alexametrics
26.5 C
Kudus
Sunday, June 5, 2022

Pasca Diterjang Rob dan Gelombang Tinggi, Ribuan Nelayan di Pati Pilih Libur Melaut

PATI – Kondisi perairan di pesisir utara, terutama di Pati telah reda. Namun, para nelayan masih belum berani melaut. Waktu luang itu, digunakan untuk membenahi peralatan melaut. ”Pasca diterjang rob dan gelombang tinggi, di pesisir utara Jawa ribuan nelayan di Dukuhseti tidak bisa melaut sepekan terakhir. Tidak hanya menerjang rumah yang berada di tepi pantai, rob juga membuat tanggul ratusan hektare tambak milik warga jebol. Saat ini kami para nelayan memilih untuk beristirahat,” kata Supangat, salah seorang nelayan.

Terlihat ratusan perahu jenis cokri tertambat di pelabuhan ikan Desa Banyutowo, Dukuhseti. Ribuan nelayan terpaksa tidak melaut karena air pasang dan gelombang tinggi. Kondisi tempat pelelangan ikan Banyutowo pun tampak sepi, karena tidak ada aktivitas lelang. Mengingat hanya sebagian nelayan yang melaut di pinggiran pantai mencari ikan bandeng yang lepas dari tambak karena tanggulnya jebol diterjang rob.

Baca Juga :  Harga Minyak Goreng Naik, Stok Masih Langka di Pasar Pati

Ketua Relawan SAR Tunggul Wulung Ali Masadi menjelaskan, pada awal musim timuran kali ini ombaknya memang besar, dibanding ombak pada musim timuran tahun-tahun sebelumnya. ”Kami meminta nelayan sementara waktu tidak melaut. Supaya aman,” pesannya.


Sementara itu, data BPBD Pati setidaknya ada 45 desa di tujuh kecamatan terdampak rob. Pemkab Pati mengimbau warga yang rumahnya di tepi pantai tetap waspada jika rob naik lagi. Mengingat cuaca buruk diperkirakan masih terjadi beberapa hari ke depan.

Selain merusak rumah di tepi pantai, rob juga berdampak ribuan hektare tambak ikan milik warga. Hal ini sesuai dengan data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pati. Para petani tambak mengalami total kerugian Rp 28 miliar dari tambak seluas 2.005 hektare. Menyebar dari Desa Puncel, Dukuhseti, (perbatasan Jepara) hingga Desa Pecangaan, Batangan (perbatasan dengan Rembang). (aua/lin)






Reporter: Achmad Ulil Albab

PATI – Kondisi perairan di pesisir utara, terutama di Pati telah reda. Namun, para nelayan masih belum berani melaut. Waktu luang itu, digunakan untuk membenahi peralatan melaut. ”Pasca diterjang rob dan gelombang tinggi, di pesisir utara Jawa ribuan nelayan di Dukuhseti tidak bisa melaut sepekan terakhir. Tidak hanya menerjang rumah yang berada di tepi pantai, rob juga membuat tanggul ratusan hektare tambak milik warga jebol. Saat ini kami para nelayan memilih untuk beristirahat,” kata Supangat, salah seorang nelayan.

Terlihat ratusan perahu jenis cokri tertambat di pelabuhan ikan Desa Banyutowo, Dukuhseti. Ribuan nelayan terpaksa tidak melaut karena air pasang dan gelombang tinggi. Kondisi tempat pelelangan ikan Banyutowo pun tampak sepi, karena tidak ada aktivitas lelang. Mengingat hanya sebagian nelayan yang melaut di pinggiran pantai mencari ikan bandeng yang lepas dari tambak karena tanggulnya jebol diterjang rob.

Baca Juga :  Vaksinasi Booster di Pati Hanya Bisa Disuntikkan di Puskesmas dan RSUD

Ketua Relawan SAR Tunggul Wulung Ali Masadi menjelaskan, pada awal musim timuran kali ini ombaknya memang besar, dibanding ombak pada musim timuran tahun-tahun sebelumnya. ”Kami meminta nelayan sementara waktu tidak melaut. Supaya aman,” pesannya.

Sementara itu, data BPBD Pati setidaknya ada 45 desa di tujuh kecamatan terdampak rob. Pemkab Pati mengimbau warga yang rumahnya di tepi pantai tetap waspada jika rob naik lagi. Mengingat cuaca buruk diperkirakan masih terjadi beberapa hari ke depan.

Selain merusak rumah di tepi pantai, rob juga berdampak ribuan hektare tambak ikan milik warga. Hal ini sesuai dengan data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pati. Para petani tambak mengalami total kerugian Rp 28 miliar dari tambak seluas 2.005 hektare. Menyebar dari Desa Puncel, Dukuhseti, (perbatasan Jepara) hingga Desa Pecangaan, Batangan (perbatasan dengan Rembang). (aua/lin)






Reporter: Achmad Ulil Albab

Most Read

Artikel Terbaru

/