alexametrics
24.2 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Merugi Gegara Pandemi, Agen Travel di Pati Terpaksa Jual Aset

PATI – Melandainya pandemi Covid-19 tampaknya masih tetap berdampak. Salah satu agen bus pariwisata di Kabupaten Pati menjual asetnya hingga 10 kendaraan. Bahkan merugi Rp 7 miliar.

Mengatakan, walaupun pandemi Covid-19 melandai, belum ada perkembangan baik terhadap usaha bus pariwisatanya itu. Belum ada pelanggan sama sekali.

”Belum ada perkembangan. Tidak ada pesanan travel. Masih merugi. Soalnya, orang bepergian keluar pulau syaratnya macem-macem. Jadinya sepi,” katanya.


Adanya hal itu, pihak merugi Rp 7 miliar. Tak hanya itu, 12 busnya terjual 10.

”Kerugiannya ya bus saya habis. Tingga dua aset saya. 10 bus dikembalikan ke lesing karena tidak kuat bayar hutang,” jelasnya.

Dia menambahkan, bus yang terjual itu untuk melunasi hutang miliaran rupiahnya termasuk bunganya. Pasalnya, tak ada pemasukan lain dan dikejar hutang.

”Karena ada korona ini tidak ada pemasukan. Saya dikejar-kejar debt collector. Saya jual semuanya aja. Sudah pusing saya,” keluhnya.

Harga bus yang terjual itu bervariasi. Ada yang Rp 700 juta. Ada pula yang mencapai Rp 800 juta. ”Kalau baru ya harganya sampai Rp 1,8 M. Jual bekas ya segitu harganya. Ruginya banyak sekali. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah tak kuat bayar hutang,” tukasnya.

Baca Juga :  Pembangunan Alun-Alun Pati Bagian Timur Terlambat 10 Hari, Kok Bisa?

Sisa asetnya pun “mangkrak”. Tidak beroperasi selama pandemi ini. Karena kebijakan pemerintah mengharuskan syarat-syarat bepergian.

”Sisa dua bus pun belum beroperasi ini. Mungkin karena syarat-syarat yang ribet. Ada PCR, kartu vaksinasi covid-19, dan lainnya,” pungkasnya.

Dampak lain juga dirasakan para pekerjanya. Karena tak sanggup membayar gaji, seluruh karyawannya pun terpaksa dia berhentikan.

”Tak mampu bayar. Karyawan saya berhentikan dulu. Sudah 1 tahun delapan bulan. Mungkin mereka alih profesi,” ucapnya.

Dia berharap pemerintah mau berpihak kepada agen-agen bus lain yang mengalami nasib serupa. Setidaknya para penagih hutang ditekan dulu.

”Pemerintah campur tangan lah. Katakanlah, restrukturisasi kredit itu diperhatikan. Soalnya, lesingnya pada kurang ajar,” harapnya. (him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Melandainya pandemi Covid-19 tampaknya masih tetap berdampak. Salah satu agen bus pariwisata di Kabupaten Pati menjual asetnya hingga 10 kendaraan. Bahkan merugi Rp 7 miliar.

Mengatakan, walaupun pandemi Covid-19 melandai, belum ada perkembangan baik terhadap usaha bus pariwisatanya itu. Belum ada pelanggan sama sekali.

”Belum ada perkembangan. Tidak ada pesanan travel. Masih merugi. Soalnya, orang bepergian keluar pulau syaratnya macem-macem. Jadinya sepi,” katanya.

Adanya hal itu, pihak merugi Rp 7 miliar. Tak hanya itu, 12 busnya terjual 10.

”Kerugiannya ya bus saya habis. Tingga dua aset saya. 10 bus dikembalikan ke lesing karena tidak kuat bayar hutang,” jelasnya.

Dia menambahkan, bus yang terjual itu untuk melunasi hutang miliaran rupiahnya termasuk bunganya. Pasalnya, tak ada pemasukan lain dan dikejar hutang.

”Karena ada korona ini tidak ada pemasukan. Saya dikejar-kejar debt collector. Saya jual semuanya aja. Sudah pusing saya,” keluhnya.

Harga bus yang terjual itu bervariasi. Ada yang Rp 700 juta. Ada pula yang mencapai Rp 800 juta. ”Kalau baru ya harganya sampai Rp 1,8 M. Jual bekas ya segitu harganya. Ruginya banyak sekali. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah tak kuat bayar hutang,” tukasnya.

Baca Juga :  Pembangunan Alun-Alun Pati Bagian Timur Terlambat 10 Hari, Kok Bisa?

Sisa asetnya pun “mangkrak”. Tidak beroperasi selama pandemi ini. Karena kebijakan pemerintah mengharuskan syarat-syarat bepergian.

”Sisa dua bus pun belum beroperasi ini. Mungkin karena syarat-syarat yang ribet. Ada PCR, kartu vaksinasi covid-19, dan lainnya,” pungkasnya.

Dampak lain juga dirasakan para pekerjanya. Karena tak sanggup membayar gaji, seluruh karyawannya pun terpaksa dia berhentikan.

”Tak mampu bayar. Karyawan saya berhentikan dulu. Sudah 1 tahun delapan bulan. Mungkin mereka alih profesi,” ucapnya.

Dia berharap pemerintah mau berpihak kepada agen-agen bus lain yang mengalami nasib serupa. Setidaknya para penagih hutang ditekan dulu.

”Pemerintah campur tangan lah. Katakanlah, restrukturisasi kredit itu diperhatikan. Soalnya, lesingnya pada kurang ajar,” harapnya. (him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/