alexametrics
31.6 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Dahlan Iskan Puji “Kegilaan” Safin

PATI – Setelah berkunjung ke Blora dan Rembang, Dahlan Iskan melanjutkan perjalanannya ke Pati Kemarin. Acaranya mengisi kuliah umum Institute of Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) dan berziarah ke makam KH. Syekh Ahmad Mutamakkin di Desa Kajen, Margoyo, Pati. Setelah itu berkunjung ke PSG Pati di Desa Mojoagung, Trangkil. Sosok yang biasa dipanggil DI itu juga sempat memuji sekolah bola yang didirikan Wakil Bupati Pati Saiful Arifin.

”Orang ini (Wakil Bupati Pati Safin, Red) “gila” yang ”gila”-nya beneran. Kenapa? Karena baru Safin (Saiful Arifin) inilah yang mendirikan sekolah sepak bola dengan tujuh lapangan sekaligus,” ucapnya.

DI menunjuk beberapa lapangan yang tengah dikembangkan Safin ini. ”Lihat di sini. Pemain sedang latihan. Rumputnya sintetis. Ini ada yang rumput asli. Lapangannya ada tribunnya,” tuturnya sambil menunjuk beberapa lapangan PSG Pati itu.


Dirinya sedikit menceritakan kisah Safin. ”Lihat rumahnya beliau di ujung sana (arah selatan). Di pojokan sana. Dia pernah jadi tukang tambal ban. Kemudian bisa jaya seperti ini. berbuat segila-gilanya dalam membina sepak bola. Saat ini sudah ada 150 siswa di seluruh Indonesia. Anda luar biasa,” jelasnya.

Sebelum berkunjung ke markas PSG Pati, DI ke IPMAFA Margoyoso. Dia didampingi Direktur Radar Kudus Baehaqi dan disambut Rektor IPMAFA KH Abdul Ghofar Rozin.

Rombongan bersama-sama ziarah ke makam Ahmad Mutamakkin.

Setelah itu, rombongan menuju masjid di kompleks itu. Diperkirakan usia masjid ratusan tahun.

Muhammad Zuli Rizal sebagai pemandu mengungkapkan situs-situs peninggalan tokoh-tokoh besar di Kajen selayaknya perlu dikenal dan dilestarikan. Supaya generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya bangsa.  Ia menyebutkan sejumlah situs komplek Masjid Kajen. Di antaranya mimbar, dairoh dan terdapat sejumlah ornamen simbolik. Seperti kuntul nucuk mbulan, naga ajisaka, gajah trisula, gajah trisula, sulur bunga mekar, sing pendetky, pohon rakit, papan bersurat, dan dairoh langit-langit.

Baca Juga :  Perbaikan Jalur Pati-Rembang Dilanjutkan, Pengendara Terjebak Macet 9 Jam

Sekitar pukul 08.30 DI memasuki aula IMPAFA memberikan kuliah umum. Beberapa mahasiswa terlihat naik ke panggung bersama Dahlan Iskan. Dia memberi beberapa pertanyaan.

Dalam seminarnya DI mengungkapkan berbisnis itu seperti naik sepeda. ”Semuanya bisa naik sepeda, tapi pernahkan kursus naik sepeda? Bahkan, tidak ada orang yang membuka kursus bersepeda. Atau mungkin pernah ikut seminar cara-cara naik sepeda. Kan tidak ada,” lanjutnya.

Dia meminta me-review bagaimana dahulu bisa naik sepeda. Coba diingat-ingat bagaimana bisa. ”Kan pertama-tama megang-megang, menuntun sepeda. Kemudian mencoba, lalu jatuh. Lalu bilang aku tidak mau naik sepeda lagi karena kemarin jatuh. Mulai besok ndak mau lagi naik sepeda. Kan tidak ada yang seperti itu. masih tetap latihan,” pintanya.

Jadi, usaha itu seperti naik sepeda. Kalau tidak mencoba tidak akan pernah bisa. Mencoba lalu jatuh tidak pernah kapok untuk mencoba. Sehingga bisa naik sepeda. ”Itulah berbisnis. Karena yang penting memulainya,” paparnya.

Menurut DI yang penting mahasiswa pasti sudah punya niat baik. Setelah itu, langkah berikutnya lakukan yang ingin dilakukan. Karena niatnya sudah baik. Karena anda punya zaman sendiri.

”Saya termasuk yang tidak suka berpesan. Karena saya ini sudah orang tua. Mahasiswa ini cucu saya. Zaman ini sudah tak cocok. Banyak orang memberi nasehat yang terlalu dipaksanakan. Sehingga nasehat itu tak cocok. Banyak mahasiswa membuang waktu untuk menerima nasehat yang dalam hatinya menolak itu,” kata DI kepada beberapa mahasiswa.






