alexametrics
28.4 C
Kudus
Saturday, May 28, 2022

”Sobat Ambyar” Merdeka Belajar

KI Hajar Dewantara (KHD) mengemukakan, kemerdekaan atau kebebasan pendidikan memiliki tiga macam sifat. Yaitu, berdiri sendiri (zelfstanding), tidak bergantung pada orang lain (onafhankelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheldzelfbeschikking).

Pernyataan KHD tersebut, menyiratkan bahwa kemandirian dan upaya untuk senantiasa memerdekakan diri adalah tujuan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan. Merdeka belajar seharusnya melandasi seluruh kebijakan pendidikan baik di tingkat nasional, maupun di konteks yang mikro, yaitu di ruang-ruang kelas hingga keluarga.

Merdeka belajar bukan konsep baru. Lalu mengapa sekarang baru ramai? Karena Kemendikbud Ristek kembali menguatkan pesan yang begitu mendalam ini. Merujuk pada perkembangan reformasi kurikulum negara lain dan juga kurikulum yang diterapkan multinasional. Selain itu, karena perubahan dalam kurikulum mengarah pada penguatan kompetensi lintas disiplin ilmu atau yang dikenal juga dengan istilah-istilah, seperti transversal skills, general capabilities, 21st Century skills, global competencies, dan sebagainya.


Kurikulum semakin mengarah pada pengintegrasian dan penguatan interkoneksi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan disposisi dari beberapa disiplin ilmu. Dengan kata lain, kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi menyiratkan lebih dari sekadar perolehan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga melibatkan mobilisasi akan pengetahuan, keterampilan, sikap, serta nilai-nilai ketika menghadapi tuntutan yang kompleks.

Konsep merdeka dan belajar menurut hemat penulis, dapat dipersepsikan sebagai upaya untuk menciptakan suatu lingkungan belajar yang bebas untuk berekspresi. Juga bebas dari berbagai hambatan terutama tekanan psikologis.

Siapa saja sih sobat ambyar yang dimaksud? Sobat yang pertama adalah guru yang memiliki kebebasan dapat memaksimalkan pembelajaran guna mencapai tujuan (goal oriented) pendidikan nasional. Namun, tetap dalam rambu kaidah kurikulum.

Kedua, siswa yang bebas untuk berekspresi selama menempuh proses pembelajaran di sekolah. Namun, tetap mengikuti kaidah aturan di sekolah. Siswa bisa lebih mandiri, bisa lebih banyak belajar untuk mendapatkan suatu kepandaian, dan hasil dari proses pembelajaran tersebut siswa berubah secara pengetahuan, pemahaman, sikap/karakter, tingkah laku, keterampilan, dan daya reaksinya. Sejalan dengan apa yang diamanatkan dalam tujuan UU Sisdiknas Tahun 2003. Yakni, untuk mengembangkan potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Baca Juga :  Peringatan Maulid Nabi Bangun Nilai Religius Peserta Didik

Ketiga, sekolah. Dengan segala kewenangan yang dimilikinya tidak dapat mengubah apapun yang sudah ditanamkan kelurga dalam diri sang anak. Sekolah hanya berperan melanjutkan dan memoles kemampuan dan kecerdasan moral, spiritual, intelektual, serta sosial yang sudah bertumbuh dalam diri sang anak.

Terakhir, keluarga. Ini yang berkontribusi pertama, bagaimana orang tua berusaha mebiasakan anaknya untuk menguasai cara-cara merawat diri, cara berkomunikasi dan beinteraksi dengan sesama, cara berdoa atau beribadah, serta cara menemukan ilmu pengetahuan dan mengasah keterampilan yang berguna demi kehidupannya.

Kedua, bagaimana orang tua bersikap, sehingga mempengaruhi perkembangan karakter anak. Sikap menerima ataupun menolak, menghargai/mencintai ataupun menolak/membenci, sikap iba ataupun acuh tak acuh, sabar ataupun tergesa-gesa, sikap melindungi ataupun membiarkan, secara langsung akan mempengaruhi pertumbuhan aspek emosional, intelektual, moral, spiritual, dan sosial sang anak.

