alexametrics
25.3 C
Kudus
Thursday, June 30, 2022

Membangun Karakter Anak dengan Kebiasaan yang Positif

MENANAMKAN karakter anak sejak usia dini merupakan salah satu  faktor terpenting bagi kesuksesan anak di masa depan. Kesuksesan anak di masa depan tidak hanya di tentukan oleh ilmu pengetahuan yang ia dapatkan saja, akan tetapi lebih cenderung di tentukan oleh kemampuan dalam mengelola diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya (soft skill), membangun karakter bukanlah merupakan produk yang instan, yang langsung bisa di rasakan setelah sesaat pendidikan tersebut di berikan.

Pendidikan membangun karakter sedari usia dini merupakan proses yang sangat panjang yang harus kita mulai sejak dini pada anak-anak  dan baru akan kita rasakan hasilnya setelah anak-anak tersebut tumbuh dewasa.Pendidikan karakter itu sendiri merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualdan kepribadian seseorang. Oleh sebab itu, pendidikan karakter atau pendidikan moral itu merupakan bagian terpenting dalam membangun jati diri anak.

Anak merupakan tunas-tunas berpotensi, generasi penerus bansa yang merupakan variable (unsur) yang ikut berperan menentukan perubahan dari kelangsungan hidup keluarga, masyarakat, bangsa, Negara, dan agama. Oleh karena itu anak perlu di bekali dengan penghidupan dan pendidikan yang bermoral dan berkwalitas, sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat, berkembang secara optimal, mental, social, dan berkepribadian yang luhur.Agar tumbuh dengan kepribadian yang baik, anak membutuhkan bantuan dari orang yang dewasa dalam mendapatkan stimulus, pembelajarandan pendidikan dalam sebuah proses yang bersistem dan berkesinambungan. Namun demikian mereka juga adalah individu yang memiliki pola perkembangan dan kebutuhan tertentu yang berbeda dengan orang dewasa, sehingga mereka tidak bisa diperlakukan selayaknya orang dewasa.


Untuk itu pembiasaan-pembiasaan yang positif sehari-hari sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai yang positif juga ke dalam diri pribadi anak didik kita, baik pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Selain itu juga dengan pembiasaan di nilai  sangat efisien dalam mengubah kebiasaan-kebiasaan negatif anak menjadi kebiasaan yang positif. Pembiasaan ini akan lebihberhasil manakala di iringi dengan contoh-contoh yang kongkrit dan nyata dalam kehidupannya sehar-hari. Teladan yang baik dari keluarga itu sendiri, dari sekolah, dan dari lingkungan tempat anak tinggal sangat berpengaruh terhadap perkembangan jati diri anak.

Baca Juga :  Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Karakter Anak

Sebagai orang tua sering kali tidak sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan, yang menurutnya baik (karena begitu juga yang di lakukan oleh orang tua pendahulunya) belum tentu baik untuk perkembangan moral anak, terkadang malah menjerumuskan anak dan menghancurkan potensi anak-anak mereka.

Kebiasaan-kebiasaan orang tua seperti memarahi, memukul, menekan, membentak, menyakiti baik secara fisik maupun psikis, pemberian label yang tidak baik, pada akhirnya justru akan menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri, minder, penakut, tidak berani mengambil resiko, kasar, tidak tahu sopan santun dan tata karma, anti sosial, bertindak semaunya sendiri dan sebagainya.

Semua itu akan dibawanya sampai dewasa kelak. Ketika dewasa karakter semacam ini akan menghambat dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Semisal manakala mereka ingin mengikuti seleksi dalam pekerjaan menjadi public speaker atau presenter harus gagal karena minder dan tidak punya rasa percaya diri, atau mencari pekerjaan di profesi lainnya seringkali tidak sukses hanya karena minder, berperilaku kasar, tidak bertanggung jawab, berlaku dan bertindak tidak punya tata karma dan sejenisnya yang bisa menghambat mereka dalam meraih cita-citanya. Demikian juga halnya tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal, padahal, jika bersikap positif maka resiko bisa di ubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. (*)

MENANAMKAN karakter anak sejak usia dini merupakan salah satu  faktor terpenting bagi kesuksesan anak di masa depan. Kesuksesan anak di masa depan tidak hanya di tentukan oleh ilmu pengetahuan yang ia dapatkan saja, akan tetapi lebih cenderung di tentukan oleh kemampuan dalam mengelola diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya (soft skill), membangun karakter bukanlah merupakan produk yang instan, yang langsung bisa di rasakan setelah sesaat pendidikan tersebut di berikan.

Pendidikan membangun karakter sedari usia dini merupakan proses yang sangat panjang yang harus kita mulai sejak dini pada anak-anak  dan baru akan kita rasakan hasilnya setelah anak-anak tersebut tumbuh dewasa.Pendidikan karakter itu sendiri merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualdan kepribadian seseorang. Oleh sebab itu, pendidikan karakter atau pendidikan moral itu merupakan bagian terpenting dalam membangun jati diri anak.

Anak merupakan tunas-tunas berpotensi, generasi penerus bansa yang merupakan variable (unsur) yang ikut berperan menentukan perubahan dari kelangsungan hidup keluarga, masyarakat, bangsa, Negara, dan agama. Oleh karena itu anak perlu di bekali dengan penghidupan dan pendidikan yang bermoral dan berkwalitas, sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat, berkembang secara optimal, mental, social, dan berkepribadian yang luhur.Agar tumbuh dengan kepribadian yang baik, anak membutuhkan bantuan dari orang yang dewasa dalam mendapatkan stimulus, pembelajarandan pendidikan dalam sebuah proses yang bersistem dan berkesinambungan. Namun demikian mereka juga adalah individu yang memiliki pola perkembangan dan kebutuhan tertentu yang berbeda dengan orang dewasa, sehingga mereka tidak bisa diperlakukan selayaknya orang dewasa.

Untuk itu pembiasaan-pembiasaan yang positif sehari-hari sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai yang positif juga ke dalam diri pribadi anak didik kita, baik pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Selain itu juga dengan pembiasaan di nilai  sangat efisien dalam mengubah kebiasaan-kebiasaan negatif anak menjadi kebiasaan yang positif. Pembiasaan ini akan lebihberhasil manakala di iringi dengan contoh-contoh yang kongkrit dan nyata dalam kehidupannya sehar-hari. Teladan yang baik dari keluarga itu sendiri, dari sekolah, dan dari lingkungan tempat anak tinggal sangat berpengaruh terhadap perkembangan jati diri anak.

Baca Juga :  Tembus Hutan 5 Kilometer, Wira-wiri Rembang-Blora

Sebagai orang tua sering kali tidak sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan, yang menurutnya baik (karena begitu juga yang di lakukan oleh orang tua pendahulunya) belum tentu baik untuk perkembangan moral anak, terkadang malah menjerumuskan anak dan menghancurkan potensi anak-anak mereka.

Kebiasaan-kebiasaan orang tua seperti memarahi, memukul, menekan, membentak, menyakiti baik secara fisik maupun psikis, pemberian label yang tidak baik, pada akhirnya justru akan menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri, minder, penakut, tidak berani mengambil resiko, kasar, tidak tahu sopan santun dan tata karma, anti sosial, bertindak semaunya sendiri dan sebagainya.

Semua itu akan dibawanya sampai dewasa kelak. Ketika dewasa karakter semacam ini akan menghambat dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Semisal manakala mereka ingin mengikuti seleksi dalam pekerjaan menjadi public speaker atau presenter harus gagal karena minder dan tidak punya rasa percaya diri, atau mencari pekerjaan di profesi lainnya seringkali tidak sukses hanya karena minder, berperilaku kasar, tidak bertanggung jawab, berlaku dan bertindak tidak punya tata karma dan sejenisnya yang bisa menghambat mereka dalam meraih cita-citanya. Demikian juga halnya tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal, padahal, jika bersikap positif maka resiko bisa di ubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/