikiran satu dengan yang lain.

Umumnya, guru/wali kelas melibatkan siswa dalam class meeting secara merata. Satu siswa hanya mengikuti satu aktivitas dalam class meeting, sehingga sangat mungkin semua siswa ikut ambil bagian. Hal ini yang memungkinkan siswa mengenal satu dengan yang lain. Situasi class meeting yang tidak formal sangat mendukung perkenalan tersebut. Situasi seperti itu, sulit ditemukan dalam PTM selama ini.

Dalam class meeting, proses perkenalan juga terbentuk pada diri siswa yang menonton atau sebagai suporter. Sebab, sebagai penonton atau suporter, siswa memiliki sikap yang sama dalam mendukung teman satu kelasnya yang mengikuti kegiatan itu. Kesamaan sikap itu memungkinkan mereka cepat saling mengenal.

Tak hanya mengenal fisik, tetapi yang lebih dari itu adalah mengenal perasaan. Mereka memiliki empati yang sama dalam mendukung timnya. Semua suporter di tiap-tiap kelas melakukan hal seperti itu. Dengan begitu, ada proses perkenalan yang bersifat masif di kalangan siswa.

Setidaknya kenyataan itu dapat dibuktikan berdasarkan data survei. Survei dilakukan dengan Google Form dan disebarkan kepada siswa melalui grup WhatsApp kelas VII, VIII, dan IX seusai pelaksanaan class meeting. Ada 848 siswa (responden) yang memberikan respon.

Terhadap pernyataan ”Class meeting saat pandemi Covid-19 dapat meningkatkan jumlah siswa mengenal siswa lain,” 41,8 persen responden menyatakan sangat setuju; 50,6 persen merespon setuju; sisanya merespon kurang setuju dan tidak setuju. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/