alexametrics
24.1 C
Kudus
Tuesday, June 7, 2022

Dispermades Pati Sepakat Hapus Aset Alat Produksi Saos Skala Pabrik

PATI – Alat produksi saos dari Kementerian Desa (Kemendes) yang dihibahkan ke Usaha Bersama Komunitas (UBK) Pundowo, Dukuhseti, dinilai berkapasitas industri skala besar. Padahal yang dibutuhkan UBK Pundowo adalah alat untuk home industri (skala kecil). Alat produksi saos itu pun diusulkan untuk dihapus (dijual).

Kepala Dispermades Kabupaten Pati Sudiyono melalui Kabid Pengembangan Desa Wulandari Dyah Suryanti menerangkan pengusulan penghapusan alat produksi saos itu akan menelan dana operasional besar. Untuk mengeoperasikan alat tersebut, katanya, membutuhkan daya listrik yang besar. Sedangkan daya listrik yang ada di UBK Pundowo tak memadahi.

”Ini daya listriknya tak memenuhi. Kalau memakai solar, desa juga tak mampu. Jadi antara pendapatan dan biaya produksi tak imbang. Akhirnya tak digunakan,” ucapnya.


Selanjutnya, dana hasil penjualan rencananya untuk dibelikan alat-alat yang bisa digunakan (produksi skala rumahan). UBK lebih memilih alat blender untuk skala industri rumahan.

Oleh sebab itu, pihaknya bersurat ke Kemendes PDTT agar bisa menghapus alat produksi saos itu. Proses penghapusan aset negara itu pun sudah melalui tahapan musyawarah antar desa (MAD). Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) setempat.

Baca Juga :  Hujan Semalaman, Ratusan Rumah di Pati Terendam Banjir

”Sudah disepakati bahwa akan menjual alat produksi saos itu. Kemendes PDTT juga memperbolehkan. Dari BPKAD meminta membuat berita acara. Harganya berapa, jenis yang dijual. Harus dicatat semua. Karena ini aset megara dan sudah dihibahkan menjadi milik dari UBK itu,” katanya.

Soal harga, pihaknya belum memutuskan. Saat ini, fokus mencari vendor/pembeli yang tertarik dengan alat produksi saos skala industri itu.

”Berapa harganya belum. Dari BPKAD harus ada perkiraan harga. Tapi itu butuh dua vendor yang menawar untuk menjadi penentuan harga. Sedangkan untuk mendatangkan penafsir harga itu mahal. Desa ndak mampu,” imbuhnya.

Dia menambahkan, bila pun disepakati desa soal harga alat, nanti akan ditetapkan dalam berita acara. ”Kalau ada yang minat nanti agar laporan ke kami. Pasti nanti menawar harganya. Karena ini terkendala pandemi, jadi pabrik di Pati belum ada yang minat,” tukasnya.

Sesuai MAD terkait keberlanjutan usaha dan kegiatan UBK Pundowo sampai saat ni belum ada calon pembeli yang berminat. Soalnya, kapasitas produksi terlalu besar.

”Kami koordinasi/menawarkan alat produksi kepada pabrik dan pelaku usaha sekitaran Dukuhseti. Tapi belum ada yang minat,” tandasnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Alat produksi saos dari Kementerian Desa (Kemendes) yang dihibahkan ke Usaha Bersama Komunitas (UBK) Pundowo, Dukuhseti, dinilai berkapasitas industri skala besar. Padahal yang dibutuhkan UBK Pundowo adalah alat untuk home industri (skala kecil). Alat produksi saos itu pun diusulkan untuk dihapus (dijual).

Kepala Dispermades Kabupaten Pati Sudiyono melalui Kabid Pengembangan Desa Wulandari Dyah Suryanti menerangkan pengusulan penghapusan alat produksi saos itu akan menelan dana operasional besar. Untuk mengeoperasikan alat tersebut, katanya, membutuhkan daya listrik yang besar. Sedangkan daya listrik yang ada di UBK Pundowo tak memadahi.

”Ini daya listriknya tak memenuhi. Kalau memakai solar, desa juga tak mampu. Jadi antara pendapatan dan biaya produksi tak imbang. Akhirnya tak digunakan,” ucapnya.

Selanjutnya, dana hasil penjualan rencananya untuk dibelikan alat-alat yang bisa digunakan (produksi skala rumahan). UBK lebih memilih alat blender untuk skala industri rumahan.

Oleh sebab itu, pihaknya bersurat ke Kemendes PDTT agar bisa menghapus alat produksi saos itu. Proses penghapusan aset negara itu pun sudah melalui tahapan musyawarah antar desa (MAD). Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) setempat.

Baca Juga :  Persipa Pati Menang Telak Lawan Farmel FC, Ali Koroy Cetak Hattrick

”Sudah disepakati bahwa akan menjual alat produksi saos itu. Kemendes PDTT juga memperbolehkan. Dari BPKAD meminta membuat berita acara. Harganya berapa, jenis yang dijual. Harus dicatat semua. Karena ini aset megara dan sudah dihibahkan menjadi milik dari UBK itu,” katanya.

Soal harga, pihaknya belum memutuskan. Saat ini, fokus mencari vendor/pembeli yang tertarik dengan alat produksi saos skala industri itu.

”Berapa harganya belum. Dari BPKAD harus ada perkiraan harga. Tapi itu butuh dua vendor yang menawar untuk menjadi penentuan harga. Sedangkan untuk mendatangkan penafsir harga itu mahal. Desa ndak mampu,” imbuhnya.

Dia menambahkan, bila pun disepakati desa soal harga alat, nanti akan ditetapkan dalam berita acara. ”Kalau ada yang minat nanti agar laporan ke kami. Pasti nanti menawar harganya. Karena ini terkendala pandemi, jadi pabrik di Pati belum ada yang minat,” tukasnya.

Sesuai MAD terkait keberlanjutan usaha dan kegiatan UBK Pundowo sampai saat ni belum ada calon pembeli yang berminat. Soalnya, kapasitas produksi terlalu besar.

”Kami koordinasi/menawarkan alat produksi kepada pabrik dan pelaku usaha sekitaran Dukuhseti. Tapi belum ada yang minat,” tandasnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/