alexametrics
32.3 C
Kudus
Monday, May 16, 2022

Perubahan Kebutuhan Pelajar di Masa Pandemi

KEBUTUHAN manusia sangat beranekaragam dan bersifat tidak terbatas. Ketidakterbatasan ini dikarenakan manusia selalu merasa kekurangan dan menginginkan kemakmuran. Setiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda satu sama lain. Perbedaan kebutuhan tersebut disebabkan oleh perbedaan pendidikan, pendapatan, kondisi alam, adat istiadat, lingkungan, agama, dan perkembangan zaman. Kebutuhan manusia sering kali mengalami perubahan, yang semula suatu benda merupakan kebutuhan sekunder, suatu saat menjadi kebutuhan primer. Perubahan kebutuhan dapat terjadi  karena adanya perubahan sosial pada masyarakat.

Pandemi telah memberikan dampak yang signifikan kepada seluruh masyarakat. Pandemi menuntut masyarakat untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar kegiatan masyarakat dilakukan secara online. Secara tidak langsung, pandemi telah mengubah dan memunculkan kebutuhan baru masyarakat. Sebagai contoh, munculnya online shop, yang mengubah cara berbelanja masyarakat. Aktivitas perdagangan banyak dilakukan secara online. Mereka yang tidak pernah berbelanja online, harus berbelanja online dan mereka yang sudah berbelana online, meningkatkan volume berbelanjanya. Pandemi juga menyebabkan terjadinya kelangkaan pada kebutuhan dasar masyarakat di Indonesia karena panic buying. Peristiwa kelangkaan barang kebutuhan dasar berawal dari kekhawatiran orang-orang akan kehabisan kebutuhan barang dasar.

Pandemi juga berpengaruh terhadap kegiatan di bidang pendidikan. Hal tersebut membuat pemerintah mengambil keputusan untuk memindahkan proses pembelajaran dari sekolah menjadi di rumah. Dengan tetap di rumah, anak-anak tetap bisa mendapatkan informasi mengenai pembelajaran atau pendidikan. Kegiatan pembelajaran harus dilakukan dalam jarak jauh atau yang dikenal dengan sebutan daring (dalam jaringan). Untuk melaksanakan pembelajaran daring diperlukan sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran daring, yaitu berupa HP, kuota, dan internet. Tiga hal tersebut merupakan tiga sejoli yang tidak dapat dipisahkan dan harus ada dalam pembelajaran daring.

Baca Juga :  Tantangan Guru di Era Digital

Kondisi ini menyebabkan kebutuhan anak-anak (pelajar) mengalami perubahan. Yang semula kebutuhan primer pelajar adalah peralatan tulis, seperti: buku, pensil, bolpoin, penggaris, dan sebagainya. Tetapi selama pandemi kebutuhan primer pelajar tidak hanya peralatan tulis tetapi muncul kebutuhan baru yaitu HP, kuota, dan internet.  Sebelum pandemi HP, kuota, dan internet bagi pelajar merupakan kebutuhan tersier. Namun pada masa pandemi, HP, kuota, dan internet merupakan kebutuhan primer. Tanpa HP, kuota, dan internet, pelajar tidak dapat mengikuti pembelajaran daring yang dilaksanakan oleh sekolah.

Pelaksanaan pembelajaran daring bukan tanpa masalah, karena masih banyak faktor yang menghambat terlaksananya pembelajaran daring. Salah satunya adalah belum semua orang tua mempunyai pemahaman terhadap pembelajaran daring dan mampu memberikan fasilitas teknologi kepada anak-anaknya. Selain itu, jaringan yang tidak stabil karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler juga masalah tersendiri karena pembelajaran daring tidak dapat terlepas dari penggunaan jaringan internet.

