alexametrics
23.6 C
Kudus
Friday, May 27, 2022

Keceriaan Siswa setelah adanya PTM Terbatas

SEKOLAH adalah lingkungan tempat belajar, berteman, mendapatkan rasa aman,dan kesehatan. Semakin lama anak berada di luar sekolah, semakin lama pula mereka terputus dari bentuk–bentuk dukungan penting. Jadi seiring dengan pelonggaran pembatasan mobilitas kerena Covid-19, harus memprioritaskan pembukaan kembali sekolah dengan aman agar murit tidak perlu menanggung kerugian dan potensi diri seumur hidupnya. Dalam mengimplementasikan keleluasaan belajar di sekolah merupakan opsi atau pilihan bagi orang tua/wali murit. Opsi lainnya adalah siswa tetap belajar secara daring (online). Siswa yang belajar tatap muka tak perlu ikut kelas daring. Begitu juga yang ikut kelas daring tak perlu tatap muka, tetapi guru tetap menyampaikan materi yang sama. Dengan opsi itu,maka orang tua tinggal memilih metode pengajaran, daring atau tatap muka.

Untuk tatap muka tentu harus memenuhi persyaratan dan izin dari pihak terkait dengan mempertimbangkan perkembnagan Covid-19 di wilayah sekitar sekolah dan tempat tinggal siswa dan guru. Untuk kelas tatap muka tentu lebih detil dan ketat karena adanya peluang interaksi antara guru dengan siswa. Juga interaksi antar siswa, padahal setiap orang harus menjaga jarak. Setelah ada kepastian jumlah siswa sesuai opsinya, teknis pembelajaran juga perlu inovasi dan improvisasi. Misalnya jam belajar yang lebih singkat dan seluruh jendela ruang terbuka. Yang tak kalah penting adalah untuk menghilangkan kehawatiran tertular virus saat belajar tatap muka dan untuk tetap bisa menjaga jarak, maka perlu dikaji penyampaian pelajaran di tempat terbuka atau di luar ruangan. Bagaimanapun, pembelajaran tatap muka membutuhkan inovasi dan improvisasi agar aman dari penularan Covid-19, yakni proses proses pembelajaran serius tetapi santai. Kegiatam belajar mengjar hanya dilaksanakan dua jam. Tidak ada jam istirahat. Saat PTM terbatas, wajib memakai masker dan jaga jarak. Ini untuk mencegah penularan Covid-19. Saat masuk sekolah, siswa juga dicek suhunya dan diberi hand sanitizer. Siswa juga disarankan untuk membawa bekal dari rumah,karena untuk menjaga kebersihan dan nilai gizi dari makanan yang dikosumsi.

Baca Juga :  Apakah Anda Guru Yang Baik?

PTM terbatas dilaksanakan karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berkepanjangan beresiko negatif pada anak. Setidaknya ada tiga alasan diadakannya pelaksanaan PTM terbatas: Pertama yaitu untuk menghindari putus sekolah. Pelaksanaan PJJ yang tak optimal membuat anak terpaksa bekerja dan tidak belajar, terlebih untuk membantu perekonomian keluarga. Selain itu PJJ melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar.


Kedua, guna menghindari penurunan capaian belajar anak,dimana pembelajaran di kelas menghasilkan capaian akademik yang lebih baik. Perbedaan akses yang didapat anak, juga sarana yang tersedia di  rumah dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar khususnya bagi anak yang terbatas secara sosial dan ekonomi.

Ketiga, adanya resiko psikososial atau kondisi individu mencakup psikis dan sosial anak. Resiko ini meliputi peningkatan, kekerasan pada anak di rumah, resiko pernikahan dini, eksploitasi anak terutama perempuan. Selain itu anak juga bisa mengalami persaan tertekan karena tidak bermain dan bertemu dengan kawan-kawannya dalam waktu lama.

Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang dilaksanakan membuat anak-anak kembali ke sekolah. Mereka sudah bosan belajar daring di rumah selama 1,5 tahun. Kecanduan game di smartphone langsung hilang saat PTM terbatas. Meskipun terbatas karena siswa tidak ada waktu istirahat tetapi siswa tidak mau kehilangan momen bermain bersama teman-temannya. Sebelum bel masuk sekolah pukul 07.30 WIB, siswa sudah datang sejak pukul 06.30. Mereka langsung mengambil bola plastik. Kemudian, main sepak bola dihalaman sekolah. Selain main bola, sebagian memilih bermain pesawat terbang dari kertas. Sedangkan anak perempuan memilih bermain petak umpet bersama teman-temannya. (*)

SEKOLAH adalah lingkungan tempat belajar, berteman, mendapatkan rasa aman,dan kesehatan. Semakin lama anak berada di luar sekolah, semakin lama pula mereka terputus dari bentuk–bentuk dukungan penting. Jadi seiring dengan pelonggaran pembatasan mobilitas kerena Covid-19, harus memprioritaskan pembukaan kembali sekolah dengan aman agar murit tidak perlu menanggung kerugian dan potensi diri seumur hidupnya. Dalam mengimplementasikan keleluasaan belajar di sekolah merupakan opsi atau pilihan bagi orang tua/wali murit. Opsi lainnya adalah siswa tetap belajar secara daring (online). Siswa yang belajar tatap muka tak perlu ikut kelas daring. Begitu juga yang ikut kelas daring tak perlu tatap muka, tetapi guru tetap menyampaikan materi yang sama. Dengan opsi itu,maka orang tua tinggal memilih metode pengajaran, daring atau tatap muka.

Untuk tatap muka tentu harus memenuhi persyaratan dan izin dari pihak terkait dengan mempertimbangkan perkembnagan Covid-19 di wilayah sekitar sekolah dan tempat tinggal siswa dan guru. Untuk kelas tatap muka tentu lebih detil dan ketat karena adanya peluang interaksi antara guru dengan siswa. Juga interaksi antar siswa, padahal setiap orang harus menjaga jarak. Setelah ada kepastian jumlah siswa sesuai opsinya, teknis pembelajaran juga perlu inovasi dan improvisasi. Misalnya jam belajar yang lebih singkat dan seluruh jendela ruang terbuka. Yang tak kalah penting adalah untuk menghilangkan kehawatiran tertular virus saat belajar tatap muka dan untuk tetap bisa menjaga jarak, maka perlu dikaji penyampaian pelajaran di tempat terbuka atau di luar ruangan. Bagaimanapun, pembelajaran tatap muka membutuhkan inovasi dan improvisasi agar aman dari penularan Covid-19, yakni proses proses pembelajaran serius tetapi santai. Kegiatam belajar mengjar hanya dilaksanakan dua jam. Tidak ada jam istirahat. Saat PTM terbatas, wajib memakai masker dan jaga jarak. Ini untuk mencegah penularan Covid-19. Saat masuk sekolah, siswa juga dicek suhunya dan diberi hand sanitizer. Siswa juga disarankan untuk membawa bekal dari rumah,karena untuk menjaga kebersihan dan nilai gizi dari makanan yang dikosumsi.

Baca Juga :  Meningkatkan Literasi pada Siswa SD

PTM terbatas dilaksanakan karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berkepanjangan beresiko negatif pada anak. Setidaknya ada tiga alasan diadakannya pelaksanaan PTM terbatas: Pertama yaitu untuk menghindari putus sekolah. Pelaksanaan PJJ yang tak optimal membuat anak terpaksa bekerja dan tidak belajar, terlebih untuk membantu perekonomian keluarga. Selain itu PJJ melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar.

Kedua, guna menghindari penurunan capaian belajar anak,dimana pembelajaran di kelas menghasilkan capaian akademik yang lebih baik. Perbedaan akses yang didapat anak, juga sarana yang tersedia di  rumah dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar khususnya bagi anak yang terbatas secara sosial dan ekonomi.

Ketiga, adanya resiko psikososial atau kondisi individu mencakup psikis dan sosial anak. Resiko ini meliputi peningkatan, kekerasan pada anak di rumah, resiko pernikahan dini, eksploitasi anak terutama perempuan. Selain itu anak juga bisa mengalami persaan tertekan karena tidak bermain dan bertemu dengan kawan-kawannya dalam waktu lama.

Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang dilaksanakan membuat anak-anak kembali ke sekolah. Mereka sudah bosan belajar daring di rumah selama 1,5 tahun. Kecanduan game di smartphone langsung hilang saat PTM terbatas. Meskipun terbatas karena siswa tidak ada waktu istirahat tetapi siswa tidak mau kehilangan momen bermain bersama teman-temannya. Sebelum bel masuk sekolah pukul 07.30 WIB, siswa sudah datang sejak pukul 06.30. Mereka langsung mengambil bola plastik. Kemudian, main sepak bola dihalaman sekolah. Selain main bola, sebagian memilih bermain pesawat terbang dari kertas. Sedangkan anak perempuan memilih bermain petak umpet bersama teman-temannya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/