alexametrics
31.6 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

Ini Permintaan Terakhir Sumani, Sebelum Dieksekusi Hukuman Mati

PATI – Sumani, tersangka pembunuhan sekeluarga di Rembang dijatuhi hukuman mati. Saat ini, dia ditahan di Lapas IIB Pati. Sebelum dieksekusi mati ada permintaan yang ingin dia wujudkan. Yaitu mengikuti kegiatan kerohanian sehari-hari di lapas dengan tenang.

Saat ini, Sumani tengah berada di ruang isolasi Lapas II B Pati. Keamanan di sana terbilang ketat. Tak boleh keluar-masuk sembarangan. Kemana-mana harus didampingi penjaga.

Mengenai ruang isolasi, di sana ada empat kamar. Tiap kamar berisi satu orang. Fasilitasnya, kasur dan kamar mandi dalam. Ada pula teras dan tempat menjemur baju.


”Kalau wawancara dengan napi tidak boleh. Takutnya terjadi hal yang tak diinginkan. Karena Sumani statusnya tahanan yang akan dihukum mati, jadi ketat penjagaannya,” terang Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka. KPLP) Kelas II B Kabupaten Pati Kasno.

Kegiatan sehari-harinya pun dibatasi. Tak boleh mengikuti pembinaan keterampilan. Seperti menanam, membuat paving blok, memberi pakan lele. Itu semua tak boleh. Hanya mengikuti kegiatan spiritual saja.

Mulai pukul 07.00 pintu tempat isolasi dibuka. Kemudian Sumani mulai beraktifitas. Mulai dari memotong rumput hingga menyapu halaman. Itupun di lingkup ruang isolasi.

Setelah itu, kegiatan berlanjut sampai siang hari. Agendanya salat duhur berjamaah didampingi petugas. Lalu lanjut ke kamarnya.

Lalu pukul 16.00 ada pembinaan pengajian. Sumani bersama kiai (napi di sana), berdua mengaji di masjid. Itu sampai pukul 17.00. Kemudian, kembali ke kamar isolasi.

”Jadi jam buka di sana pukul 07.00. Kemudian agendanya salat duhur jamaah. Lalu mengaji pukul 16.00. Dan terakhir pintu ditutup pukul 17.00,” kata Kasno.

Baca Juga :  Dana Normalisasi Sungai Juwana Pati Tersisa Rp 100 M

Kasno mengatakan, sebulan setelah dipindahkan ke Lapas Pati, terpidana mati kasus pembunuhan satu keluarga di Rembang, Sumani, 45 menjadi rajin ibadah dan mengaji.

”Permintaan terakhir hanya dibiarkan beribadah saja. Selama ini, dia tidak aneh-aneh. Nurut dengan petugas,” katanya.

Selain itu, secara sosial, Sumani sehari-hari juga diketahui sebagai pribadi yang berperilaku baik dan menurut dengan petugas.

”Dia selama di sini baik, menurut. Kami suruh bersih-bersih atau memotong rumput dia nurut, tiap pagi. Komunikasi dengan napi dan yang lain baik,” katanya.

Kesno mengaku untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, Sumani sengaja diisolasi dari narapidana yang lain. Ia diberikan satu sel khusus disekat dengan teralis besi. Kendati demikian ia masih bisa berkomunikasi dengan tahanan lain.

Saat ditanya kapan Sumani dipindahkan ke Lapas Nusakambangan, Kepala KPLP belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut karena masih menunggu instruksi dari atasan. Begitupun terkait eksekusi matinya hingga kini belum ada kabar terbaru.

”Belum ada. Mungkin menunggu dari MA. Nantinya akan komunikasi lagi dengan Kanwil,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pada Februari 2021 lalu Sumani diketahui menghabisi nyawa empat orang sekeluarga pemilik Padepokan Seni Ongko Joyo Rembang.

Ia juga diketahui pernah melakukan upaya bunuh diri namun berhasil diselamatkan, akhirnya kepada pihak berwajib secara sukarela ia mengakui perbuatan keji yang dilakukannya.

