alexametrics
29.7 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Pembongkaran Kawasan Prostitusi Lorok Indah Pati Tuntas

PATI – Pembongkaran kawasan prostitusi Lorok Indah (LI) akhirnya berakhir. Satu bangunan sisa yang diklaim berupa wakaf dibongkar pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati kemarin.

Pembongkaran disaksikan langsung Bupati Pati Haryanto, Dandim 0718/Pati Letkol Czi Adi Ilham Zamani, Kapolres Pati AKBP Christian Tobing, kepala satpol PP Pati, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pati, dan jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati.

Dua alat berat dikerahkan untuk membongkar eks kompleks Kafe Permata itu. Ratusan personel gabungan dikerahkan untuk mengamankan pembongkaran yang berjalan mulai pukul 06.00 hingga 08.30.


Saat meninjau pembongkaran, Bupati Pati Haryanto mengatakan, banguanan itu tak berizin dan berada di atas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

”Saya bersama forkopimda melanjutkan pembongkaran bangunan liar yang tidak berizin. Bangunan-bangunan ini tak ber-NIB (nomor induk berusaha), tak punya izin usaha, dan dipakai untuk tempat prostitusi,” katanya.

Sebelumnya, sempat terkendala soal adanya klaim wakaf bangunan. Pembongkaran bangunan ini urung dilakukan. ”Kemudian kami lanjutkan hari ini (kemarin, Red). Kami tak membeda-bedakan. Tak tebang pilih. Jadi, bangunan yang tak berizin semuanya berjumlah 70 sudah terbongkar,” paparnya.

Haryanto meminta pemilik bangunan di LI memahami pembongkaran ini. Tahapan demi tahapan sudah cukup lama dilakukan. ”Langkah yang kami lakukan sudah sesuai mekanisme,” ujarnya.

Baca Juga :  Rusak Parah, Perbaikan Jalan Tayu-Dukuhseti Telan Anggaran Rp 1 Miliar

Pihaknya juga sudah melakukan perundingan terakhir dengan Gus Nofa, utusan Gus Nuril, kiai yang diberikan wakaf bangunan itu untuk menjadi pondok pesantren (ponpes). Untuk menjadikan ponpes diperlukan beberapa izin yang harus ditempuh. Di antaranya, izin dari Kementerian Agama (Kemenag) Pati atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).

”Kalau diwakafkan harus ada penyertaan wakaf dari KUA (Kantor Urusan Agama) Margorejo. Saya punya bukti formal dari KUA Margorejo juga ndak ada tanah yang diwakafkan untuk ponpes. RMI dan Kemenag juga mengatakan ndak ada pendirian ponpes di LI. Jadi, dalam hal ini sudah jelas. Kami tidak membongkar ponpes, tetapi membongkar bangunan liar tak berizin atau tak sesuai aturan,” ungkapnya.

Sebelum pembongkaran, Muhammad Mustofa Mahendra atau yang akrab disapa Gus Nofa datang ke Pendapa Kabupaten Pati pada Kamis (17/2) lalu. Kedatangannya untuk membahas soal pembongkaran sisa bangunan itu.

Dia mengaku sejauh ini legalitas bangunan yang diwakafkan sebagai ponpes tersebut memang belum ada. ”Tidak mungkin seorang kepala daerah melakukan tindakan gegabah. Karena seorang pimpinan daerah itu, saya yakin telah memiliki perhitungan dan strategi-strategi tersendiri. Untuk bangunan yang sudah dibongkar di sana, yasudah, mau bagaimana,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Pembongkaran kawasan prostitusi Lorok Indah (LI) akhirnya berakhir. Satu bangunan sisa yang diklaim berupa wakaf dibongkar pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati kemarin.

Pembongkaran disaksikan langsung Bupati Pati Haryanto, Dandim 0718/Pati Letkol Czi Adi Ilham Zamani, Kapolres Pati AKBP Christian Tobing, kepala satpol PP Pati, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pati, dan jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati.

Dua alat berat dikerahkan untuk membongkar eks kompleks Kafe Permata itu. Ratusan personel gabungan dikerahkan untuk mengamankan pembongkaran yang berjalan mulai pukul 06.00 hingga 08.30.

Saat meninjau pembongkaran, Bupati Pati Haryanto mengatakan, banguanan itu tak berizin dan berada di atas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

”Saya bersama forkopimda melanjutkan pembongkaran bangunan liar yang tidak berizin. Bangunan-bangunan ini tak ber-NIB (nomor induk berusaha), tak punya izin usaha, dan dipakai untuk tempat prostitusi,” katanya.

Sebelumnya, sempat terkendala soal adanya klaim wakaf bangunan. Pembongkaran bangunan ini urung dilakukan. ”Kemudian kami lanjutkan hari ini (kemarin, Red). Kami tak membeda-bedakan. Tak tebang pilih. Jadi, bangunan yang tak berizin semuanya berjumlah 70 sudah terbongkar,” paparnya.

Haryanto meminta pemilik bangunan di LI memahami pembongkaran ini. Tahapan demi tahapan sudah cukup lama dilakukan. ”Langkah yang kami lakukan sudah sesuai mekanisme,” ujarnya.

Baca Juga :  Rusak Parah, Perbaikan Jalan Tayu-Dukuhseti Telan Anggaran Rp 1 Miliar

Pihaknya juga sudah melakukan perundingan terakhir dengan Gus Nofa, utusan Gus Nuril, kiai yang diberikan wakaf bangunan itu untuk menjadi pondok pesantren (ponpes). Untuk menjadikan ponpes diperlukan beberapa izin yang harus ditempuh. Di antaranya, izin dari Kementerian Agama (Kemenag) Pati atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).

”Kalau diwakafkan harus ada penyertaan wakaf dari KUA (Kantor Urusan Agama) Margorejo. Saya punya bukti formal dari KUA Margorejo juga ndak ada tanah yang diwakafkan untuk ponpes. RMI dan Kemenag juga mengatakan ndak ada pendirian ponpes di LI. Jadi, dalam hal ini sudah jelas. Kami tidak membongkar ponpes, tetapi membongkar bangunan liar tak berizin atau tak sesuai aturan,” ungkapnya.

Sebelum pembongkaran, Muhammad Mustofa Mahendra atau yang akrab disapa Gus Nofa datang ke Pendapa Kabupaten Pati pada Kamis (17/2) lalu. Kedatangannya untuk membahas soal pembongkaran sisa bangunan itu.

Dia mengaku sejauh ini legalitas bangunan yang diwakafkan sebagai ponpes tersebut memang belum ada. ”Tidak mungkin seorang kepala daerah melakukan tindakan gegabah. Karena seorang pimpinan daerah itu, saya yakin telah memiliki perhitungan dan strategi-strategi tersendiri. Untuk bangunan yang sudah dibongkar di sana, yasudah, mau bagaimana,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/