alexametrics
28.4 C
Kudus
Wednesday, September 28, 2022

Maraknya Penambangan Liar di Pegunungan Kendeng Pati Sebabkan Sumber Mata Air Berkurang

PATI – Penambangan liar di wilayah Pegunungan Kendeng, Sukolilo, Pati dinilai warga salahi aturan. Sebab, salah satu lokasi penambangan menyentuh wilayah karst. Akibatnya, sumber mata air di wilayah Sukolilo ini berkurang.

Salah satu warga Sukolilo Hartono menuturkan, pertambangan kian masif di wilayah Sukolilo. Meski tak berizin, kisaran 10 area pertambangan masih beroperasi.

”Setahu saya hanya ada satu yang sudah berizin operasional. Sisanya kurang lebih 10 area tak memiliki. Bahkan salah satu tambang ini menabrak area karst yang dilindungi,” tuturnya.


Akibatnya, beberapa sumber mata air di sana debit airnya berkurang. Bahkan ada yang sudah hilang. Soalnya zona tangkapan airnya terkena pertambangan.

”Waktu saya kecil dan pertambangan tak marak ini banyak mata air di Sukolilo. Belakang rumah saya dulu ada mata air. Sekarang sudah tak ada. Sumber mata air lainnya juga mengering. Airnya berkurang,” paparnya.

Menurutnya pertambangan di lokasi tersebut sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat sekitar. Dari mulai persoalan kesehatan hingga penyebab kerusakan jalan.

”Dampak adanya tambang ini secara tak langsung kan merusak lingkungan. Debu kendaraan berat yang melintas juga mengganggu kesehatan,” terang salah satu warga Sukolilo Sutrisno.

Baca Juga :  Dinas Pastikan Stok Hewan Kurban saat Idul Adha di Pati Aman

”Truk tambang ini kebut-kebutan karena mengejar target. Sehingga menimbulkan kecelakaan, membuat jalan mudah rusak dan kerja mereka tidak ada aturan. Menganggu kenyaman masyarakat,” lanjutnya.

Kepala ESDM Kendeng Muria Pati Irwan Edhie Kuncoro menyatakan, bahwa perusahaan tambang sepanjang jalan Sukolilo-Prawoto hanya satu yang mengantong IUP OP yakni PT Tri Lestari yang terletak di Desa Wegil.

”Jadi hanya satu pertambangan saja yang sudah memiliki izin operasional. Itu sah saja untuk menambang,” imbuhnya.

Dia menambahkan, tak hanya pihaknya saja yang dilibatkan soal izin pertambangan ini. Misalnya saja pada izin lingkungan juga melibatkan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

”Soal izinnya banyak. Ada izin lingkungan juga. Persoalannya itu, baru mempunyai izin ekplorasi tapi sudah beraktifitas tambangnya. Padahal itu belum boleh. Masih harus melewati banyak tahapan lagi,” tukasnya.

Dia menjelaskan, kewenangan ESDM hanya melakukan pembinaan dan pengawasan. Sedangkan penindakan menjadi ranah aparat penegak hukum (APH). ”Kami ini hanya sebatas pembinaan saja. Memang banyak tambang yang colong-colongan dengan kami. Soal penindakan, seharusnya masyarakat melapor ke APH. Jangan kami saja yang disalahkan,” pungkasnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Penambangan liar di wilayah Pegunungan Kendeng, Sukolilo, Pati dinilai warga salahi aturan. Sebab, salah satu lokasi penambangan menyentuh wilayah karst. Akibatnya, sumber mata air di wilayah Sukolilo ini berkurang.

Salah satu warga Sukolilo Hartono menuturkan, pertambangan kian masif di wilayah Sukolilo. Meski tak berizin, kisaran 10 area pertambangan masih beroperasi.

”Setahu saya hanya ada satu yang sudah berizin operasional. Sisanya kurang lebih 10 area tak memiliki. Bahkan salah satu tambang ini menabrak area karst yang dilindungi,” tuturnya.

Akibatnya, beberapa sumber mata air di sana debit airnya berkurang. Bahkan ada yang sudah hilang. Soalnya zona tangkapan airnya terkena pertambangan.

”Waktu saya kecil dan pertambangan tak marak ini banyak mata air di Sukolilo. Belakang rumah saya dulu ada mata air. Sekarang sudah tak ada. Sumber mata air lainnya juga mengering. Airnya berkurang,” paparnya.

Menurutnya pertambangan di lokasi tersebut sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat sekitar. Dari mulai persoalan kesehatan hingga penyebab kerusakan jalan.

”Dampak adanya tambang ini secara tak langsung kan merusak lingkungan. Debu kendaraan berat yang melintas juga mengganggu kesehatan,” terang salah satu warga Sukolilo Sutrisno.

Baca Juga :  Jebol Tembok, Maling Minimarket di Batangan Pati Gasak Puluhan Juta, Begini Kronologinya

”Truk tambang ini kebut-kebutan karena mengejar target. Sehingga menimbulkan kecelakaan, membuat jalan mudah rusak dan kerja mereka tidak ada aturan. Menganggu kenyaman masyarakat,” lanjutnya.

Kepala ESDM Kendeng Muria Pati Irwan Edhie Kuncoro menyatakan, bahwa perusahaan tambang sepanjang jalan Sukolilo-Prawoto hanya satu yang mengantong IUP OP yakni PT Tri Lestari yang terletak di Desa Wegil.

”Jadi hanya satu pertambangan saja yang sudah memiliki izin operasional. Itu sah saja untuk menambang,” imbuhnya.

Dia menambahkan, tak hanya pihaknya saja yang dilibatkan soal izin pertambangan ini. Misalnya saja pada izin lingkungan juga melibatkan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

”Soal izinnya banyak. Ada izin lingkungan juga. Persoalannya itu, baru mempunyai izin ekplorasi tapi sudah beraktifitas tambangnya. Padahal itu belum boleh. Masih harus melewati banyak tahapan lagi,” tukasnya.

Dia menjelaskan, kewenangan ESDM hanya melakukan pembinaan dan pengawasan. Sedangkan penindakan menjadi ranah aparat penegak hukum (APH). ”Kami ini hanya sebatas pembinaan saja. Memang banyak tambang yang colong-colongan dengan kami. Soal penindakan, seharusnya masyarakat melapor ke APH. Jangan kami saja yang disalahkan,” pungkasnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru