alexametrics
29 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Jadi Biang Jalan Rusak, Bupati Pati Larang Truk Lalui Jalur Alternatif

Sementara itu, kemacetan di Jalan Pantura Rembang-Pati akibat pembangunan jalan tersebut juga membawa dampak lain. Selain jalan rusak, sejumlah jalan alternatif juga mengalami keramaian lalu lintas. Sehingga, mengganggu aktivitas warga setempat.

Bahkan, pada Kamis (24/3) dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus, terdapat sejumlah titik yang membuat lalu lintas padat merayap. Diantaranya di area depan SDN Jadi. Kendaraan didominasi oleh truk bermuatan. Padahal, lebar jalan hanya sekitar 10 meter. Digunakan berpapasan. Sehingga menghambat laju kendaraan. Sekitar satu kilo meter kemudian, mulai tampak sejumlah jalan rusak tepatnya di area Desa Megulung, Kecamatan Sumber.

Kepadatan juga terjadi di area pertigaan Desa Sekararum, Kecamatan Sumber. Di sini ada warga yang mengarahkan jalan. Lalu lintas juga cukup ramai ketika ada kendaraan berpapasan. Namun, jika sudah tidak ada kendaraan yang berpapasan relatif lancar.


Adha, salah satu warga yang berjaga mengaku setiap hari ada giliran piket untuk mengatur lalu lintas. Di sini, kata dia, kendaraan ramai jika menjelang malam. “Sore malam ramai,” katanya.

Baca Juga :  Anggota DPRD Sebut Prostitusi ke Online Hotel dan HIV/AIDS Sulit Dimonitor

Warga yang berjaga itu membawa bakul. Untuk menerima uang dari pengendara. Dengan pecahan Rp 2 ribuan atau koin receh.

Baca Juga : Perbaikan Jalur Pati-Rembang Dilanjutkan, Pengendara Terjebak Macet 9 Jam

Hal serupa juga terjadi di titik-titik lain. Seperti di sekitar Jembatan Sekarsari, Kecamatan Sumber. Hal ini terjadi karena Jembatan mengalami kerusakan. Namun, masih bisa dilewati satu mobil. Sehingga kendaraan perlu bergantian.

Ada empat orang yang berjaga. Masing-masing sisi jembatan dijaga dua orang. Kasturi, salah satu warga yang berjaga mengatakan, di sini macet jika malam hari. Kadang ada bus juga bus yang melintas. Namun, ia mengaku tidak terganggu akan mobilitas tersebut.

Ia bersama teman-temannya sudah berjaga sekitar sepekan. Bergantian dengan warga lainnya. Menurutnya, dengan mengatur lalu lintas itu, ia mengaku mendapatkan penghasilan tambahan dari pengendara yang melintas. Namun tak menentu. Setengah hari berjaga mendapatkan sekitar Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu. “Sehari 25 ribu-30 ribu, setengah hari,” katanya. (adr/vah/him)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi





Reporter: Andre Faidhil Falah

Sementara itu, kemacetan di Jalan Pantura Rembang-Pati akibat pembangunan jalan tersebut juga membawa dampak lain. Selain jalan rusak, sejumlah jalan alternatif juga mengalami keramaian lalu lintas. Sehingga, mengganggu aktivitas warga setempat.

Bahkan, pada Kamis (24/3) dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus, terdapat sejumlah titik yang membuat lalu lintas padat merayap. Diantaranya di area depan SDN Jadi. Kendaraan didominasi oleh truk bermuatan. Padahal, lebar jalan hanya sekitar 10 meter. Digunakan berpapasan. Sehingga menghambat laju kendaraan. Sekitar satu kilo meter kemudian, mulai tampak sejumlah jalan rusak tepatnya di area Desa Megulung, Kecamatan Sumber.

Kepadatan juga terjadi di area pertigaan Desa Sekararum, Kecamatan Sumber. Di sini ada warga yang mengarahkan jalan. Lalu lintas juga cukup ramai ketika ada kendaraan berpapasan. Namun, jika sudah tidak ada kendaraan yang berpapasan relatif lancar.

Adha, salah satu warga yang berjaga mengaku setiap hari ada giliran piket untuk mengatur lalu lintas. Di sini, kata dia, kendaraan ramai jika menjelang malam. “Sore malam ramai,” katanya.

Baca Juga :  Bupati Haryanto Antarkan Pati Raih Tujuh WTP BPK Berturut-turut

Warga yang berjaga itu membawa bakul. Untuk menerima uang dari pengendara. Dengan pecahan Rp 2 ribuan atau koin receh.

Baca Juga : Perbaikan Jalur Pati-Rembang Dilanjutkan, Pengendara Terjebak Macet 9 Jam

Hal serupa juga terjadi di titik-titik lain. Seperti di sekitar Jembatan Sekarsari, Kecamatan Sumber. Hal ini terjadi karena Jembatan mengalami kerusakan. Namun, masih bisa dilewati satu mobil. Sehingga kendaraan perlu bergantian.

Ada empat orang yang berjaga. Masing-masing sisi jembatan dijaga dua orang. Kasturi, salah satu warga yang berjaga mengatakan, di sini macet jika malam hari. Kadang ada bus juga bus yang melintas. Namun, ia mengaku tidak terganggu akan mobilitas tersebut.

Ia bersama teman-temannya sudah berjaga sekitar sepekan. Bergantian dengan warga lainnya. Menurutnya, dengan mengatur lalu lintas itu, ia mengaku mendapatkan penghasilan tambahan dari pengendara yang melintas. Namun tak menentu. Setengah hari berjaga mendapatkan sekitar Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu. “Sehari 25 ribu-30 ribu, setengah hari,” katanya. (adr/vah/him)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi





Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/