alexametrics
24.3 C
Kudus
Monday, July 25, 2022

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dalam Pembelajaran Tata Bahasa Arab

Dalam proses belajar mengajar yang menjadi harapan besar adalah tercapainya tujuan dari pembelajaran tersebut. Kemampuan guru dalam mengelola dan mengembangkan metode pembelajaran merupakan salah satu faktor yang erat kaitannya dengan upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Mardliyah bahwa Guru secara khusus sering diistilahkan sebagai “jiwa bagi tubuh” pendidikan. Pendidikan tidak akan berarti apa-apa tanpa kehadiran guru, apapun model kurikulum dan paradigma pendidikan yang berlaku, gurulah yang pada akhirnya akan menentukan tercapainya program tersebut (Mardliyah, 2015).

Untuk itu, pembelajaran sangat ditentukan oleh kiat masing-masing guru di kelas, tenaga pengajar yang profesional akan terukur dari kualitas pengelolaan kelas yang diasuhnya, sehingga mengantarkan siswanya mencapai hasil belajar yang optimal. Menurut Wahyuningsih, kegiatan pembelajaran dapat berlangsung baik dan menghasilkan sesuatu yang maksimal apabila terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa (Wahyuningsih, 2017). Namun, pada kenyatannya peran serta siswa belum terlibat maksimal dalam pembelajaran.

Di era millenial ini sudah saatnya guru mengubah paradigma lama tentang proses pembelajaran yang lebih dominan pada keaktifan guru dan kurang menggali kemampuan dan memberdayakan siswa. Dengan demikian, paradigma baru harus dimiliki oleh guru, yakni siswa harus lebih aktif dalam pembelajaran. Seiring dengan perkembangan zaman, metode pembelajaran mengalami suatu perubahan. Metode pembelajaran tradisional yang dahulu guru dalam memberikan pengetahuan melalui lisan atau ceramah, saat ini perlahan mulai ditinggalkan diganti dengan metode yang lebih modern. Seperti yang diharapkan pada kurikulum 2013 saat ini. Maka salah satu metode atau motode/model pembelajaran yang saat ini banyak mendapat respon baik di dunia pendidikan adalah model pembelajaran cooperative learning.


Pembelajaran Bahasa Arab terdiri dari ‘anashir al-lughah (unsur-unsur bahasa) dan maharah (keterampilan). Anashir al-lughah meliputi mufradat atau kosakata dan qawaid atau tata bahasa, sedangkan maharah (keterampilan) meliputi empat maharah yaitu istima’, kalam, qiraah dan kitabah. Tata bahasa atau qowa’id dalam pembelajaran bahasa Arab membahas tentang morfologi (shorof) dan sintaksis (nahwu). Qowa’id sebagai hal yang penting dalam pembelajaran Bahasa Arab, karena tanpa adanya qowa’id bahasa Arab sulit untuk dipahami.

Dalam pembelajaran tata bahasa Arab sering kali siswa mengalami kesulitan. Hal tersebut dikarenakan metode pembelajaran yang digunakan dalam menyampaikan materi yang kurang tepat sehingga siswa sulit untuk memahami materi tersebut. Dengan demikian, perlu adanya sebuah inovasi dalam pembelajaran yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

Menurut Suprihatin, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ialah pembelajaran yang dalam aplikasi pembelajarannya dibentuk beberapa kelompok kecil dalam setiap satu kelompok ada satu yang akan bertanggung jawab untuk menguasai pokok bahan materi belajar dan satu orang tersebut yang harus bertanggung jawab untuk membelajarkannya kepada kelompok lain dan kelompoknya (Suprihatin, 2017). Jadi, dengan adanya model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini diharapkan siswa mampu memahami materi pelajaran tata Bahasa Arab (Qowa’id) dengan mudah, karena dalam model pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif, mandiri, dan bertanggung jawab dalam materi yang telah diberikan. Guru sebagai fasilitator yang membimbing jalannya diskusi. Dari sinilah maka akan terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan juga siswa dengan siswa lainnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini guru harus memahami terlebih dahulu cara pengelompokan siswa yang bersifat heterogen baik dari segi jenis kelamin, ras, agama, tingkat kemampuan (tinggi, rendah, sedang), dan sebagainya.

