alexametrics
26.2 C
Kudus
Sunday, May 15, 2022

SE Menag No. 5 Tahun 2022; Wujud Keberagamaan Indonesia

GLOBALISASI dunia, memberikan dampak perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia Semangat globalisasi tidak jarang membawa dampak negatif yang sangat besar. Media sosial sebagai bentuk dari kemajuan teknologi juga berimbas pada kehidupan riil masyarakat Indonesia, baik kehidupan politik, ekonomi maupun social budaya, bahkan kehidupan  beragama masyarakat Indonesia di tengah pluralitas dan multikultural Indonesia.

Kegaduhan media sosial yang saat ini sedang menjadi perhatian dunia, utamanya yang saat ini sedang viral adalah kontroversi dalam mensikapi SE Menteri Agam RI no 05 Tahun 2022 tentang  Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala yang bahkan berujung tindakan bullying dan mengarah fitnah yang sangat kejam serta pembunuhan karakter terhadap Menteri Agama. Ini menjadi pertanda bahwa masyarakat kita masih belum dewasa menggunakan media dan bahkan sangat mungkin diperalat oleh kepentingan tertentu.

Sebagai Muslim yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, Menteri Agama RI  Yaqut Cholil Qoumas tentu sangat mengerti dan memahami sampai denyut nadi terdalam bahwa pengeras suara adalah satu media syiar Islam di tengah masyarakat. Namun jangan dilupakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sangat majemuk atau beragam suku, agama, dan latar belakangnya, sehingga perlu adanya upaya merawat kebhinekaan dan keragaman tersebut demi menjaga nilai-nilai persaudaraan dan keberagaman agama kita.


Untuk melihat secara jernih tentang mengeraskan suara adzan dan puji-pujian di Masjid dan Musala, kita perlu membaca agama dengan metode interaksionisme_simbolik yang mengakui tiga dimensi kasunyatan (kasunyatan subyektif, kasunyatan obyektif dan kasunyatan simbolik). Agama subyektif adalah kesadaran atau iman, agama obyektif adalah  perilaku atau amal. Sedangkan agama simbolik adalah ajaran formal.

Masalah pengeras suara atas nama syiar Islam sesungguhny adalah wujud agama simbolik. Desain, fungsi dan pernak pernik di dalamnya adalah domain publik yang negara harus turun tangan  agar hidup bisa berjalan secara harmonis. Seharusnya disadari bahwa sesuci dan sekuat apa pun, argumen naqli sifatnya adalah lokal‑komunal, daya takluk argumen itu hanya berlaku secara internal atas umat yang mengimaninya saja. Sementara domein publik yang menjadi pertaruhan adalah isinya, tujuannya, untuk apa itu dilakukan.  Negara wajib hadir untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan bersama, keadilan sosial. Oleh sebab itu, bagi Islam, negara adalah instrumen bagi segenap warganya untuk merealisasikan cita-cita keadilan sosialnya. Maka, apa pun label, simbol dan bentuk yang dipakai, sejauh berguna bagi terwujudnya cita-cita keadilan adalah islami, dan wajib bagi kita untuk mendukungnya. Sebaliknya, label, simbol dan bentuk apa pun, yang cenderung melecehkan cita keadilan dan kepentingan rakyat adalah batal dan secara syar’i wajib bagi kita meluruskannya.

Baca Juga :  Tips Meningkatkan Konsentrasi Belajar

Oleh karena itu, SE Menteri Agama hadir dalam rangka memberikan saran dan rambu-rambu dalam penggunaan pengeras suara untuk tetap menjaga kenyamanan bersama. Hal tersebut bukan dalam kontek  suka dan tidak suka,  setuju dan tidak setuju, bahkan membatas-batasi ekspresi dan implementasi keberagamaan masyarakat, namun penggunaan pengeras suara dalam konteks syiar agama harus tetap memperhatikan dan saling menjaga serta saling tepo seliro terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Mengapa? Sebab dalam waktu yang bersamaan kita juga sadar bahwa kita sedang dan hidup dalam masyarakat yang beragam agama, keyakinan, latar belakang masing-masing. Oleh karena itu, hal penting yang harus disadari bersama adalah bahwa tujuan surat edaran dimaksudkan untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban dan kenyamanan bersama di tengah pluralitas dan ke bhinekaan Indonesia.

