alexametrics
24.1 C
Kudus
Friday, November 26, 2021

Pembangunan Alun-Alun Pati Bagian Timur Terlambat 10 Hari, Kok Bisa?

PATI – Proses pembangunan alun-alun timur di kabupaten Pati sempat terlambat 10 hari. Surat Perintah Kerja (SPK) paving pembangunan 12 November. Namun, baru selesai 22 November ini.

Keterlambatan ini diakui oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati. Molornya proyek dikarenakan keterlambaran datangnya salah satu material bangunan.

Kabid Cipta Karya DPUTR Pati Arief Wahyudi menerangkan SPK pekerjaan pembangunan Alun-alun timur itu daam rencana SPK pada 12 November. Namun dalam pembangunannya, alun-alun yang terletak di Jalan Kalidoro itu baru dapat diselesaikan 22 November lalu.

“Memang untuk tanggal berakhirnya SPK pada 12 november. Kalo untuk progres ya sudah selesai kemarin (22/11). Sempat molor,” terangnya.

Dia menjelaskan keterlambatan pembangunan yang sempat terganjal akibat paving yang diperlukan datang tidak sesuai jadwal itu. Alasannya, paving yang di butuhkan dalam proses pembangunan tersebut cukup banyak.

”Kalau untuk kendala yang menyebabkan molornya pekerjaan dikarenakan pengiriman paving yang tidak bisa sesuai schedule. Untuk volume paving keseluruhan 12.988 meter persegi. Volume pekerjaan paving memang besar,” katanya saat dikonfirmasi kemarin (23/11).

Sementara itu, pihaknya memberikan kesempatan penyelesaian pekerjaan. Namun, dengan disertakan denda. ”Ini sudah selesai digarap. Saat ini, proses untuk administrasi denda. Hitungannya, per hari dendanya,” paparnya.

Baca Juga :  Disdikbud Pati Sebut PTM Jadi Syarat Sekolah Ikuti Asesmen Nasional

Di sisi lain, fasilitas di alun-alun tersebut sebagian sudah terpenuhi. Di antaranya, Arief menyebut seperti musala, lahan parkir, hingga ketersediaan air sudah siap.

”Dari kami, kemarin sudah terpenuhi semua untuk masalah los PKL-nya. Selain itu, sudah ada kamar mandi dua unit, fasilitas parkir, dan bangunan tendon air juga,” bebernya.

Bupati Haryanto menambahkan, pihaknya sudah mendata 300-an pedagang untuk menempati lapak dagangan. Harapannya, pedagang itu bisa terpenuhi di sana (alu-alun baru, Red).

”Yang jelas by name sudah ada dan diverifikasi. Jadi tidak ada penempatan baru untuk pedagan selain PKL di perhutani. Nanti kami musyawarahkan teknisnya,” imbuhnya.

Jika sudah selesai, Haryanto meminta PKL untuk segera berjualan disana. Karena sudah diupayakan membangun alun-alun baru.”Yang ada ini dimanfaatkan. Pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin. Yang lain direfocusing, ini dipertahankan untuk mengamodir pedagang,” katanya.

Dia menilai, laris dan tidak tergantung dari PKL. Harus memperhitungkan pelayanan kepada pelanggan. Masakannya bagaimana, pelayanan, dan menarik pelanggan bagaimana. ”Jadi jangan meyalahkan pemerintah lagi. Gara-gara tidak payu terus dipindah. Harus berusaha untuk menarik pelanggan,” ujarnya.






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Proses pembangunan alun-alun timur di kabupaten Pati sempat terlambat 10 hari. Surat Perintah Kerja (SPK) paving pembangunan 12 November. Namun, baru selesai 22 November ini.

Keterlambatan ini diakui oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati. Molornya proyek dikarenakan keterlambaran datangnya salah satu material bangunan.

Kabid Cipta Karya DPUTR Pati Arief Wahyudi menerangkan SPK pekerjaan pembangunan Alun-alun timur itu daam rencana SPK pada 12 November. Namun dalam pembangunannya, alun-alun yang terletak di Jalan Kalidoro itu baru dapat diselesaikan 22 November lalu.

“Memang untuk tanggal berakhirnya SPK pada 12 november. Kalo untuk progres ya sudah selesai kemarin (22/11). Sempat molor,” terangnya.

Dia menjelaskan keterlambatan pembangunan yang sempat terganjal akibat paving yang diperlukan datang tidak sesuai jadwal itu. Alasannya, paving yang di butuhkan dalam proses pembangunan tersebut cukup banyak.

”Kalau untuk kendala yang menyebabkan molornya pekerjaan dikarenakan pengiriman paving yang tidak bisa sesuai schedule. Untuk volume paving keseluruhan 12.988 meter persegi. Volume pekerjaan paving memang besar,” katanya saat dikonfirmasi kemarin (23/11).

Sementara itu, pihaknya memberikan kesempatan penyelesaian pekerjaan. Namun, dengan disertakan denda. ”Ini sudah selesai digarap. Saat ini, proses untuk administrasi denda. Hitungannya, per hari dendanya,” paparnya.

Baca Juga :  Dilalap Si Jago Merah, Sebuah Rumah di Pati Ludes Terbakar 

Di sisi lain, fasilitas di alun-alun tersebut sebagian sudah terpenuhi. Di antaranya, Arief menyebut seperti musala, lahan parkir, hingga ketersediaan air sudah siap.

”Dari kami, kemarin sudah terpenuhi semua untuk masalah los PKL-nya. Selain itu, sudah ada kamar mandi dua unit, fasilitas parkir, dan bangunan tendon air juga,” bebernya.

Bupati Haryanto menambahkan, pihaknya sudah mendata 300-an pedagang untuk menempati lapak dagangan. Harapannya, pedagang itu bisa terpenuhi di sana (alu-alun baru, Red).

”Yang jelas by name sudah ada dan diverifikasi. Jadi tidak ada penempatan baru untuk pedagan selain PKL di perhutani. Nanti kami musyawarahkan teknisnya,” imbuhnya.

Jika sudah selesai, Haryanto meminta PKL untuk segera berjualan disana. Karena sudah diupayakan membangun alun-alun baru.”Yang ada ini dimanfaatkan. Pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin. Yang lain direfocusing, ini dipertahankan untuk mengamodir pedagang,” katanya.

Dia menilai, laris dan tidak tergantung dari PKL. Harus memperhitungkan pelayanan kepada pelanggan. Masakannya bagaimana, pelayanan, dan menarik pelanggan bagaimana. ”Jadi jangan meyalahkan pemerintah lagi. Gara-gara tidak payu terus dipindah. Harus berusaha untuk menarik pelanggan,” ujarnya.






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru