alexametrics
26.2 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Pencegahan Kekerasan Anak di Pati Belum Optimal

PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati baru-baru ini membentuk 300 desa pencegahan kekerasan pada anak. Tampaknya, pembentukan tim pencegahan kekerasan itu belum optimal. Pasalnya kekerasan pada anak dan perempuan 2020-2021 ini mengalami kenaikan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Pati kekerasan yang melibatkan anak ini meningkat berkisar 10-20 persen dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

“Memang angka kekerasan terhadap perempuan dan anak selama pandemi Covid-19 ini mengalami peningkatan. Seratus lebih. Itu yang laporan. Ada yang laporan dari PPA Polres, ada yang dari kami. Peningkatan 10 sampai 20 persen. Kebanyakan anak,” jelas Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada Dinsos P3AKB Pati Etik Tri Hartanti.


Adanya kasus kekerasan pada anak tersebut, pihaknya mengaku telah melakukan beberapa upaya untuk menekannya. Yakni, membentuk tim khusus pada ranah akar rumput. Ratusan desa diberdayakan guna menekan angka kekerasan pada perempuan dan anak.

Telah ada sekitar ratusan desa yang dibentuk di Kabupaten Pati. Pembentukan ini bertujuan  untuk memotong sedini mungkin angka kekerasan pada perempuan dan anak.

“Upaya kami membentuk desa ramah perempuan dan peduli anak. Sudah membentuk sekitar 300 desa. Ketika ada kekerasan perempuan dan anak, biar tahu apa yang harus dilakukan sudah tahu,” terangnya.

Baca Juga :  Gegara Sepi Petugas, Satu Pasien Di IGD RSUD Pati Meninggal Dunia

Tim ini sendiri dalam keterangan Etik secara legal formalnya melalui SK kepala desa. Yang nanti dalam kerjanya, tim ini membantu melaporkan tindakan kekerasan ke ranah tertentu. Seperti pada pihak desa hingga kepolisian terdekat atau langsung ke tingkat kabupaten.

“Tapi Polsek belum ada aturan khusus untuk perempuan dan anak. Biasanya nanti langsung ke Dinsos sebagai tim leadernya penanganan kasus. Nanti kami koordinasi dengan tim PPT tingkat kabupaten. Kalau ini sampai ke ranah hukum, akan kami dampingi ke PPA Polres,” paparnya.

Sedangkan pada tingkat kabupaten sendiri, melalui Dinsos juga telah membentuk tim. Tim ini gabungan dari sejumlah institusi terkait dalam proses pendampingan korban kekerasan.

Disebutkan Etik tim ini tergabung dalam unit terpadu perempuan dan anak. Terdiri dari beberapa OPD. Mulai dari Dinas Kesehatan, Satpol PP, Polres, Bapas, kejaksaan, LP,  juga Pengadilan. Serta terlibatnya organisasi perempuan serta LSM perlindungan anak.

”Kami  mendampingi sampai korban mau bergaul sama temen-temennya sama lingkungannya, seperti itu,” pungkasnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati baru-baru ini membentuk 300 desa pencegahan kekerasan pada anak. Tampaknya, pembentukan tim pencegahan kekerasan itu belum optimal. Pasalnya kekerasan pada anak dan perempuan 2020-2021 ini mengalami kenaikan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Pati kekerasan yang melibatkan anak ini meningkat berkisar 10-20 persen dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

“Memang angka kekerasan terhadap perempuan dan anak selama pandemi Covid-19 ini mengalami peningkatan. Seratus lebih. Itu yang laporan. Ada yang laporan dari PPA Polres, ada yang dari kami. Peningkatan 10 sampai 20 persen. Kebanyakan anak,” jelas Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada Dinsos P3AKB Pati Etik Tri Hartanti.

Adanya kasus kekerasan pada anak tersebut, pihaknya mengaku telah melakukan beberapa upaya untuk menekannya. Yakni, membentuk tim khusus pada ranah akar rumput. Ratusan desa diberdayakan guna menekan angka kekerasan pada perempuan dan anak.

Telah ada sekitar ratusan desa yang dibentuk di Kabupaten Pati. Pembentukan ini bertujuan  untuk memotong sedini mungkin angka kekerasan pada perempuan dan anak.

“Upaya kami membentuk desa ramah perempuan dan peduli anak. Sudah membentuk sekitar 300 desa. Ketika ada kekerasan perempuan dan anak, biar tahu apa yang harus dilakukan sudah tahu,” terangnya.

Baca Juga :  Temukan Kasus Covid-19, Pemkab Pati Hentikan PTM

Tim ini sendiri dalam keterangan Etik secara legal formalnya melalui SK kepala desa. Yang nanti dalam kerjanya, tim ini membantu melaporkan tindakan kekerasan ke ranah tertentu. Seperti pada pihak desa hingga kepolisian terdekat atau langsung ke tingkat kabupaten.

“Tapi Polsek belum ada aturan khusus untuk perempuan dan anak. Biasanya nanti langsung ke Dinsos sebagai tim leadernya penanganan kasus. Nanti kami koordinasi dengan tim PPT tingkat kabupaten. Kalau ini sampai ke ranah hukum, akan kami dampingi ke PPA Polres,” paparnya.

Sedangkan pada tingkat kabupaten sendiri, melalui Dinsos juga telah membentuk tim. Tim ini gabungan dari sejumlah institusi terkait dalam proses pendampingan korban kekerasan.

Disebutkan Etik tim ini tergabung dalam unit terpadu perempuan dan anak. Terdiri dari beberapa OPD. Mulai dari Dinas Kesehatan, Satpol PP, Polres, Bapas, kejaksaan, LP,  juga Pengadilan. Serta terlibatnya organisasi perempuan serta LSM perlindungan anak.

”Kami  mendampingi sampai korban mau bergaul sama temen-temennya sama lingkungannya, seperti itu,” pungkasnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/