25.3 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

Komisi B: Keterlambatan Realisasi Kartu Tani Bisa Berdampak Pada Perekonomian

PATI – Realisasi kartu tani untuk petani belum terealisasi 100 persen. Sebab, ada keterlambatan penyaluran kartu tersebut. Dampaknya, beberapa petani ada yang tak bisa mengambil pupuk bersubsidi.

Menanggapi ini, Anggota Komisi B DPRD Pati Sukarno menuturkan, belum terealisasinya kartu tani ada kelambatan dari bank BRI sebagai pencetak kartu tani. Bank BRI sudah berupaya supaya pencetakan kartu tani segera selesai. Karena ini sudah menghadapi musim tanam (MT) satu.

”Memang Bank BRI mengakui ada keterlambatan di dalam proses pencetakan kartu tani. Masalah tersebut sudah disampaikan agar supaya kartu tani segera tercetak semua. Kalau sampai MT satu belum tercetak pasti terjadi gejolak dari petani yang kebetulan kartu taninya belum tercetak,” tuturnya.


Harapannya, jangan sampai petani tak bisa menebus pupuk karena kartu taninya belum jadi. Hal ini bisa mempengaruhi tanaman di MT satu yang akhirnya produktifitas menurun. Sehingga bisa menyebabkan pendapatan petani menurun. ”Padahal dampak subsidi BBM ini menyebabkan harga kebutuhan pokok masyarakat naik. Semua permasalahan tersebut bisa menyebabkan angka kemiskinan meningkat. Pertumbuhan ekonomi tak sesuai yang diharapkan (diatas 5 persen),” tegasnya.

Baca Juga :  DPRD Pati Harapkan BPJS Kesehatan Akomodasi MBPR Tak Mampu

Berdasarkan data yang dihimpun dari pihak Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati jumlah petani yang terdaftar di Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) sebanyak 143.353 orang. Sedangkan yang belum mendapat katu tani dua persen dari total petani itu. Setidaknya ada 2.000-an petani yang belum dapat jatah kartu tani.

Saat dikonfirmasi, Analis Sarana dan Prasarana (Ansarpras) Aldonny Nurdiansyah mengakui adanya petani yang belum mendapat kartu tani. Untuk angka pastinya, pihaknya tak mengetahui secara rinci.

”Secara total petani yang terdaftar untuk pupuk bersubsidi ada 143.353. Sudah hampir 98 persen yang disalurkan. Artinya dari sisa itu belum ada yang terbagi,” paparnya. (adr/lid/adv)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Realisasi kartu tani untuk petani belum terealisasi 100 persen. Sebab, ada keterlambatan penyaluran kartu tersebut. Dampaknya, beberapa petani ada yang tak bisa mengambil pupuk bersubsidi.

Menanggapi ini, Anggota Komisi B DPRD Pati Sukarno menuturkan, belum terealisasinya kartu tani ada kelambatan dari bank BRI sebagai pencetak kartu tani. Bank BRI sudah berupaya supaya pencetakan kartu tani segera selesai. Karena ini sudah menghadapi musim tanam (MT) satu.

”Memang Bank BRI mengakui ada keterlambatan di dalam proses pencetakan kartu tani. Masalah tersebut sudah disampaikan agar supaya kartu tani segera tercetak semua. Kalau sampai MT satu belum tercetak pasti terjadi gejolak dari petani yang kebetulan kartu taninya belum tercetak,” tuturnya.

Harapannya, jangan sampai petani tak bisa menebus pupuk karena kartu taninya belum jadi. Hal ini bisa mempengaruhi tanaman di MT satu yang akhirnya produktifitas menurun. Sehingga bisa menyebabkan pendapatan petani menurun. ”Padahal dampak subsidi BBM ini menyebabkan harga kebutuhan pokok masyarakat naik. Semua permasalahan tersebut bisa menyebabkan angka kemiskinan meningkat. Pertumbuhan ekonomi tak sesuai yang diharapkan (diatas 5 persen),” tegasnya.

Baca Juga :  Komisi D Minta Ada Terobosan Penanggulangan Kasus TBC

Berdasarkan data yang dihimpun dari pihak Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati jumlah petani yang terdaftar di Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) sebanyak 143.353 orang. Sedangkan yang belum mendapat katu tani dua persen dari total petani itu. Setidaknya ada 2.000-an petani yang belum dapat jatah kartu tani.

Saat dikonfirmasi, Analis Sarana dan Prasarana (Ansarpras) Aldonny Nurdiansyah mengakui adanya petani yang belum mendapat kartu tani. Untuk angka pastinya, pihaknya tak mengetahui secara rinci.

”Secara total petani yang terdaftar untuk pupuk bersubsidi ada 143.353. Sudah hampir 98 persen yang disalurkan. Artinya dari sisa itu belum ada yang terbagi,” paparnya. (adr/lid/adv)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/