Baca Juga :  Kualitas Pendidikan Karakter di Sekolah Masa Sekarang

Implementasi pembelajaran tata bahasa Arab (Qowa’id) dengan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Jigsaw menuntut siswa aktif dalam proses pembelajaran melalui diskusi dengan anggota kelompoknya masing-masing. Berikut ini langkah-langkah dalam pembelajaran tata bahasa Arab (Qowa’id) dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw: 1) menyusun rencana pembelajaran tata bahasa Arab (Qowa’id) dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw; 2) membuat dan menyiapkan bahan untuk pembelajaran tata Bahasa Arab (Qowa’id); 3) membentuk beberapa kelompok secara heterogen, tiap kelompok terdiri dari 4 orang; 4) memberikan materi pelajaran yang telah disiapkan sebelumya kepada siswa; 5)  menjelaskan tujuan dari pembelajaran terlebih dahulu; 6) setiap anggota kelompok membaca sub bab materi yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya; 7) anggota dari kelompok yang lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikannya; 8)  setelah diskusi setiap anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan materinya pada teman-temannya secara bergantian; 9) meminta dari salah satu siswa untuk memperesentasikan hasil diskusi; dan 10) memberikan evaluasi berupa tes tertulis untuk mengetahui pemahaman siswa.

Apabila langkah-langkah diatas dihubungkan dengan penggunaan indera dan ingatan siswa, maka tidak dapat diragukan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan dan memaksimalkan ingatan siswa. Karena metode ini menuntut siswa untuk aktif. Sangat banyak indera yang dilibatkan dalam belajar, yaitu mulai dari membaca dan menelaah materi, mendengarkan pendapat teman, menyanggah pendapat, mempertahankan pendapat dan mengajarkannya kepada angotanya serta di evaluasi secara individual. Inilah yang menjadi kelebihan dari model pembelajaran Jigsaw.

Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) dalam pembelajaran tata bahasa Arab, mengubah pesepsi siswa yang mana materi tata bahasa Arab (Qowa’id) yang mereka anggap sulit ternyata bisa menjadi mudah untuk difahami, karena proses belajar tersebut sangat menyenangkan yang melibatkan mereka untuk aktif, dan bebas dalam menyampaikan ide atau gagasan mereka dalam memecahkan sebuah masalah. Adanya hal tersebut dapat melatih kemampuan sosial mereka dengan berinteraksi antar sesama temannya maupun gurunya, dan melatih mereka untuk bermusyawarah. (*)

Dalam proses belajar mengajar yang menjadi harapan besar adalah tercapainya tujuan dari pembelajaran tersebut. Kemampuan guru dalam mengelola dan mengembangkan metode pembelajaran merupakan salah satu faktor yang erat kaitannya dengan upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Mardliyah bahwa Guru secara khusus sering diistilahkan sebagai “jiwa bagi tubuh” pendidikan. Pendidikan tidak akan berarti apa-apa tanpa kehadiran guru, apapun model kurikulum dan paradigma pendidikan yang berlaku, gurulah yang pada akhirnya akan menentukan tercapainya program tersebut (Mardliyah, 2015).

Untuk itu, pembelajaran sangat ditentukan oleh kiat masing-masing guru di kelas, tenaga pengajar yang profesional akan terukur dari kualitas pengelolaan kelas yang diasuhnya, sehingga mengantarkan siswanya mencapai hasil belajar yang optimal. Menurut Wahyuningsih, kegiatan pembelajaran dapat berlangsung baik dan menghasilkan sesuatu yang maksimal apabila terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa (Wahyuningsih, 2017). Namun, pada kenyatannya peran serta siswa belum terlibat maksimal dalam pembelajaran.

Di era millenial ini sudah saatnya guru mengubah paradigma lama tentang proses pembelajaran yang lebih dominan pada keaktifan guru dan kurang menggali kemampuan dan memberdayakan siswa. Dengan demikian, paradigma baru harus dimiliki oleh guru, yakni siswa harus lebih aktif dalam pembelajaran. Seiring dengan perkembangan zaman, metode pembelajaran mengalami suatu perubahan. Metode pembelajaran tradisional yang dahulu guru dalam memberikan pengetahuan melalui lisan atau ceramah, saat ini perlahan mulai ditinggalkan diganti dengan metode yang lebih modern. Seperti yang diharapkan pada kurikulum 2013 saat ini. Maka salah satu metode atau motode/model pembelajaran yang saat ini banyak mendapat respon baik di dunia pendidikan adalah model pembelajaran cooperative learning.