Atas perbuatan tersebut, terdakwa Sumani terbukti melanggar Pasal 340 KUHP dan Pasal 80 Ayat (3) juncto Pasal 76C UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan dijatuhi hukuman mati. (him)

PATI – Sumani, tersangka pembunuhan sekeluarga di Rembang dijatuhi hukuman mati. Saat ini, dia ditahan di Lapas IIB Pati. Sebelum dieksekusi mati ada permintaan yang ingin dia wujudkan. Yaitu mengikuti kegiatan kerohanian sehari-hari di lapas dengan tenang.

Saat ini, Sumani tengah berada di ruang isolasi Lapas II B Pati. Keamanan di sana terbilang ketat. Tak boleh keluar-masuk sembarangan. Kemana-mana harus didampingi penjaga.

Mengenai ruang isolasi, di sana ada empat kamar. Tiap kamar berisi satu orang. Fasilitasnya, kasur dan kamar mandi dalam. Ada pula teras dan tempat menjemur baju.

”Kalau wawancara dengan napi tidak boleh. Takutnya terjadi hal yang tak diinginkan. Karena Sumani statusnya tahanan yang akan dihukum mati, jadi ketat penjagaannya,” terang Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka. KPLP) Kelas II B Kabupaten Pati Kasno.

Kegiatan sehari-harinya pun dibatasi. Tak boleh mengikuti pembinaan keterampilan. Seperti menanam, membuat paving blok, memberi pakan lele. Itu semua tak boleh. Hanya mengikuti kegiatan spiritual saja.

Mulai pukul 07.00 pintu tempat isolasi dibuka. Kemudian Sumani mulai beraktifitas. Mulai dari memotong rumput hingga menyapu halaman. Itupun di lingkup ruang isolasi.

Setelah itu, kegiatan berlanjut sampai siang hari. Agendanya salat duhur berjamaah didampingi petugas. Lalu lanjut ke kamarnya.

Lalu pukul 16.00 ada pembinaan pengajian. Sumani bersama kiai (napi di sana), berdua mengaji di masjid. Itu sampai pukul 17.00. Kemudian, kembali ke kamar isolasi.

”Jadi jam buka di sana pukul 07.00. Kemudian agendanya salat duhur jamaah. Lalu mengaji pukul 16.00. Dan terakhir pintu ditutup pukul 17.00,” kata Kasno.

Baca Juga :  Kades di Pati Diduga Selewengkan Dana JUT Rp 200 Juta

Kasno mengatakan, sebulan setelah dipindahkan ke Lapas Pati, terpidana mati kasus pembunuhan satu keluarga di Rembang, Sumani, 45 menjadi rajin ibadah dan mengaji.

”Permintaan terakhir hanya dibiarkan beribadah saja. Selama ini, dia tidak aneh-aneh. Nurut dengan petugas,” katanya.

Selain itu, secara sosial, Sumani sehari-hari juga diketahui sebagai pribadi yang berperilaku baik dan menurut dengan petugas.

”Dia selama di sini baik, menurut. Kami suruh bersih-bersih atau memotong rumput dia nurut, tiap pagi. Komunikasi dengan napi dan yang lain baik,” katanya.

Kesno mengaku untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, Sumani sengaja diisolasi dari narapidana yang lain. Ia diberikan satu sel khusus disekat dengan teralis besi. Kendati demikian ia masih bisa berkomunikasi dengan tahanan lain.

Saat ditanya kapan Sumani dipindahkan ke Lapas Nusakambangan, Kepala KPLP belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut karena masih menunggu instruksi dari atasan. Begitupun terkait eksekusi matinya hingga kini belum ada kabar terbaru.

”Belum ada. Mungkin menunggu dari MA. Nantinya akan komunikasi lagi dengan Kanwil,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pada Februari 2021 lalu Sumani diketahui menghabisi nyawa empat orang sekeluarga pemilik Padepokan Seni Ongko Joyo Rembang.

Ia juga diketahui pernah melakukan upaya bunuh diri namun berhasil diselamatkan, akhirnya kepada pihak berwajib secara sukarela ia mengakui perbuatan keji yang dilakukannya.

Atas perbuatan tersebut, terdakwa Sumani terbukti melanggar Pasal 340 KUHP dan Pasal 80 Ayat (3) juncto Pasal 76C UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan dijatuhi hukuman mati. (him)

Most Read

Artikel Terbaru

/