alexametrics
30.3 C
Kudus
Saturday, May 28, 2022

Menyoal Pancaroba Dunia di Suluk Maleman

PATI – Persoalan cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu terakhir turut menjadi perbincangan dalam Suluk Maleman edisi ke-123, Sabtu (20/3) kemarin. Dalam forum dengan tagline “Ngaji Ng-Allah” itu, disinggung orang Jawa sebenarnya telah memiliki ilmu titen tersendiri dalam penentuan cuaca. Ini bisa bermanfaat bagi kehidupan.

Ilmu titen itu dikenal sebagai pranata mongso. Lewat ilmu tersebut, bisa digunakan dalam berbagai hal khususnya saat bertani. Bahkan pranoto mongso sempat dijadikan dasar pedoman dalam mengolah sawah. Terlebih setiap masa itu kerap ditandai dengan perilaku tanaman dan hewan yang merespon tatanan alam. Seperti mongso kaenem dimana saat mulai menebar bibit karena sudah ada air. Biasanya akan ditandai dengan munculnya burung belibis.

Muhammad Ghofur, salah satu peneliti iklim dan pranoto mongso mengatakan, ilmu titen itu sebenarnya telah tercatat secara formal di abad 16 dan 17 lalu. Namun secara informal diperkirakan sudah dilakukan jauh lebih dari itu. Ilmu titen semacam itu sebenarnya pun banyak dikembangkan di berbagai daerah lainnya.


Dia menjelaskan dalam ilmu pertanian Jawa sebenarnya tak hanya dikenal musim kemarau maupun penghujan. Namun ada juga masa yang dikenal sebagai “semplah” dan “pengarep-arep”. Semplah merupakan masa transisi dari musim kemarau ke penghujan sementara pengarep-arep sebaliknya.

Persoalan dalam ilmu titen semacam ini sebenarnya penting di saat terjadinya akselerasi perubahan dan krisis iklim yang terjadi seperti sekarang ini. Meski dia menyebut jika anomali cuaca juga terjadi karena pengaruh dari manusia sendiri.

Prof. Saratri Wilonoyudho seorang akademisi dari Unnes turut mengutip pernyataan dari Alvin Toffler dimana terjadi tiga gelombang perubahan. Gelombang pertama dimulai dari ditinggalkannya alam berburu menuju pertanian yang terorganisasi.

Baca Juga :  Disdagperin Pati Rencanakan Inovasi dan Potensi untuk Kejar Target PAD

“Gelombang kedua terjadi saat revolusi industri. Dimana kerja otot dipermudah namun memiliki efek samping kapitalisasi serta dampak terhadap alam seperti munculnya polusi. Hal itulah yang kemudian menyebabkan terjadinya anomali cuaca,” tambahnya.

Sementara gelombang ketiga adalah saat munculnya teknologi informasi. Gelombang ini semakin memperjelas tingkat keserakahan manusia. Dimana menghujat, fitnah penipuan, dan pornografi semakin merajalela. Kerusakan tak hanya terjadi secara fisik namun juga sosial.

“Tapi sekarang karena perubahan industri teknologi terjadi anomali. Ketidaknormalan itu terjadi karena kerakusan manusia,” tegasnya.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman sendiri mengingatkan jika konsep manusia sebagai khalifah pada dasarnya berfungsi untuk mengelola bumi dengan baik, bukan menempatkan manusia sebagai pusat sehingga bersikap antroposentris. Hasilnya pun tidak sebatas kepentingannya sendiri, namun agar objek yang dikelola pun dapat bertumbuh-kembang dengan baik.

“Bahkan Kiai saya dulu saat menanam pohon niatnya bukan hanya beliau untuk memetik keuntungan bagi diri sendiri; tapi untuk disedekahkan bagi semua yang membutuhkan, termasuk untuk burung, ulat dan hewan lainnya,” terangnya.

Anis menyentil jika salah satu dampak revolusi industri adalah kerusakan alam yang menjadi-jadi. Abad yang dianggap modern ini seringkali justru membuat kemanusiaan serta kesadaran manusia menurun drastis.

