alexametrics
30.8 C
Kudus
Sunday, May 29, 2022

Sinau pada Kanjeng Nabi untuk Hidup Sehari-hari

PATI – Momen Maulid Nabi menjadi bahan perenungan umat Islam. Agar kembali sinau kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Bila ingin mendapatkan syafaatnya, dibutuhkan kemauan untuk belajar tentang kehidupan Kanjeng Nabi itu sendiri.

“Rasul pernah bersabda jika beliau diutus untuk memperindah, mengutamakan, membuat paling utama kemuliaan akhlak,” ujar Anis Sholeh Baasyin dalam gelaran ngaji budaya Suluk Maleman episode ke- 118, baru-baru ini.


Keindahan Nabi Muhammad bahkan sudah terlihat jauh sejak sebelum mendapatkan wahyu. Rasul mendapatkan sifat sidiq dan amanah sebelum menjadi nabi. Selain itu Kanjeng Nabi juga tidak terpengaruh budaya maupun pemikiran jahiliyah yang saat itu tengah berkembang.

Pembicara lain, Ilyas Arifin menambahkan, ada satu pembelajaran yang begitu penting untuk kembali dipelajari saat ini. Yakni betapa Kanjeng Nabi tak pernah menyimpan dendam dan senantiasa berprasangka baik. Sekali pun kepada orang yang memusuhinya.

“Bahkan kepada orang kafir pun, Kanjeng Nabi berfikir nantinya masih dimungkinkan dapat melahirkan keturunan orang-orang soleh. Kanjeng Nabi juga tak pernah meminta untuk membinasakan orang yang ingkar atau membangkang. Beliau justru meminta syafaat untuk umatnya,” tambahnya.

Baca Juga :  FDIP Pati: Pemkab Tak Tegas Soal Aturan Boleh Berdirinya Toko Modern

Fakta sejarah menyebut jika tak sedikit anak dari orang kafir justru menjadi sahabat nabi. Seperti Walid, yang begitu menentang Nabi Muhammad namun putranya Kholid justru menjadi panglima andalan Rosul.

“Abu Lahab juga memiliki putri yang setia pada kanjeng Nabi bahkan mengikuti ketika hijrah. Begitu juga Ikrimah, putra dari Abu Jahal,” terangnya.

Hal itu menunjukkan jika sudut pandang Rasul begitu luas dan patut ditiru. Syafaat Nabi Muhammad juga menjadi salah satu bentuk nyata kasih sayang kepada seluruh umatnya.

“Bahkan orang yang hanya punya setengah biji zarah keimanan pun, Nabi tidak rela jika orang tersebut tidak masuk surga,” ujarnya.

Keluhuran akhlak itulah yang sepatutnya dipelajari saat ini. Umat Islam harusnya telah mendengar serta belajar terkait akhlak yang telah dicontohkan Kanjeng Nabi. (him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

PATI – Momen Maulid Nabi menjadi bahan perenungan umat Islam. Agar kembali sinau kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Bila ingin mendapatkan syafaatnya, dibutuhkan kemauan untuk belajar tentang kehidupan Kanjeng Nabi itu sendiri.

“Rasul pernah bersabda jika beliau diutus untuk memperindah, mengutamakan, membuat paling utama kemuliaan akhlak,” ujar Anis Sholeh Baasyin dalam gelaran ngaji budaya Suluk Maleman episode ke- 118, baru-baru ini.

Keindahan Nabi Muhammad bahkan sudah terlihat jauh sejak sebelum mendapatkan wahyu. Rasul mendapatkan sifat sidiq dan amanah sebelum menjadi nabi. Selain itu Kanjeng Nabi juga tidak terpengaruh budaya maupun pemikiran jahiliyah yang saat itu tengah berkembang.

Pembicara lain, Ilyas Arifin menambahkan, ada satu pembelajaran yang begitu penting untuk kembali dipelajari saat ini. Yakni betapa Kanjeng Nabi tak pernah menyimpan dendam dan senantiasa berprasangka baik. Sekali pun kepada orang yang memusuhinya.

“Bahkan kepada orang kafir pun, Kanjeng Nabi berfikir nantinya masih dimungkinkan dapat melahirkan keturunan orang-orang soleh. Kanjeng Nabi juga tak pernah meminta untuk membinasakan orang yang ingkar atau membangkang. Beliau justru meminta syafaat untuk umatnya,” tambahnya.

Baca Juga :  Pemkab Pati bakal Dirikan Posko di Alun-alun Kembang Joyo, Apa Tujuannya?

Fakta sejarah menyebut jika tak sedikit anak dari orang kafir justru menjadi sahabat nabi. Seperti Walid, yang begitu menentang Nabi Muhammad namun putranya Kholid justru menjadi panglima andalan Rosul.

“Abu Lahab juga memiliki putri yang setia pada kanjeng Nabi bahkan mengikuti ketika hijrah. Begitu juga Ikrimah, putra dari Abu Jahal,” terangnya.

Hal itu menunjukkan jika sudut pandang Rasul begitu luas dan patut ditiru. Syafaat Nabi Muhammad juga menjadi salah satu bentuk nyata kasih sayang kepada seluruh umatnya.

“Bahkan orang yang hanya punya setengah biji zarah keimanan pun, Nabi tidak rela jika orang tersebut tidak masuk surga,” ujarnya.

Keluhuran akhlak itulah yang sepatutnya dipelajari saat ini. Umat Islam harusnya telah mendengar serta belajar terkait akhlak yang telah dicontohkan Kanjeng Nabi. (him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

Most Read

Artikel Terbaru

/