Jadi bergesernya perilaku manusia seperti yang terjadi saat ini, akan memberikan akibat positf dan negatif. Positifnya adalah dapat mempermudah menyelesaikan urusan. Kebutuhan manusia dapat dipenuhi ketika berada di rumah, termasuk kebutuhan pendidikan yang dapat diakses kapan saja. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap bergesernya kebutuhan, dari sekunder atau tersier ke primer atau sebaliknya. (*)

KEBUTUHAN manusia sangat beranekaragam dan bersifat tidak terbatas. Ketidakterbatasan ini dikarenakan manusia selalu merasa kekurangan dan menginginkan kemakmuran. Setiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda satu sama lain. Perbedaan kebutuhan tersebut disebabkan oleh perbedaan pendidikan, pendapatan, kondisi alam, adat istiadat, lingkungan, agama, dan perkembangan zaman. Kebutuhan manusia sering kali mengalami perubahan, yang semula suatu benda merupakan kebutuhan sekunder, suatu saat menjadi kebutuhan primer. Perubahan kebutuhan dapat terjadi  karena adanya perubahan sosial pada masyarakat.

Pandemi telah memberikan dampak yang signifikan kepada seluruh masyarakat. Pandemi menuntut masyarakat untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar kegiatan masyarakat dilakukan secara online. Secara tidak langsung, pandemi telah mengubah dan memunculkan kebutuhan baru masyarakat. Sebagai contoh, munculnya online shop, yang mengubah cara berbelanja masyarakat. Aktivitas perdagangan banyak dilakukan secara online. Mereka yang tidak pernah berbelanja online, harus berbelanja online dan mereka yang sudah berbelana online, meningkatkan volume berbelanjanya. Pandemi juga menyebabkan terjadinya kelangkaan pada kebutuhan dasar masyarakat di Indonesia karena panic buying. Peristiwa kelangkaan barang kebutuhan dasar berawal dari kekhawatiran orang-orang akan kehabisan kebutuhan barang dasar.

Pandemi juga berpengaruh terhadap kegiatan di bidang pendidikan. Hal tersebut membuat pemerintah mengambil keputusan untuk memindahkan proses pembelajaran dari sekolah menjadi di rumah. Dengan tetap di rumah, anak-anak tetap bisa mendapatkan informasi mengenai pembelajaran atau pendidikan. Kegiatan pembelajaran harus dilakukan dalam jarak jauh atau yang dikenal dengan sebutan daring (dalam jaringan). Untuk melaksanakan pembelajaran daring diperlukan sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran daring, yaitu berupa HP, kuota, dan internet. Tiga hal tersebut merupakan tiga sejoli yang tidak dapat dipisahkan dan harus ada dalam pembelajaran daring.

Baca Juga :  Gaet Suara Pemula, Guru Besar UIN Harap Golkar Angkat Isu Pendidikan

Kondisi ini menyebabkan kebutuhan anak-anak (pelajar) mengalami perubahan. Yang semula kebutuhan primer pelajar adalah peralatan tulis, seperti: buku, pensil, bolpoin, penggaris, dan sebagainya. Tetapi selama pandemi kebutuhan primer pelajar tidak hanya peralatan tulis tetapi muncul kebutuhan baru yaitu HP, kuota, dan internet.  Sebelum pandemi HP, kuota, dan internet bagi pelajar merupakan kebutuhan tersier. Namun pada masa pandemi, HP, kuota, dan internet merupakan kebutuhan primer. Tanpa HP, kuota, dan internet, pelajar tidak dapat mengikuti pembelajaran daring yang dilaksanakan oleh sekolah.

Pelaksanaan pembelajaran daring bukan tanpa masalah, karena masih banyak faktor yang menghambat terlaksananya pembelajaran daring. Salah satunya adalah belum semua orang tua mempunyai pemahaman terhadap pembelajaran daring dan mampu memberikan fasilitas teknologi kepada anak-anaknya. Selain itu, jaringan yang tidak stabil karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler juga masalah tersendiri karena pembelajaran daring tidak dapat terlepas dari penggunaan jaringan internet.

Jadi bergesernya perilaku manusia seperti yang terjadi saat ini, akan memberikan akibat positf dan negatif. Positifnya adalah dapat mempermudah menyelesaikan urusan. Kebutuhan manusia dapat dipenuhi ketika berada di rumah, termasuk kebutuhan pendidikan yang dapat diakses kapan saja. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap bergesernya kebutuhan, dari sekunder atau tersier ke primer atau sebaliknya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/