alexametrics
20.9 C
Kudus
Monday, July 25, 2022

Mendesain Pendidikan Siswa Madrasah melalui Metode Uswatun Hasanah

MENJELANG Era Society 5.0, menunjukkan banyaknya perilaku siswa yang tidak sesuai dengan harapan. Salah satunya adalah merosotnya karakter mereka dalam kehidupan di sekolah maupun di lingkungan masyarakat, di mana siswa itu tinggal (Baharun, 2017). Menurunnya sikap santun dan degradasi moral siswa disebabkan oleh tidak pahamnya siswa terhadap bagimana seharusnya dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyakarat di lingkungannya (Afriyanto & SS, 2019). Pendidikan menjadi media untuk membentuk karakter peserta didik, agar memiliki kepribadian yang tangguh dan memiliki ketahanan karakter. Dengan pendidikan, akan melahirkan kualitas individu yang mempunyai kehalusan budi, jiwa, kecemerlangan pikiran, kecekatan raga, dan kesadaran penciptaan dirinya. Apabila dibandingkan dengan faktor lainnya, pendidikan memberikan pengaruh besar guna membangun karakter (Munfaati, 2018)

Setidaknya, terdapat dua komponen yang paling utama dalam aktivitas pendidikan, yaitu; guru dan siswa. Guru disebut juga sebagai pendidik, orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan siswa yang harus dapat menggembangkan seluruh potensi peserta didik baik dari segi kognitif, psikomotorik maupun afektif (Munfaati, 2018). Dalam perspektif pedagogi reflektif, standar moralitas seorang guru menjadi bagian yang penting yang tidak bisa dilupakan. Hal ini dikarenakan ketika guru bersama siswa berproses dalam pembelajaran, selalu terjadi bimbingan, pendamping dan keteladanan yang bukan hanya masalah teknik operasional terkait pengelolaan kelas, melainkan juga proses pembentukan karakter (nilai) dalam diri siswa (Wardoyo, 2008).

Dalam hal ini guru mempunyai pengaruh penting dalam mendesain pendidikan karakter di madrasah. Guru adalah panutan, sehingga apapun yang dilakukan guru berdampak bagi perkembangan siswa. Keteladan guru merupakan cara terbaik yang akan memberikan dampak positif pada perkembangan dan mempengaruhi terbentuknya karakter serta kepribadian siswa di sekolah. mengingat pada usia ini merupakan golden age dan mereka memiliki memori yang kuat untuk mengingat setiap hal yang dilihat dan dirasakannya sehingga secara tidak langsung terbawa kepada kehidupan sehari-hari mereka.


Keteladanan adalah kebiasaan dalam bentuk, perilaku, kepribadian, serta tutur kata, sehari-hari. Seperti, berbahasa baik, berpakaian baik, serta datang tepat waktu (Amri et al., 2020). Keteladanan guru merupakan contoh baik yang diberikan guru, baik itu itu sikap, perilaku, tutur kata, mental, atau yang berhubungan dengan akhlak dan moral yang patut di contoh oleh siswa yang dalam figur islam, contoh baik berdasarkan pada Rasulullah SAW, yang dikenal dengan, istilah uswatun hasanah yang berarti, contoh baik.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari yaitu: sikap dasar, kebiasaan bekerja, gaya bicara, pakaian, sikap melalui pengalaman dan kesalahan, hubungan kemanusiaan, perilaku neurotis, proses berpikir, selera, keputusan, kesehatan, dan gaya hidup secara umum (Hakim, 2019). Guru yang baik adalah guru yang menyadari kesenjangan antara apa yang disampaikan dengan apa yang dilakukannya dan menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Karena secara umum guru harus memiliki sifat-sifat baik disamping keilmuan yang dimiliki dan mendidik serta memimpin siswanya dengan keselarasan penuh antara ucapan dan tindakan. Fungsi ucapan adalah, alat komunikasi, penyampaian pemahaman. Tindakan adalah, wujud nyata dari pelaksanaan kata-kata secara bersamaan antara guru dan murid, yang diwujudkan secara output, seperti prestasi, hasil karya dan bentuk-bentuk keberhasilan lainnya. Di sinilah, guru sebagai pemimpin maupun sumber belajar, dan fasilitator. Serta bisa meneladani keberhasilan secara nyata kepada siswanya.

