alexametrics
29.9 C
Kudus
Sunday, May 29, 2022

Etnomatematika SD dengan Pembelajaran Hybrid

BEBERAPA sekolah sudah menyelenggarakan pelaksanaan pembelajaran tatap muka dengan alokasi waktu tertentu untuk mengantisipasi persebaran Covid-19. Jumlah siswa yang masuk sekolah juga dibatasi dan tetap menerapkan  protokol  kesehatan yang ketat. Hal ini bertujuan supaya siswa tetap mendapatkan proses pembelajaran yang berkualitas. Tentunya kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan menerapkan metode hybrid learning. Melalui metode tersebut diharapkan siswa mendapatkan pengetahuan secara langsung dari gurunya selain sumber belajar yang lain.

Metode hybrid learning tentunya tidak hanya sebatas mengkombinasikan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring, melainkan ada strategi yang lebih spesifik lagi dalam kegiatan tersebut. Perlu adanya suatu inovasi pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperkuat metode tersebut. Strategi yang dilaksanakan salah satunya bisa menggunakan penerapan etnomatematika dalam pembelajaran. Etnomatematika cukup relevan untuk diimplementasikan dalam pembelajaran hybrid, karena selain  bisa digunakan untuk mengarahkan siswa lebih aktif dalam pembelajaran, siswa juga diajak untuk lebih mengenal, mengkaji dan melestarikan budaya yang ada di Indonesia.

Guru yang dapat mengajarkan etnomatematika di sekolah ikut berperan aktif dalam menjaga budaya bangsa. Melalui etnomatematika siswa diajak untuk mengetahui konsep – konsep matematika yang  memiliki keterkaitan dengan budaya yang ada di sekitar mereka. Salah satu konsep etnomatematika yang bisa diimplementasikan dalam pembelajaran yaitu dengan mengarahkan siswa untuk mengamati motif batik yang terdapat gambar persegi, lingkaran dan juga bentuk gambar yang lain. Batik di sini merupakan suatu budaya sedangkan motif yang ada pada batik tersebut dapat digunakan sebagai sarana pengantar pembelajaran geometri contohnya. Siswa diarahkan  untuk mengamati motif batik yang salah satu bentuknya menyerupai bangun dimensi dua. Ketika mengajarkan tentang materi geometri terlebih dalam menagajarkan bangun–bangun datar dan lebih spesifik lagi mengajarkan karakteristik dari  masing–masing bangun tersebut, termasuk sudut, bisa diawali dengan menggunakan media batik sebagai sarana pembelajarannya.

Baca Juga :  Siswa SMKN 2 Blora Dimotivasi untuk Bisa Mengikuti Jejak DI

Siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran hybrid dengan etnomatematika dengan jumlah tatap muka yang dibatasi dengan  pembelajaran  daring, yang mana siswa juga dapat mengakses beragam informasi yang didapatkan untuk lebih mengenal budaya yang ada di sekitar mereka yang ada kaitannya dengan konsep matematika. Ketika siswa sudah mengenal budaya–budaya yang ada di  sekitar mereka dan sudah mengetahui keterkaitannya dengan konsep–konsep matematika, maka secara otomatis mereka akan merasa memiliki budaya tersebut  dan menganggap budaya tersebut merupakan bagian dari kegidupan mereka. Tentunya ini cara yang cukup efektif untuk memperkenalkan budaya kepada anak sejak bangku sekolah dasar sehingga dengan meningkatnya jenjang pendidikan siswa akan menjadi garda  terdepan dalam melestarikan budaya bangsa. (*)

BEBERAPA sekolah sudah menyelenggarakan pelaksanaan pembelajaran tatap muka dengan alokasi waktu tertentu untuk mengantisipasi persebaran Covid-19. Jumlah siswa yang masuk sekolah juga dibatasi dan tetap menerapkan  protokol  kesehatan yang ketat. Hal ini bertujuan supaya siswa tetap mendapatkan proses pembelajaran yang berkualitas. Tentunya kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan menerapkan metode hybrid learning. Melalui metode tersebut diharapkan siswa mendapatkan pengetahuan secara langsung dari gurunya selain sumber belajar yang lain.

Metode hybrid learning tentunya tidak hanya sebatas mengkombinasikan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring, melainkan ada strategi yang lebih spesifik lagi dalam kegiatan tersebut. Perlu adanya suatu inovasi pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperkuat metode tersebut. Strategi yang dilaksanakan salah satunya bisa menggunakan penerapan etnomatematika dalam pembelajaran. Etnomatematika cukup relevan untuk diimplementasikan dalam pembelajaran hybrid, karena selain  bisa digunakan untuk mengarahkan siswa lebih aktif dalam pembelajaran, siswa juga diajak untuk lebih mengenal, mengkaji dan melestarikan budaya yang ada di Indonesia.

Guru yang dapat mengajarkan etnomatematika di sekolah ikut berperan aktif dalam menjaga budaya bangsa. Melalui etnomatematika siswa diajak untuk mengetahui konsep – konsep matematika yang  memiliki keterkaitan dengan budaya yang ada di sekitar mereka. Salah satu konsep etnomatematika yang bisa diimplementasikan dalam pembelajaran yaitu dengan mengarahkan siswa untuk mengamati motif batik yang terdapat gambar persegi, lingkaran dan juga bentuk gambar yang lain. Batik di sini merupakan suatu budaya sedangkan motif yang ada pada batik tersebut dapat digunakan sebagai sarana pengantar pembelajaran geometri contohnya. Siswa diarahkan  untuk mengamati motif batik yang salah satu bentuknya menyerupai bangun dimensi dua. Ketika mengajarkan tentang materi geometri terlebih dalam menagajarkan bangun–bangun datar dan lebih spesifik lagi mengajarkan karakteristik dari  masing–masing bangun tersebut, termasuk sudut, bisa diawali dengan menggunakan media batik sebagai sarana pembelajarannya.

Baca Juga :  Strategi Apik untuk Menjadi Baik

Siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran hybrid dengan etnomatematika dengan jumlah tatap muka yang dibatasi dengan  pembelajaran  daring, yang mana siswa juga dapat mengakses beragam informasi yang didapatkan untuk lebih mengenal budaya yang ada di sekitar mereka yang ada kaitannya dengan konsep matematika. Ketika siswa sudah mengenal budaya–budaya yang ada di  sekitar mereka dan sudah mengetahui keterkaitannya dengan konsep–konsep matematika, maka secara otomatis mereka akan merasa memiliki budaya tersebut  dan menganggap budaya tersebut merupakan bagian dari kegidupan mereka. Tentunya ini cara yang cukup efektif untuk memperkenalkan budaya kepada anak sejak bangku sekolah dasar sehingga dengan meningkatnya jenjang pendidikan siswa akan menjadi garda  terdepan dalam melestarikan budaya bangsa. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/