alexametrics
26.4 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Ketum Persipa: Laskar Saridin Tak Bisa Main di Pati, Ini Penyebabnya

PATI – Ketua Umum Persatuan Sepakbola Indonesia Pati (Persipa) Joni Kurnianto meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati memanggil kontraktor pengembang peremajaan lapangan Stadion Joyo Kusumo Pati. Pasalnya, pihak rekanan tak bisa menunjukkan sertifikat FIFA saat verifikasi lapangan.

Baca Juga : Verifikator PSSI Pertanyakan Sertifikat Standar FIFA Stadion Joyokusumo

Menurut Joni Kurnianto, Stadion Joyo Kusumo terancam tidak bisa dijadikan home base Persipa di ajang Liga 2 Nasional. Jika setelah diverifikasi PSSI, rumput sintetis stadion dinyatakan tidak memenuhi standar menggelar pertandingan nasional oleh FIFA.


Padahal menurut Joni, saat awal dicanangkan peremajaan rumput sintetis dari DPUTR menjanjikan bahwa rumput sintetis sudah standar FIFA dan bersertifikat.

”Kami tunggu (sertifikat FIFA) itu bisa nggak memenuhi. Jadi, memang persyaratan Liga 2 rumput sintetis harus ada sertifikat dari FIFA. Sementara ini, tidak ada sertifikatnya. Kalau begini kita tidak bisa main di Pati. Makanya, kemarin kami juga panggil Pak Arif dari DPUTR, Mas Kardi dari Diporapar,” kata Joni saat diwawancara awak media usai rapat Paripurna Internal DPRD, Senin (25/4).

Baca Juga :  Nataru, ASN Pati Dilarang Liburan

Anggota Exco Askab Jawa Tengah itu juga mengatakan, jika kontraktor pengembang tidak bisa menunjukkan sertifikat FIFA-nya, artinya pihaknya telah menyalahi kontrak awal.

Tentunya hal ini sangat disayangkan Joni lantaran pengadaan rumput sintetis tersebut memakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang besar. Penggantian rumput sintetis dilakukan pada 2020 lalu dengan memakan anggaran sekitar Rp 8,7 miliar.

”DPUTR panggil kontraktornya. Gimana rumputnya kok ndak standar FIFA. Kalau ndak bisa menunjukkan sertifikat berarti menyalahi kontrak. Dalam kontrak katanya standar FIFA,” imbuhnya.

Tidak adanya sertifikat FIFA ini juga berimplikasi pada nasib Persipa Pati di liga 2 Nasional Musim depan. Joni mengaku pusing karena harus mencari stadion home base baru untuk laga kandang Liga 2 Jika Stadion Joyokusumo tidak dapat digunakan.

Home base, kami juga belum tahu ini. Kami juga pusing juga akhirnya. Gara-gara seperti ini, berarti ndak sesuai kontrak. Harus diselesaikan DPUTR itu. Jangan menghabiskan uang banyak tetapi ndak bisa untuk main kan lucu,” tandasnya. (adr/ali)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Ketua Umum Persatuan Sepakbola Indonesia Pati (Persipa) Joni Kurnianto meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati memanggil kontraktor pengembang peremajaan lapangan Stadion Joyo Kusumo Pati. Pasalnya, pihak rekanan tak bisa menunjukkan sertifikat FIFA saat verifikasi lapangan.

Baca Juga : Verifikator PSSI Pertanyakan Sertifikat Standar FIFA Stadion Joyokusumo

Menurut Joni Kurnianto, Stadion Joyo Kusumo terancam tidak bisa dijadikan home base Persipa di ajang Liga 2 Nasional. Jika setelah diverifikasi PSSI, rumput sintetis stadion dinyatakan tidak memenuhi standar menggelar pertandingan nasional oleh FIFA.

Padahal menurut Joni, saat awal dicanangkan peremajaan rumput sintetis dari DPUTR menjanjikan bahwa rumput sintetis sudah standar FIFA dan bersertifikat.

”Kami tunggu (sertifikat FIFA) itu bisa nggak memenuhi. Jadi, memang persyaratan Liga 2 rumput sintetis harus ada sertifikat dari FIFA. Sementara ini, tidak ada sertifikatnya. Kalau begini kita tidak bisa main di Pati. Makanya, kemarin kami juga panggil Pak Arif dari DPUTR, Mas Kardi dari Diporapar,” kata Joni saat diwawancara awak media usai rapat Paripurna Internal DPRD, Senin (25/4).

Baca Juga :  Dinlutkan Pati Targetkan Bisa Produksi Garam Industri

Anggota Exco Askab Jawa Tengah itu juga mengatakan, jika kontraktor pengembang tidak bisa menunjukkan sertifikat FIFA-nya, artinya pihaknya telah menyalahi kontrak awal.

Tentunya hal ini sangat disayangkan Joni lantaran pengadaan rumput sintetis tersebut memakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang besar. Penggantian rumput sintetis dilakukan pada 2020 lalu dengan memakan anggaran sekitar Rp 8,7 miliar.

”DPUTR panggil kontraktornya. Gimana rumputnya kok ndak standar FIFA. Kalau ndak bisa menunjukkan sertifikat berarti menyalahi kontrak. Dalam kontrak katanya standar FIFA,” imbuhnya.

Tidak adanya sertifikat FIFA ini juga berimplikasi pada nasib Persipa Pati di liga 2 Nasional Musim depan. Joni mengaku pusing karena harus mencari stadion home base baru untuk laga kandang Liga 2 Jika Stadion Joyokusumo tidak dapat digunakan.

Home base, kami juga belum tahu ini. Kami juga pusing juga akhirnya. Gara-gara seperti ini, berarti ndak sesuai kontrak. Harus diselesaikan DPUTR itu. Jangan menghabiskan uang banyak tetapi ndak bisa untuk main kan lucu,” tandasnya. (adr/ali)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/