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Setelah berkunjung ke Blora dan Rembang, Dahlan Iskan melanjutkan perjalanannya ke Pati Kemarin. Acaranya mengisi kuliah umum Institute of Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) dan berziarah ke makam KH. Syekh Ahmad Mutamakkin di Desa Kajen, Margoyo, Pati. Setelah itu berkunjung ke PSG Pati di Desa Mojoagung, Trangkil. Sosok yang biasa dipanggil DI itu juga sempat memuji sekolah bola yang didirikan Wakil Bupati Pati Saiful Arifin.

”Orang ini (Wakil Bupati Pati Safin, Red) “gila” yang ”gila”-nya beneran. Kenapa? Karena baru Safin (Saiful Arifin) inilah yang mendirikan sekolah sepak bola dengan tujuh lapangan sekaligus,” ucapnya.

DI menunjuk beberapa lapangan yang tengah dikembangkan Safin ini. ”Lihat di sini. Pemain sedang latihan. Rumputnya sintetis. Ini ada yang rumput asli. Lapangannya ada tribunnya,” tuturnya sambil menunjuk beberapa lapangan PSG Pati itu.

Dirinya sedikit menceritakan kisah Safin. ”Lihat rumahnya beliau di ujung sana (arah selatan). Di pojokan sana. Dia pernah jadi tukang tambal ban. Kemudian bisa jaya seperti ini. berbuat segila-gilanya dalam membina sepak bola. Saat ini sudah ada 150 siswa di seluruh Indonesia. Anda luar biasa,” jelasnya.

Sebelum berkunjung ke markas PSG Pati, DI ke IPMAFA Margoyoso. Dia didampingi Direktur Radar Kudus Baehaqi dan disambut Rektor IPMAFA KH Abdul Ghofar Rozin.

Rombongan bersama-sama ziarah ke makam Ahmad Mutamakkin.

Setelah itu, rombongan menuju masjid di kompleks itu. Diperkirakan usia masjid ratusan tahun.

Muhammad Zuli Rizal sebagai pemandu mengungkapkan situs-situs peninggalan tokoh-tokoh besar di Kajen selayaknya perlu dikenal dan dilestarikan. Supaya generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya bangsa.  Ia menyebutkan sejumlah situs komplek Masjid Kajen. Di antaranya mimbar, dairoh dan terdapat sejumlah ornamen simbolik. Seperti kuntul nucuk mbulan, naga ajisaka, gajah trisula, gajah trisula, sulur bunga mekar, sing pendetky, pohon rakit, papan bersurat, dan dairoh langit-langit.

Baca Juga :  Tim Damkar Beberkan Kesulitan Jinakkan Api di PT Starindo Packaging Pati

Sekitar pukul 08.30 DI memasuki aula IMPAFA memberikan kuliah umum. Beberapa mahasiswa terlihat naik ke panggung bersama Dahlan Iskan. Dia memberi beberapa pertanyaan.

Dalam seminarnya DI mengungkapkan berbisnis itu seperti naik sepeda. ”Semuanya bisa naik sepeda, tapi pernahkan kursus naik sepeda? Bahkan, tidak ada orang yang membuka kursus bersepeda. Atau mungkin pernah ikut seminar cara-cara naik sepeda. Kan tidak ada,” lanjutnya.

Dia meminta me-review bagaimana dahulu bisa naik sepeda. Coba diingat-ingat bagaimana bisa. ”Kan pertama-tama megang-megang, menuntun sepeda. Kemudian mencoba, lalu jatuh. Lalu bilang aku tidak mau naik sepeda lagi karena kemarin jatuh. Mulai besok ndak mau lagi naik sepeda. Kan tidak ada yang seperti itu. masih tetap latihan,” pintanya.

Jadi, usaha itu seperti naik sepeda. Kalau tidak mencoba tidak akan pernah bisa. Mencoba lalu jatuh tidak pernah kapok untuk mencoba. Sehingga bisa naik sepeda. ”Itulah berbisnis. Karena yang penting memulainya,” paparnya.

Menurut DI yang penting mahasiswa pasti sudah punya niat baik. Setelah itu, langkah berikutnya lakukan yang ingin dilakukan. Karena niatnya sudah baik. Karena anda punya zaman sendiri.

”Saya termasuk yang tidak suka berpesan. Karena saya ini sudah orang tua. Mahasiswa ini cucu saya. Zaman ini sudah tak cocok. Banyak orang memberi nasehat yang terlalu dipaksanakan. Sehingga nasehat itu tak cocok. Banyak mahasiswa membuang waktu untuk menerima nasehat yang dalam hatinya menolak itu,” kata DI kepada beberapa mahasiswa.






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/