alexametrics
27.9 C
Kudus
Wednesday, June 22, 2022

Ungkap Penyelewengan 25 Ton Solar Bersubsidi di Pati, Polisi Tetapkan 12 Tersangka

PATI – Direktorat Tipidter Bareskrim Polri, Polda Jateng, bersama Polres Pati mengungkap perkara tindak pidana penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi. Polisi menetapkan 12 orang menjadi tersangka dalam kasus itu dan barang bukti (BB) 25 ton solar bersubsidi.

Kemarin (24/5), Polri menggelar ungkap kasus tindak pidana penyalahgunaan BBM jenis solar bersubsidi di salah satu gudang penyimpanan solar di Desa Dukuhmulyo, Jakenan, Pati. Penyalahgunaan BBM jenis solar yang disubsidi pemerintah itu, terjadi sejak 2021 sampai dengan sekarang di wilayah hukum Pati.

Ada sejumlah gudang yang telah diamankan pihak kepolisian. Pertama, gudang di Jalan Pati-Gembong, Kelurahan Muktiharjo, Margorejo; gudang di Jalan Juwana-Pucakwangi, Desa Dukuhmulyo, Jakenan; lokasi ketiga rombongan mobil ditangkap di Jalan Juwana Puncakwangi Desa Dukuhmulyo, Jakenan.


Dalam ungkap kasus kemarin, ada 12 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Para tersangka memiliki peran masing-masing. Mulai pemilik modal sampai dengan pengangkut BBM jenis solar bersubsidi.

”Tempat perkara kejadian (TPK) di Pati dan Jakarta. Kemudian untuk BB (barang bukti)-nya BBM solar dengan total 25 ton, mobil tangki warna putih biru tiga unit, toren penampung solar, empat unit mobil yang dimodivikasi, dan kapal tanker BBM Permata bermuatan solar 499 ribu liter di Jakarta,” jelas Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Agus Andrianto.

Baca Juga :  36 Desa di Pati Belum Ajukan Pencairan Dana Desa, Apa Sebab?

Terkait modus para pelaku, Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi menambahkan, mereka menampung BBM jenis solar di gudang tempat penyimpanan yang diperoleh dari sejumlah SPBU. Mereka kemudian mengangkut solar menggunakan kendaraan yang sudah dimodivikasi kemudian dijual.

Solar itu, dijual menggunakan mobil truk tangki kapasitas 24.000 liter dan 16.000 liter ke kapal-kapal nelayan dan ke Kapal Permata Nusantara. Para pelaku menjual BBM solar tersebut dengan harga di bawah harga solar industri Rp 10.000-Rp 11.000 per liter. ”Sehingga keuntungan yang diperoleh diperkirakan sekitar Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per liter. Dalam kasus ini, kerugian pemerintah diperkirakan mencapai Rp 4 miliar,” paparnya.

Atas perbuatan menyalahgunakan BBM solar bersubsidi pemerintah, para tersangka dijerat dengan Pasal 55 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak Bumi dan Gas (Migas) sebagaimana telah diubah dengan Pasal 40 Angka 9 UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda paling tinggi Rp 60 miliar. (adr/lin)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Direktorat Tipidter Bareskrim Polri, Polda Jateng, bersama Polres Pati mengungkap perkara tindak pidana penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi. Polisi menetapkan 12 orang menjadi tersangka dalam kasus itu dan barang bukti (BB) 25 ton solar bersubsidi.

Kemarin (24/5), Polri menggelar ungkap kasus tindak pidana penyalahgunaan BBM jenis solar bersubsidi di salah satu gudang penyimpanan solar di Desa Dukuhmulyo, Jakenan, Pati. Penyalahgunaan BBM jenis solar yang disubsidi pemerintah itu, terjadi sejak 2021 sampai dengan sekarang di wilayah hukum Pati.

Ada sejumlah gudang yang telah diamankan pihak kepolisian. Pertama, gudang di Jalan Pati-Gembong, Kelurahan Muktiharjo, Margorejo; gudang di Jalan Juwana-Pucakwangi, Desa Dukuhmulyo, Jakenan; lokasi ketiga rombongan mobil ditangkap di Jalan Juwana Puncakwangi Desa Dukuhmulyo, Jakenan.

Dalam ungkap kasus kemarin, ada 12 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Para tersangka memiliki peran masing-masing. Mulai pemilik modal sampai dengan pengangkut BBM jenis solar bersubsidi.

”Tempat perkara kejadian (TPK) di Pati dan Jakarta. Kemudian untuk BB (barang bukti)-nya BBM solar dengan total 25 ton, mobil tangki warna putih biru tiga unit, toren penampung solar, empat unit mobil yang dimodivikasi, dan kapal tanker BBM Permata bermuatan solar 499 ribu liter di Jakarta,” jelas Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Agus Andrianto.

Baca Juga :  Target Retribusi TPI Juwana Naik Jadi Rp 11,9 Miliar Beratkan Nelayan 

Terkait modus para pelaku, Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi menambahkan, mereka menampung BBM jenis solar di gudang tempat penyimpanan yang diperoleh dari sejumlah SPBU. Mereka kemudian mengangkut solar menggunakan kendaraan yang sudah dimodivikasi kemudian dijual.

Solar itu, dijual menggunakan mobil truk tangki kapasitas 24.000 liter dan 16.000 liter ke kapal-kapal nelayan dan ke Kapal Permata Nusantara. Para pelaku menjual BBM solar tersebut dengan harga di bawah harga solar industri Rp 10.000-Rp 11.000 per liter. ”Sehingga keuntungan yang diperoleh diperkirakan sekitar Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per liter. Dalam kasus ini, kerugian pemerintah diperkirakan mencapai Rp 4 miliar,” paparnya.

Atas perbuatan menyalahgunakan BBM solar bersubsidi pemerintah, para tersangka dijerat dengan Pasal 55 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak Bumi dan Gas (Migas) sebagaimana telah diubah dengan Pasal 40 Angka 9 UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda paling tinggi Rp 60 miliar. (adr/lin)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/