Baca Juga :  Teknologi sebagai Media Penunjang Keberhasilan Belajar

Pada dasarnya desain pendidikan karakter di madrasah dapat diimplementasikan dalam semua aspek di madrasah. Ada empat cara yang bisa ditempuh untuk penerapannya, yaitu ; pertama menerapkan kepada setiap pelajaran sekolah, baik pelajaran wajib atau muatan lokal. Kedua, menerapkan di kegiatan harian non pelajaran seperti, upacara wajib, upacara hari-hari besar, upacara keagamaan, dan acara bersifat insidental. Ketiga, merencanakan di program madrasah, jangka panjang dan pendek. Dan keempat, mensosialisasikan ke seluruh elemen madrasah. Terutama, keluarga siswa. Dengan begitu, penerapan pendidikan karakter, dapat diterapkan.

Madrasah menjadi tempat yang cukup ideal setelah keluarga untuk proses internalisasi pendidikan karakter. Dengan hal itu, sebagai elemen paling utama, kunci keberhasilan pembelajaran bagi siswa adalah guru. Guru mempunyai kesempatan untuk melihat, berinteraksi, menilai, mengevaluasi, dan mengarahkan siswa sesuai tuntutan kurikulum di sekolah. oleh karena itu, guru menjadi kunci utama dari tercapainya program dalam proses internalisasi pendidikan karakter di madrasah.

Keberhasilan dalam mendesain pendidikan karakter di madrasah, bergantung penuh pada bagaimana cara guru mengelola kelas, berkomunikasi dengan siswa dan pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari, dalam artian di samping memberikan teori-teori guru juga harus mampu menjadi teladan yang patut ditiru oleh siswa. Guru adalah panutan apapun yang dilakukan guru, menjadi contoh siswa. Sehingga dapat berdampak pada perkembangan siswa. Oleh karena itu, internalisasi pendidikan karakter pada anak di masa golden age mengingat mereka adalah peniru yang handal, keteladanan guru dirasa efektif dalam proses internalisasi pendidikan karakter di madrasah. (*)

MENJELANG Era Society 5.0, menunjukkan banyaknya perilaku siswa yang tidak sesuai dengan harapan. Salah satunya adalah merosotnya karakter mereka dalam kehidupan di sekolah maupun di lingkungan masyarakat, di mana siswa itu tinggal (Baharun, 2017). Menurunnya sikap santun dan degradasi moral siswa disebabkan oleh tidak pahamnya siswa terhadap bagimana seharusnya dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyakarat di lingkungannya (Afriyanto & SS, 2019). Pendidikan menjadi media untuk membentuk karakter peserta didik, agar memiliki kepribadian yang tangguh dan memiliki ketahanan karakter. Dengan pendidikan, akan melahirkan kualitas individu yang mempunyai kehalusan budi, jiwa, kecemerlangan pikiran, kecekatan raga, dan kesadaran penciptaan dirinya. Apabila dibandingkan dengan faktor lainnya, pendidikan memberikan pengaruh besar guna membangun karakter (Munfaati, 2018)

Setidaknya, terdapat dua komponen yang paling utama dalam aktivitas pendidikan, yaitu; guru dan siswa. Guru disebut juga sebagai pendidik, orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan siswa yang harus dapat menggembangkan seluruh potensi peserta didik baik dari segi kognitif, psikomotorik maupun afektif (Munfaati, 2018). Dalam perspektif pedagogi reflektif, standar moralitas seorang guru menjadi bagian yang penting yang tidak bisa dilupakan. Hal ini dikarenakan ketika guru bersama siswa berproses dalam pembelajaran, selalu terjadi bimbingan, pendamping dan keteladanan yang bukan hanya masalah teknik operasional terkait pengelolaan kelas, melainkan juga proses pembentukan karakter (nilai) dalam diri siswa (Wardoyo, 2008).

Dalam hal ini guru mempunyai pengaruh penting dalam mendesain pendidikan karakter di madrasah. Guru adalah panutan, sehingga apapun yang dilakukan guru berdampak bagi perkembangan siswa. Keteladan guru merupakan cara terbaik yang akan memberikan dampak positif pada perkembangan dan mempengaruhi terbentuknya karakter serta kepribadian siswa di sekolah. mengingat pada usia ini merupakan golden age dan mereka memiliki memori yang kuat untuk mengingat setiap hal yang dilihat dan dirasakannya sehingga secara tidak langsung terbawa kepada kehidupan sehari-hari mereka.

Keteladanan adalah kebiasaan dalam bentuk, perilaku, kepribadian, serta tutur kata, sehari-hari. Seperti, berbahasa baik, berpakaian baik, serta datang tepat waktu (Amri et al., 2020). Keteladanan guru merupakan contoh baik yang diberikan guru, baik itu itu sikap, perilaku, tutur kata, mental, atau yang berhubungan dengan akhlak dan moral yang patut di contoh oleh siswa yang dalam figur islam, contoh baik berdasarkan pada Rasulullah SAW, yang dikenal dengan, istilah uswatun hasanah yang berarti, contoh baik.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari yaitu: sikap dasar, kebiasaan bekerja, gaya bicara, pakaian, sikap melalui pengalaman dan kesalahan, hubungan kemanusiaan, perilaku neurotis, proses berpikir, selera, keputusan, kesehatan, dan gaya hidup secara umum (Hakim, 2019). Guru yang baik adalah guru yang menyadari kesenjangan antara apa yang disampaikan dengan apa yang dilakukannya dan menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Karena secara umum guru harus memiliki sifat-sifat baik disamping keilmuan yang dimiliki dan mendidik serta memimpin siswanya dengan keselarasan penuh antara ucapan dan tindakan. Fungsi ucapan adalah, alat komunikasi, penyampaian pemahaman. Tindakan adalah, wujud nyata dari pelaksanaan kata-kata secara bersamaan antara guru dan murid, yang diwujudkan secara output, seperti prestasi, hasil karya dan bentuk-bentuk keberhasilan lainnya. Di sinilah, guru sebagai pemimpin maupun sumber belajar, dan fasilitator. Serta bisa meneladani keberhasilan secara nyata kepada siswanya.

Baca Juga :  Dosen Unisnu Jepara Kenalkan Pembelajaran Tahfiz Berbasis Digital

Pada dasarnya desain pendidikan karakter di madrasah dapat diimplementasikan dalam semua aspek di madrasah. Ada empat cara yang bisa ditempuh untuk penerapannya, yaitu ; pertama menerapkan kepada setiap pelajaran sekolah, baik pelajaran wajib atau muatan lokal. Kedua, menerapkan di kegiatan harian non pelajaran seperti, upacara wajib, upacara hari-hari besar, upacara keagamaan, dan acara bersifat insidental. Ketiga, merencanakan di program madrasah, jangka panjang dan pendek. Dan keempat, mensosialisasikan ke seluruh elemen madrasah. Terutama, keluarga siswa. Dengan begitu, penerapan pendidikan karakter, dapat diterapkan.

Madrasah menjadi tempat yang cukup ideal setelah keluarga untuk proses internalisasi pendidikan karakter. Dengan hal itu, sebagai elemen paling utama, kunci keberhasilan pembelajaran bagi siswa adalah guru. Guru mempunyai kesempatan untuk melihat, berinteraksi, menilai, mengevaluasi, dan mengarahkan siswa sesuai tuntutan kurikulum di sekolah. oleh karena itu, guru menjadi kunci utama dari tercapainya program dalam proses internalisasi pendidikan karakter di madrasah.

Keberhasilan dalam mendesain pendidikan karakter di madrasah, bergantung penuh pada bagaimana cara guru mengelola kelas, berkomunikasi dengan siswa dan pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari, dalam artian di samping memberikan teori-teori guru juga harus mampu menjadi teladan yang patut ditiru oleh siswa. Guru adalah panutan apapun yang dilakukan guru, menjadi contoh siswa. Sehingga dapat berdampak pada perkembangan siswa. Oleh karena itu, internalisasi pendidikan karakter pada anak di masa golden age mengingat mereka adalah peniru yang handal, keteladanan guru dirasa efektif dalam proses internalisasi pendidikan karakter di madrasah. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/