“Manusia modern ibarat kanak-kanak yang diberi senjata canggih sebagai alat permainannya. Kita bermain-main dengan hasil sains yang luar biasa berkembang, disaat bersamaan kita belum matang sehingga rentan menyebabkan kerusakan,” tambahnya. (aua/him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

PATI – Persoalan cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu terakhir turut menjadi perbincangan dalam Suluk Maleman edisi ke-123, Sabtu (20/3) kemarin. Dalam forum dengan tagline “Ngaji Ng-Allah” itu, disinggung orang Jawa sebenarnya telah memiliki ilmu titen tersendiri dalam penentuan cuaca. Ini bisa bermanfaat bagi kehidupan.

Ilmu titen itu dikenal sebagai pranata mongso. Lewat ilmu tersebut, bisa digunakan dalam berbagai hal khususnya saat bertani. Bahkan pranoto mongso sempat dijadikan dasar pedoman dalam mengolah sawah. Terlebih setiap masa itu kerap ditandai dengan perilaku tanaman dan hewan yang merespon tatanan alam. Seperti mongso kaenem dimana saat mulai menebar bibit karena sudah ada air. Biasanya akan ditandai dengan munculnya burung belibis.

Muhammad Ghofur, salah satu peneliti iklim dan pranoto mongso mengatakan, ilmu titen itu sebenarnya telah tercatat secara formal di abad 16 dan 17 lalu. Namun secara informal diperkirakan sudah dilakukan jauh lebih dari itu. Ilmu titen semacam itu sebenarnya pun banyak dikembangkan di berbagai daerah lainnya.

Dia menjelaskan dalam ilmu pertanian Jawa sebenarnya tak hanya dikenal musim kemarau maupun penghujan. Namun ada juga masa yang dikenal sebagai “semplah” dan “pengarep-arep”. Semplah merupakan masa transisi dari musim kemarau ke penghujan sementara pengarep-arep sebaliknya.

Persoalan dalam ilmu titen semacam ini sebenarnya penting di saat terjadinya akselerasi perubahan dan krisis iklim yang terjadi seperti sekarang ini. Meski dia menyebut jika anomali cuaca juga terjadi karena pengaruh dari manusia sendiri.

Prof. Saratri Wilonoyudho seorang akademisi dari Unnes turut mengutip pernyataan dari Alvin Toffler dimana terjadi tiga gelombang perubahan. Gelombang pertama dimulai dari ditinggalkannya alam berburu menuju pertanian yang terorganisasi.

Baca Juga :  Ohmyskin! Produk Lokal Asli Kabupaten Pati Tembus Pasar Global

“Gelombang kedua terjadi saat revolusi industri. Dimana kerja otot dipermudah namun memiliki efek samping kapitalisasi serta dampak terhadap alam seperti munculnya polusi. Hal itulah yang kemudian menyebabkan terjadinya anomali cuaca,” tambahnya.

Sementara gelombang ketiga adalah saat munculnya teknologi informasi. Gelombang ini semakin memperjelas tingkat keserakahan manusia. Dimana menghujat, fitnah penipuan, dan pornografi semakin merajalela. Kerusakan tak hanya terjadi secara fisik namun juga sosial.

“Tapi sekarang karena perubahan industri teknologi terjadi anomali. Ketidaknormalan itu terjadi karena kerakusan manusia,” tegasnya.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman sendiri mengingatkan jika konsep manusia sebagai khalifah pada dasarnya berfungsi untuk mengelola bumi dengan baik, bukan menempatkan manusia sebagai pusat sehingga bersikap antroposentris. Hasilnya pun tidak sebatas kepentingannya sendiri, namun agar objek yang dikelola pun dapat bertumbuh-kembang dengan baik.

“Bahkan Kiai saya dulu saat menanam pohon niatnya bukan hanya beliau untuk memetik keuntungan bagi diri sendiri; tapi untuk disedekahkan bagi semua yang membutuhkan, termasuk untuk burung, ulat dan hewan lainnya,” terangnya.

Anis menyentil jika salah satu dampak revolusi industri adalah kerusakan alam yang menjadi-jadi. Abad yang dianggap modern ini seringkali justru membuat kemanusiaan serta kesadaran manusia menurun drastis.

“Manusia modern ibarat kanak-kanak yang diberi senjata canggih sebagai alat permainannya. Kita bermain-main dengan hasil sains yang luar biasa berkembang, disaat bersamaan kita belum matang sehingga rentan menyebabkan kerusakan,” tambahnya. (aua/him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

Most Read

Artikel Terbaru

/