alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Penerimaan Siswa Baru, 643 SD dan 49 SMP di Pati Tak Penuhi Kuota

PATI – Masa penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SD dan SMP tahun ini di Kabupaten Pati telah selesai belum lama ini. Sebanyak 37 SMPN masih kekurangan siswa. Dari total 49 SMPN. Sementara tingkat SDN terdapat 643 sekolah belum memenuhi kuota siswa.

Kabid Pembinaan SMP di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pati Fauzin Futiarso mengatakan total siswa yang mendaftar di SMPN 9.069 anak. Padahal daya tampungnya 10.672 anak. Sehingga kekurangan pemenuhan kuota siswa sebesar 1.000 lebih anak.

”Saat ini belum ada rencana untuk membuka kembali PPDB. Soalnya, belum ada pembahasan mengenai itu. Kebijakan belum ada yang ke sana. Dari apa yang ada (siswa yang sudah mendaftar) kami kelola dan diberikan penanganan yang terbaik,” ujarnya.
Kurangnya siswa ini ada beberapa faktor. Mulai dari kebijakan zonasi, kurangnya sosialisasi, hingga perpsektif orang tua terhadap pembelajaran daring.


”Orang tua meyakini pembelajaran offline itu sangat diperlukan. Soalnya dalam pembelajaran itu tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja. Akan tetapi juga memberikan tauladan dan etika. Jadi penyelenggaraan secara daring ternyata kurang diminati orang tua,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Kabid SD Disdikbud Pati Sa’dun. Lanjut dia, sebanyak 643 SDN di Pati kekurangan siswa.

”Sesuai aturan, untuk jumlah siswa itu 20-28 orang. Hanya saja kami seadanya untuk siswa yang didapat. Soalnya tujuan kami hanya memberikan pelayanan bagi yang ingin sekolah. Jadi tak bisa memberikan arahan untuk siswa harus daftar di sini atau di sana,” terangnya.

Untuk daya tampung SD/MI kisaran 18 ribu siswa. Hanya saja, data yang diterima pihaknya 15 ribu saja. Sehingga kuotanya kurang tiga ribu.

”Kalau statistik penurunan siswa itu wajar. Ini bukan karena program keluarga berencana (KB). Ini lantaran ada urbanisasi penduduk dan animo masyarakat menyesekolahkan anaknya ke broadingschool dan sekolah terpadu sangat berpengaruh,” pungkasnya.
Berbeda dengan Kabid Pembinaan SMP Disdikbud Pati Fauzin Futiarso. Dia menduga kekurangan akibat Program keluarga berencana (KB) dan adanya sekolah plus pondok pesantren (Ponpes) atau boarding school.

Baca Juga :  Penumpang di Terminal Kembangjoyo Pati Alami Kenaikan Hingga 70 Persen

”Setidaknya sebanyak 1.603 kuota masih kurang dari target pemenuhan siswa SMPN.
Di samping itu, adanya boarding school menyebabkan calon pendaftar beralih ke sana. Pasalnya, orang tua lebih senang didik pihak sekolah yang ada asramanya.

”Selain itu, untuk pembelajaran offline itu saat ini yang ada melalui melalui boarding school atau pondok pesantren. Saat ini boarding school lebih diminati oleh siswa dan orang tua siswa,” imbuhnya.

Menurutnya, pandemi Covid-19 berpengaruh dalam pemenuhan kuota siswa ini. Pasalnya, kebanyakan orang tua memilih pendidikan ofline ketimbang daring seperti sekolahan negeri.

Sekolah daring yang diterapkan di SMPN selama pandemi Covid-19, membuat orang tua siswa lebih mempercayakan anaknya bersekolah di boarding school.

”Jadi sekolah daring ternyata kurang diminati orang tua. Orang tua menyakini bahwa pembelajaran offline itu sangat diperlukan mengingat kegiatan belajar tidak hanya mentransfer ilmu saja. Tetapi lebih dari itu seperti memberikan tauladan,” paparnya.
Selain itu, ada kebijakan zonasi, kurangnya sosialisasi, hingga perpsektif orang tua terhadap pembelajaran daring.

”Orang tua meyakini pembelajaran offline itu sangat diperlukan. Soalnya dalam pembelajaran itu tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja. Akan tetapi juga memberikan tauladan dan etika. Jadi penyelenggaraan secara daring ternyata kurang diminati orang tua,” imbuhnya.

Fauzin mengakui kurang optimalnya sosialisasi PPDB dan minta pembelajaran di tingkat orang tua. Sosialisasi lebih kepada orang tua yang berada di SMP. Tidak pada orang tua yang anaknya SD yang nantinya ke SMPN.

”Kurangnya sosialisasi menjadi pembelajaran untuk kami. Ini akan menjadi evaluasi agar tak terjadi kurangnya pemenuhan kuota,” pungkasnya.

Di samping itu, boardhing school juga diklaim jadi penyebab kurangnya siswa di SD. Menurut Kabid SD pada Disdikbud Pati Sa’dun, banyak orang tua yang memilih sekolah yang ada asramanya. Lalu, adanya sekolah terpadu juga.

”Sebenarnya sesuai aturan, jumlah siswa 20-28 orang. Ini bukan karena KB. kekurangan siswa ini lantaran animo masyarakat untuk sekolah di madrasah dan sekolah terpadu lainnya,” tuturnya. (adr/zen)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Masa penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SD dan SMP tahun ini di Kabupaten Pati telah selesai belum lama ini. Sebanyak 37 SMPN masih kekurangan siswa. Dari total 49 SMPN. Sementara tingkat SDN terdapat 643 sekolah belum memenuhi kuota siswa.

Kabid Pembinaan SMP di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pati Fauzin Futiarso mengatakan total siswa yang mendaftar di SMPN 9.069 anak. Padahal daya tampungnya 10.672 anak. Sehingga kekurangan pemenuhan kuota siswa sebesar 1.000 lebih anak.

”Saat ini belum ada rencana untuk membuka kembali PPDB. Soalnya, belum ada pembahasan mengenai itu. Kebijakan belum ada yang ke sana. Dari apa yang ada (siswa yang sudah mendaftar) kami kelola dan diberikan penanganan yang terbaik,” ujarnya.
Kurangnya siswa ini ada beberapa faktor. Mulai dari kebijakan zonasi, kurangnya sosialisasi, hingga perpsektif orang tua terhadap pembelajaran daring.

”Orang tua meyakini pembelajaran offline itu sangat diperlukan. Soalnya dalam pembelajaran itu tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja. Akan tetapi juga memberikan tauladan dan etika. Jadi penyelenggaraan secara daring ternyata kurang diminati orang tua,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Kabid SD Disdikbud Pati Sa’dun. Lanjut dia, sebanyak 643 SDN di Pati kekurangan siswa.

”Sesuai aturan, untuk jumlah siswa itu 20-28 orang. Hanya saja kami seadanya untuk siswa yang didapat. Soalnya tujuan kami hanya memberikan pelayanan bagi yang ingin sekolah. Jadi tak bisa memberikan arahan untuk siswa harus daftar di sini atau di sana,” terangnya.

Untuk daya tampung SD/MI kisaran 18 ribu siswa. Hanya saja, data yang diterima pihaknya 15 ribu saja. Sehingga kuotanya kurang tiga ribu.

”Kalau statistik penurunan siswa itu wajar. Ini bukan karena program keluarga berencana (KB). Ini lantaran ada urbanisasi penduduk dan animo masyarakat menyesekolahkan anaknya ke broadingschool dan sekolah terpadu sangat berpengaruh,” pungkasnya.
Berbeda dengan Kabid Pembinaan SMP Disdikbud Pati Fauzin Futiarso. Dia menduga kekurangan akibat Program keluarga berencana (KB) dan adanya sekolah plus pondok pesantren (Ponpes) atau boarding school.

Baca Juga :  Ciptakan Berbahan Kuningan, Pamerkan di Ajang Internasional

”Setidaknya sebanyak 1.603 kuota masih kurang dari target pemenuhan siswa SMPN.
Di samping itu, adanya boarding school menyebabkan calon pendaftar beralih ke sana. Pasalnya, orang tua lebih senang didik pihak sekolah yang ada asramanya.

”Selain itu, untuk pembelajaran offline itu saat ini yang ada melalui melalui boarding school atau pondok pesantren. Saat ini boarding school lebih diminati oleh siswa dan orang tua siswa,” imbuhnya.

Menurutnya, pandemi Covid-19 berpengaruh dalam pemenuhan kuota siswa ini. Pasalnya, kebanyakan orang tua memilih pendidikan ofline ketimbang daring seperti sekolahan negeri.

Sekolah daring yang diterapkan di SMPN selama pandemi Covid-19, membuat orang tua siswa lebih mempercayakan anaknya bersekolah di boarding school.

”Jadi sekolah daring ternyata kurang diminati orang tua. Orang tua menyakini bahwa pembelajaran offline itu sangat diperlukan mengingat kegiatan belajar tidak hanya mentransfer ilmu saja. Tetapi lebih dari itu seperti memberikan tauladan,” paparnya.
Selain itu, ada kebijakan zonasi, kurangnya sosialisasi, hingga perpsektif orang tua terhadap pembelajaran daring.

”Orang tua meyakini pembelajaran offline itu sangat diperlukan. Soalnya dalam pembelajaran itu tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja. Akan tetapi juga memberikan tauladan dan etika. Jadi penyelenggaraan secara daring ternyata kurang diminati orang tua,” imbuhnya.

Fauzin mengakui kurang optimalnya sosialisasi PPDB dan minta pembelajaran di tingkat orang tua. Sosialisasi lebih kepada orang tua yang berada di SMP. Tidak pada orang tua yang anaknya SD yang nantinya ke SMPN.

”Kurangnya sosialisasi menjadi pembelajaran untuk kami. Ini akan menjadi evaluasi agar tak terjadi kurangnya pemenuhan kuota,” pungkasnya.

Di samping itu, boardhing school juga diklaim jadi penyebab kurangnya siswa di SD. Menurut Kabid SD pada Disdikbud Pati Sa’dun, banyak orang tua yang memilih sekolah yang ada asramanya. Lalu, adanya sekolah terpadu juga.

”Sebenarnya sesuai aturan, jumlah siswa 20-28 orang. Ini bukan karena KB. kekurangan siswa ini lantaran animo masyarakat untuk sekolah di madrasah dan sekolah terpadu lainnya,” tuturnya. (adr/zen)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/