Pembelajaran Bahasa Arab terdiri dari ‘anashir al-lughah (unsur-unsur bahasa) dan maharah (keterampilan). Anashir al-lughah meliputi mufradat atau kosakata dan qawaid atau tata bahasa, sedangkan maharah (keterampilan) meliputi empat maharah yaitu istima’, kalam, qiraah dan kitabah. Tata bahasa atau qowa’id dalam pembelajaran bahasa Arab membahas tentang morfologi (shorof) dan sintaksis (nahwu). Qowa’id sebagai hal yang penting dalam pembelajaran Bahasa Arab, karena tanpa adanya qowa’id bahasa Arab sulit untuk dipahami.

Dalam pembelajaran tata bahasa Arab sering kali siswa mengalami kesulitan. Hal tersebut dikarenakan metode pembelajaran yang digunakan dalam menyampaikan materi yang kurang tepat sehingga siswa sulit untuk memahami materi tersebut. Dengan demikian, perlu adanya sebuah inovasi dalam pembelajaran yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

Menurut Suprihatin, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ialah pembelajaran yang dalam aplikasi pembelajarannya dibentuk beberapa kelompok kecil dalam setiap satu kelompok ada satu yang akan bertanggung jawab untuk menguasai pokok bahan materi belajar dan satu orang tersebut yang harus bertanggung jawab untuk membelajarkannya kepada kelompok lain dan kelompoknya (Suprihatin, 2017). Jadi, dengan adanya model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini diharapkan siswa mampu memahami materi pelajaran tata Bahasa Arab (Qowa’id) dengan mudah, karena dalam model pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif, mandiri, dan bertanggung jawab dalam materi yang telah diberikan. Guru sebagai fasilitator yang membimbing jalannya diskusi. Dari sinilah maka akan terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan juga siswa dengan siswa lainnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini guru harus memahami terlebih dahulu cara pengelompokan siswa yang bersifat heterogen baik dari segi jenis kelamin, ras, agama, tingkat kemampuan (tinggi, rendah, sedang), dan sebagainya.

Baca Juga :  Karakter Kejujuran Diuji di Era Pandemi

Implementasi pembelajaran tata bahasa Arab (Qowa’id) dengan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Jigsaw menuntut siswa aktif dalam proses pembelajaran melalui diskusi dengan anggota kelompoknya masing-masing. Berikut ini langkah-langkah dalam pembelajaran tata bahasa Arab (Qowa’id) dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw: 1) menyusun rencana pembelajaran tata bahasa Arab (Qowa’id) dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw; 2) membuat dan menyiapkan bahan untuk pembelajaran tata Bahasa Arab (Qowa’id); 3) membentuk beberapa kelompok secara heterogen, tiap kelompok terdiri dari 4 orang; 4) memberikan materi pelajaran yang telah disiapkan sebelumya kepada siswa; 5)  menjelaskan tujuan dari pembelajaran terlebih dahulu; 6) setiap anggota kelompok membaca sub bab materi yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya; 7) anggota dari kelompok yang lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikannya; 8)  setelah diskusi setiap anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan materinya pada teman-temannya secara bergantian; 9) meminta dari salah satu siswa untuk memperesentasikan hasil diskusi; dan 10) memberikan evaluasi berupa tes tertulis untuk mengetahui pemahaman siswa.

Apabila langkah-langkah diatas dihubungkan dengan penggunaan indera dan ingatan siswa, maka tidak dapat diragukan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan dan memaksimalkan ingatan siswa. Karena metode ini menuntut siswa untuk aktif. Sangat banyak indera yang dilibatkan dalam belajar, yaitu mulai dari membaca dan menelaah materi, mendengarkan pendapat teman, menyanggah pendapat, mempertahankan pendapat dan mengajarkannya kepada angotanya serta di evaluasi secara individual. Inilah yang menjadi kelebihan dari model pembelajaran Jigsaw.

Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) dalam pembelajaran tata bahasa Arab, mengubah pesepsi siswa yang mana materi tata bahasa Arab (Qowa’id) yang mereka anggap sulit ternyata bisa menjadi mudah untuk difahami, karena proses belajar tersebut sangat menyenangkan yang melibatkan mereka untuk aktif, dan bebas dalam menyampaikan ide atau gagasan mereka dalam memecahkan sebuah masalah. Adanya hal tersebut dapat melatih kemampuan sosial mereka dengan berinteraksi antar sesama temannya maupun gurunya, dan melatih mereka untuk bermusyawarah. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/