alexametrics
30.2 C
Kudus
Monday, May 16, 2022

Literasi Digital Tantangan di Masa Pandemi

HAMPIR dua tahun lamanya kita menjalani masa pandemi Coronavirus Disease of 19 (Covid-19). Praktis segala aktivitas kita menjadi terbatas. Karena salah satu usaha pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus ini adalah dengan membatasi mobilitas masyarakat yang lebih dikenal dengan istilah PPKM atau Perberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Kebijakan PPKM ini diterapkan dengan level yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Hampir semua sektor kehidupan terdampak dari pemberlakuan PPKM ini, salah satunya  adalah sektor pendidikan.

Selama pandemi pembelajaran dilakukan secara Daring (dalam jejaring) atau online. Langkah ini, mau tidak mau, siap tidak siap harus dilakukan sebagai solusi untuk menggantikan pembelajaran tatap muka. Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi pendidik maupun peserta didik. Guru harus mau belajar Teknologi Informasi (IT). Karena teknologi informasi menjadi dasar utama dalam pelaksanaan pembelajaran secara daring. Walaupun kondisi pandemi, guru harus tetap eksis dan pantang menyerah untuk memberikan hak pembelajaran terhadap siswa. Kondisi ini kemudian mendorong munculnya berbagai terobosan dan inovasi pembelajaran, khususnya berkaitan dengan pengembangan IT pada bidang pendidikan.

Penggunaan IT di kalangan siswa juga menjadi tantangan baru bagi guru. Terutama untuk mengontrol supaya penggunaan IT oleh siswa dilakukan secara benar dan tepat untuk kepentingan belajar. Hal ini didasarkan pada realitas di lapangan, bahwa beberapa siswa belum mampu mengendalikan diri dalam penggunan gadget (HP), dalam memilih dan memilah konten-konten yang berseliweran. Salah satu contohnya yaitu ketika mereka mendapatkan kuota dari pemerintah tidak dimanfaatkan untuk membuka google classroom atau LMS lain yang dipakai oleh guru mereka, tetapi justru dipakai untuk nge-game, membuka youtube atau aplikasi lain yang menayangkan konten-konten yang tidak pantas ditonton oleh siswa. Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab orangtua atau keluarga yang tinggal serumah dengan siswa tersebut. Namun kenyataannya saat siswa belajar dari rumah justru orang tua merasa kerepotan dalam mendidik anaknya sendiri. Di sini baru terasa bahwa peran guru sulit tergantikan. Solusi dari permasalahan tersebut ditempuh dengan mensosialisasikan adanya literasi digital.

Baca Juga :  Trik Memahami Materi IPS dengan Mind Mapping

Menurut Devri Suherdi sebagaimana dikutip Astuti dalam artikel Mengenal Literasi Digital, literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya. Kecakapan ini mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat serta tepat sesuai kegunaannya (https://radarkudus.jawapos.com/read/2021/08/11/281657/mengenal-literasi-digita).  

Tantangan paling besar dari literasi digital adalah arus informasi yang banyak. Artinya masyarakat terlalu banyak menerima informasi di saat yang bersamaan. Dalam hal inilah literasi digital berperan, yakni untuk mencari, menemukan, memilah serta memahami informasi yang benar dan tepat. Ide-ide baru saling bermunculan terkait dengan era digitalisasi ini. Begitu banyak konten-konten bermunculan tanpa sensor, ada yang positif dan ada juga yang bernilai negatif. Disinilah peran utama guru dalam menggiatkan literasi digital di lingkungan pendidikan. Peserta didik diajak untuk sadar akan literasi digital ini. Melalui literasi digital ini diharapkan siswa dapat mengasah sifat ketahanan, ketekunan dan keyakinan diri yang nantinya akan tumbuh dorongan untuk terus belajar dari dalam diri sehingga akan menjadi sebuah gaya hidup. (*)

 

HAMPIR dua tahun lamanya kita menjalani masa pandemi Coronavirus Disease of 19 (Covid-19). Praktis segala aktivitas kita menjadi terbatas. Karena salah satu usaha pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus ini adalah dengan membatasi mobilitas masyarakat yang lebih dikenal dengan istilah PPKM atau Perberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Kebijakan PPKM ini diterapkan dengan level yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Hampir semua sektor kehidupan terdampak dari pemberlakuan PPKM ini, salah satunya  adalah sektor pendidikan.

Selama pandemi pembelajaran dilakukan secara Daring (dalam jejaring) atau online. Langkah ini, mau tidak mau, siap tidak siap harus dilakukan sebagai solusi untuk menggantikan pembelajaran tatap muka. Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi pendidik maupun peserta didik. Guru harus mau belajar Teknologi Informasi (IT). Karena teknologi informasi menjadi dasar utama dalam pelaksanaan pembelajaran secara daring. Walaupun kondisi pandemi, guru harus tetap eksis dan pantang menyerah untuk memberikan hak pembelajaran terhadap siswa. Kondisi ini kemudian mendorong munculnya berbagai terobosan dan inovasi pembelajaran, khususnya berkaitan dengan pengembangan IT pada bidang pendidikan.

Penggunaan IT di kalangan siswa juga menjadi tantangan baru bagi guru. Terutama untuk mengontrol supaya penggunaan IT oleh siswa dilakukan secara benar dan tepat untuk kepentingan belajar. Hal ini didasarkan pada realitas di lapangan, bahwa beberapa siswa belum mampu mengendalikan diri dalam penggunan gadget (HP), dalam memilih dan memilah konten-konten yang berseliweran. Salah satu contohnya yaitu ketika mereka mendapatkan kuota dari pemerintah tidak dimanfaatkan untuk membuka google classroom atau LMS lain yang dipakai oleh guru mereka, tetapi justru dipakai untuk nge-game, membuka youtube atau aplikasi lain yang menayangkan konten-konten yang tidak pantas ditonton oleh siswa. Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab orangtua atau keluarga yang tinggal serumah dengan siswa tersebut. Namun kenyataannya saat siswa belajar dari rumah justru orang tua merasa kerepotan dalam mendidik anaknya sendiri. Di sini baru terasa bahwa peran guru sulit tergantikan. Solusi dari permasalahan tersebut ditempuh dengan mensosialisasikan adanya literasi digital.

Baca Juga :  Cara Belajar Efektif selama Pandemi

Menurut Devri Suherdi sebagaimana dikutip Astuti dalam artikel Mengenal Literasi Digital, literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya. Kecakapan ini mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat serta tepat sesuai kegunaannya (https://radarkudus.jawapos.com/read/2021/08/11/281657/mengenal-literasi-digita).  

Tantangan paling besar dari literasi digital adalah arus informasi yang banyak. Artinya masyarakat terlalu banyak menerima informasi di saat yang bersamaan. Dalam hal inilah literasi digital berperan, yakni untuk mencari, menemukan, memilah serta memahami informasi yang benar dan tepat. Ide-ide baru saling bermunculan terkait dengan era digitalisasi ini. Begitu banyak konten-konten bermunculan tanpa sensor, ada yang positif dan ada juga yang bernilai negatif. Disinilah peran utama guru dalam menggiatkan literasi digital di lingkungan pendidikan. Peserta didik diajak untuk sadar akan literasi digital ini. Melalui literasi digital ini diharapkan siswa dapat mengasah sifat ketahanan, ketekunan dan keyakinan diri yang nantinya akan tumbuh dorongan untuk terus belajar dari dalam diri sehingga akan menjadi sebuah gaya hidup. (*)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/