alexametrics
25 C
Kudus
Sunday, May 22, 2022

13 Calon Desa Wisata di Pati Disurvei Tim Penilai, Mana Saja?

PATI – Sebanyak 13 calon desa wisata akan dinilai oleh tim penilai sebelum ditetapkan menjadi desa wisata tahun 2022. Saat ini proses penilaian masih berlangsung. Kemarin tim penilai yang dipimpin Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Rekso Suhartono melakukan penilaian di Desa Mojoagung Kecamatan Trangkil dan Desa Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa.

“Kami harapkan desa ini bisa terus menata diri. Harapannya calon desa wisata di Pati bisa meniru Desa Ponggok di Klaten yang bertransformasi menjadi desa wisata yang maju. Dari desa miskin jadi desa miliarder karena pendapatannya besar. Pemerintah desa harus menjalin kerja sama yang baik khususnya dengan masyarakat sekitar,” papar Rekso saat melakukan penilaian di Desa Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa.

“Tahun ini ada 13 yang mengajukan menjadi desa wisata, awalnya sampai 25 kemudian diseleksi. Semoga setelah penilaian ini banyak yang masuk criteria dan bisa ditetapkan sebagai desa wisata,” imbuhnya.


Pihaknya meminta agar pemerintah desa terus bersolek agar benar-benar layak dikunjungi sebagai tempat wisata. Apalagi di desa ini banyak potensi-potensi menarik yang bisa dijual ke masyarakat luas.

Baca Juga :  Cegah Stunting, Disketapang Pati Bantu Bahan Makanan di Sukolilo

Untuk diketahui desa yang berada di pesisir pantai ini memiliki destinasi utama berupa hutan mangrove seluas 15 hektare di pantai ujung, serta sebuah makam tokoh desa yang dikeramatkan sebagai wisata religi.

Wisata mangrove di sini memiliki keunikan tersendiri, sebab untuk sampai ke pantai ujung Tluwuk pengunjung bisa menaiki perahu wisata menyusuri sungai dengan panjang sekitar 3 kilometer dari dermaga.

“Kami unggulannya adalah wisata hutan mangrove dengan luas 15 hektare dan ketinggian pohonnya 8-10 meter, menjadi sabuk hijau kawasan pantai,” jelas Kepala Desa Tluwuk Rumini. Selain itu potensi-potensi penunjang lainnya adalah desa ini memiliki produsen olahan ikan bandeng, udang, terasi, dan berbagai makanan tradisional yang unik dan jarang dijumpai. (aua/ali)






Reporter: Achmad Ulil Albab

PATI – Sebanyak 13 calon desa wisata akan dinilai oleh tim penilai sebelum ditetapkan menjadi desa wisata tahun 2022. Saat ini proses penilaian masih berlangsung. Kemarin tim penilai yang dipimpin Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Rekso Suhartono melakukan penilaian di Desa Mojoagung Kecamatan Trangkil dan Desa Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa.

“Kami harapkan desa ini bisa terus menata diri. Harapannya calon desa wisata di Pati bisa meniru Desa Ponggok di Klaten yang bertransformasi menjadi desa wisata yang maju. Dari desa miskin jadi desa miliarder karena pendapatannya besar. Pemerintah desa harus menjalin kerja sama yang baik khususnya dengan masyarakat sekitar,” papar Rekso saat melakukan penilaian di Desa Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa.

“Tahun ini ada 13 yang mengajukan menjadi desa wisata, awalnya sampai 25 kemudian diseleksi. Semoga setelah penilaian ini banyak yang masuk criteria dan bisa ditetapkan sebagai desa wisata,” imbuhnya.

Pihaknya meminta agar pemerintah desa terus bersolek agar benar-benar layak dikunjungi sebagai tempat wisata. Apalagi di desa ini banyak potensi-potensi menarik yang bisa dijual ke masyarakat luas.

Baca Juga :  Tunggu Eksekusi Mati, Tersangka Pembunuh Sekeluarga di Rembang Taat Ibadah

Untuk diketahui desa yang berada di pesisir pantai ini memiliki destinasi utama berupa hutan mangrove seluas 15 hektare di pantai ujung, serta sebuah makam tokoh desa yang dikeramatkan sebagai wisata religi.

Wisata mangrove di sini memiliki keunikan tersendiri, sebab untuk sampai ke pantai ujung Tluwuk pengunjung bisa menaiki perahu wisata menyusuri sungai dengan panjang sekitar 3 kilometer dari dermaga.

“Kami unggulannya adalah wisata hutan mangrove dengan luas 15 hektare dan ketinggian pohonnya 8-10 meter, menjadi sabuk hijau kawasan pantai,” jelas Kepala Desa Tluwuk Rumini. Selain itu potensi-potensi penunjang lainnya adalah desa ini memiliki produsen olahan ikan bandeng, udang, terasi, dan berbagai makanan tradisional yang unik dan jarang dijumpai. (aua/ali)






Reporter: Achmad Ulil Albab

Most Read

Artikel Terbaru

/