GLOBALISASI dunia, memberikan dampak perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia Semangat globalisasi tidak jarang membawa dampak negatif yang sangat besar. Media sosial sebagai bentuk dari kemajuan teknologi juga berimbas pada kehidupan riil masyarakat Indonesia, baik kehidupan politik, ekonomi maupun social budaya, bahkan kehidupan  beragama masyarakat Indonesia di tengah pluralitas dan multikultural Indonesia.

Kegaduhan media sosial yang saat ini sedang menjadi perhatian dunia, utamanya yang saat ini sedang viral adalah kontroversi dalam mensikapi SE Menteri Agam RI no 05 Tahun 2022 tentang  Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala yang bahkan berujung tindakan bullying dan mengarah fitnah yang sangat kejam serta pembunuhan karakter terhadap Menteri Agama. Ini menjadi pertanda bahwa masyarakat kita masih belum dewasa menggunakan media dan bahkan sangat mungkin diperalat oleh kepentingan tertentu.

Sebagai Muslim yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, Menteri Agama RI  Yaqut Cholil Qoumas tentu sangat mengerti dan memahami sampai denyut nadi terdalam bahwa pengeras suara adalah satu media syiar Islam di tengah masyarakat. Namun jangan dilupakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sangat majemuk atau beragam suku, agama, dan latar belakangnya, sehingga perlu adanya upaya merawat kebhinekaan dan keragaman tersebut demi menjaga nilai-nilai persaudaraan dan keberagaman agama kita.

Untuk melihat secara jernih tentang mengeraskan suara adzan dan puji-pujian di Masjid dan Musala, kita perlu membaca agama dengan metode interaksionisme_simbolik yang mengakui tiga dimensi kasunyatan (kasunyatan subyektif, kasunyatan obyektif dan kasunyatan simbolik). Agama subyektif adalah kesadaran atau iman, agama obyektif adalah  perilaku atau amal. Sedangkan agama simbolik adalah ajaran formal.

Masalah pengeras suara atas nama syiar Islam sesungguhny adalah wujud agama simbolik. Desain, fungsi dan pernak pernik di dalamnya adalah domain publik yang negara harus turun tangan  agar hidup bisa berjalan secara harmonis. Seharusnya disadari bahwa sesuci dan sekuat apa pun, argumen naqli sifatnya adalah lokal‑komunal, daya takluk argumen itu hanya berlaku secara internal atas umat yang mengimaninya saja. Sementara domein publik yang menjadi pertaruhan adalah isinya, tujuannya, untuk apa itu dilakukan.  Negara wajib hadir untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan bersama, keadilan sosial. Oleh sebab itu, bagi Islam, negara adalah instrumen bagi segenap warganya untuk merealisasikan cita-cita keadilan sosialnya. Maka, apa pun label, simbol dan bentuk yang dipakai, sejauh berguna bagi terwujudnya cita-cita keadilan adalah islami, dan wajib bagi kita untuk mendukungnya. Sebaliknya, label, simbol dan bentuk apa pun, yang cenderung melecehkan cita keadilan dan kepentingan rakyat adalah batal dan secara syar’i wajib bagi kita meluruskannya.

Baca Juga :  Model Pembelajaran Terintegrasi

Oleh karena itu, SE Menteri Agama hadir dalam rangka memberikan saran dan rambu-rambu dalam penggunaan pengeras suara untuk tetap menjaga kenyamanan bersama. Hal tersebut bukan dalam kontek  suka dan tidak suka,  setuju dan tidak setuju, bahkan membatas-batasi ekspresi dan implementasi keberagamaan masyarakat, namun penggunaan pengeras suara dalam konteks syiar agama harus tetap memperhatikan dan saling menjaga serta saling tepo seliro terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Mengapa? Sebab dalam waktu yang bersamaan kita juga sadar bahwa kita sedang dan hidup dalam masyarakat yang beragam agama, keyakinan, latar belakang masing-masing. Oleh karena itu, hal penting yang harus disadari bersama adalah bahwa tujuan surat edaran dimaksudkan untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban dan kenyamanan bersama di tengah pluralitas dan ke bhinekaan Indonesia.

Most Read

Artikel Terbaru

/