Untuk itu, jika keluarga berperan sebaliknya, yaitu tidak menyediakan situasi belajar yang baik bagi anaknya, atau bahkan menanamkan kebencian dan nilai-nilai yang ekslusif, anak akan bertumbuh menjadi pribadi yang egoistis dan antisosial. (*)

KI Hajar Dewantara (KHD) mengemukakan, kemerdekaan atau kebebasan pendidikan memiliki tiga macam sifat. Yaitu, berdiri sendiri (zelfstanding), tidak bergantung pada orang lain (onafhankelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheldzelfbeschikking).

Pernyataan KHD tersebut, menyiratkan bahwa kemandirian dan upaya untuk senantiasa memerdekakan diri adalah tujuan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan. Merdeka belajar seharusnya melandasi seluruh kebijakan pendidikan baik di tingkat nasional, maupun di konteks yang mikro, yaitu di ruang-ruang kelas hingga keluarga.

Merdeka belajar bukan konsep baru. Lalu mengapa sekarang baru ramai? Karena Kemendikbud Ristek kembali menguatkan pesan yang begitu mendalam ini. Merujuk pada perkembangan reformasi kurikulum negara lain dan juga kurikulum yang diterapkan multinasional. Selain itu, karena perubahan dalam kurikulum mengarah pada penguatan kompetensi lintas disiplin ilmu atau yang dikenal juga dengan istilah-istilah, seperti transversal skills, general capabilities, 21st Century skills, global competencies, dan sebagainya.

Kurikulum semakin mengarah pada pengintegrasian dan penguatan interkoneksi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan disposisi dari beberapa disiplin ilmu. Dengan kata lain, kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi menyiratkan lebih dari sekadar perolehan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga melibatkan mobilisasi akan pengetahuan, keterampilan, sikap, serta nilai-nilai ketika menghadapi tuntutan yang kompleks.

Konsep merdeka dan belajar menurut hemat penulis, dapat dipersepsikan sebagai upaya untuk menciptakan suatu lingkungan belajar yang bebas untuk berekspresi. Juga bebas dari berbagai hambatan terutama tekanan psikologis.

Siapa saja sih sobat ambyar yang dimaksud? Sobat yang pertama adalah guru yang memiliki kebebasan dapat memaksimalkan pembelajaran guna mencapai tujuan (goal oriented) pendidikan nasional. Namun, tetap dalam rambu kaidah kurikulum.

Kedua, siswa yang bebas untuk berekspresi selama menempuh proses pembelajaran di sekolah. Namun, tetap mengikuti kaidah aturan di sekolah. Siswa bisa lebih mandiri, bisa lebih banyak belajar untuk mendapatkan suatu kepandaian, dan hasil dari proses pembelajaran tersebut siswa berubah secara pengetahuan, pemahaman, sikap/karakter, tingkah laku, keterampilan, dan daya reaksinya. Sejalan dengan apa yang diamanatkan dalam tujuan UU Sisdiknas Tahun 2003. Yakni, untuk mengembangkan potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Baca Juga :  Metode Pembelajaran “Blended Learning” di Masa Pandemi

Ketiga, sekolah. Dengan segala kewenangan yang dimilikinya tidak dapat mengubah apapun yang sudah ditanamkan kelurga dalam diri sang anak. Sekolah hanya berperan melanjutkan dan memoles kemampuan dan kecerdasan moral, spiritual, intelektual, serta sosial yang sudah bertumbuh dalam diri sang anak.

Terakhir, keluarga. Ini yang berkontribusi pertama, bagaimana orang tua berusaha mebiasakan anaknya untuk menguasai cara-cara merawat diri, cara berkomunikasi dan beinteraksi dengan sesama, cara berdoa atau beribadah, serta cara menemukan ilmu pengetahuan dan mengasah keterampilan yang berguna demi kehidupannya.

Kedua, bagaimana orang tua bersikap, sehingga mempengaruhi perkembangan karakter anak. Sikap menerima ataupun menolak, menghargai/mencintai ataupun menolak/membenci, sikap iba ataupun acuh tak acuh, sabar ataupun tergesa-gesa, sikap melindungi ataupun membiarkan, secara langsung akan mempengaruhi pertumbuhan aspek emosional, intelektual, moral, spiritual, dan sosial sang anak.

Untuk itu, jika keluarga berperan sebaliknya, yaitu tidak menyediakan situasi belajar yang baik bagi anaknya, atau bahkan menanamkan kebencian dan nilai-nilai yang ekslusif, anak akan bertumbuh menjadi pribadi yang egoistis dan antisosial. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/