alexametrics
28 C
Kudus
Tuesday, September 27, 2022

Warga Dukuhseti Pati Rayakan Kemerdekaan di Jalan Rusak

PATI – Warga Desa Puncel, Dukuhseti merayakan kemerdekaan RI ke-77 ini punya cara tersendiri. Mereka menggelar upacara kemerdekaan di tengah jalan rusak desa setempat.

Kerusakan jalan provinsi turut Desa Puncel, Dukuhseti (perbatasan Jepara) dikeluhkan warga sekitar. Sudah lima tahun ruas jalan tersebut tak tersentuh perbaikan. Sehingga masyarakat setempat berunjukrasa di momen kemerdekaan RI ke-77 ini. Harapannya merdeka dari jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki itu.

50-an warga tersebut upacara kemerdekaan layaknya upacara bendera pada umumnya. Ada yang bagian membina, ketua, doa, dan pengibar bendera. Anak-anak hingga emak-emak turut memeriahkan acara tersebut. Upacara tersebut diiringi spanduk/baner berisikan kritikan soal jalan rusak itu.


Mereka mengawali upacara dengan penancapkan bendera merah putih di tengah jalan. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian membacakan teks Pacasila, UUD 45, teks proklamasi, hingga doa dan harapan masyarakat sekitar.

Pembina Upacara Fuad Syaifurrahman menyampaikan amanahnya di tengal berlangsungnya acara itu. Katanya, upacara ini untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia ke-77. Sekaligus untuk mengkritik pemerintah lantaran jalan di sana rusak.

Jalan sepanjang 5 kilometer itu kerap terjadi kecelakaan. Juga mengganggu pengguna jalan lainnya. Selain itu, debu di jalan ini juga mengganggu kesehatan masyarakat setempat. Banyak warga yang mengalami batuk dan gatal-gatal akibat debu ini.

Baca Juga :  Hadapi Porprov, Pemkab Pati Benahi Sarpras Olahraga

”Lima tahun kita disajikan dengan jalan rusak. Tak ada perbaikan sama sekali perbaikan. Ini mengancam keselataman pengguna jalan. Kasian anak-anak yang hendak ke sekolah. Bahkan ada orangtua jatuh. Bagaimana tanggungjawab pemerintah?” katanya ditengah amanah kepada peserta upacara.

”Perbaikan tidak ada sama sekali. Jalan ini rusak layaknya janji mereka (pemerintah, Red),” saut para demonstran itu.

Upacara ini ditutup dengan pembacaan doa dan kembali menyanyikan Indonesia Raya. Sang pembaca doa, Karnadi berharap, pemerintah terketuk hatinya sehingga jalan provinsi ini kembali baik.

”Ya Allah kami rakyat Puncel bersimpuh menengadahkan tangan kepadamu. Kami masih merasakan jalan yang rusak. Kami bersyukur meskipun masih ada keterpaksaan,” ucap Karnadi.

”Kami mengetuk langitmu agar mereka terketuk hatinya. Sehingga segera memberikan hak-hak kami dan tidak jual janji belaka,” lanjutnya.

Rencananya, jika dua pekan ini tak ada respon dari pemerintah masyarakat akan bertindak lebih jauh. Sepanjang jalan rusak akan ditanami pohon pisang. (adr)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Warga Desa Puncel, Dukuhseti merayakan kemerdekaan RI ke-77 ini punya cara tersendiri. Mereka menggelar upacara kemerdekaan di tengah jalan rusak desa setempat.

Kerusakan jalan provinsi turut Desa Puncel, Dukuhseti (perbatasan Jepara) dikeluhkan warga sekitar. Sudah lima tahun ruas jalan tersebut tak tersentuh perbaikan. Sehingga masyarakat setempat berunjukrasa di momen kemerdekaan RI ke-77 ini. Harapannya merdeka dari jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki itu.

50-an warga tersebut upacara kemerdekaan layaknya upacara bendera pada umumnya. Ada yang bagian membina, ketua, doa, dan pengibar bendera. Anak-anak hingga emak-emak turut memeriahkan acara tersebut. Upacara tersebut diiringi spanduk/baner berisikan kritikan soal jalan rusak itu.

Mereka mengawali upacara dengan penancapkan bendera merah putih di tengah jalan. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian membacakan teks Pacasila, UUD 45, teks proklamasi, hingga doa dan harapan masyarakat sekitar.

Pembina Upacara Fuad Syaifurrahman menyampaikan amanahnya di tengal berlangsungnya acara itu. Katanya, upacara ini untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia ke-77. Sekaligus untuk mengkritik pemerintah lantaran jalan di sana rusak.

Jalan sepanjang 5 kilometer itu kerap terjadi kecelakaan. Juga mengganggu pengguna jalan lainnya. Selain itu, debu di jalan ini juga mengganggu kesehatan masyarakat setempat. Banyak warga yang mengalami batuk dan gatal-gatal akibat debu ini.

Baca Juga :  Efek Harga Solar Tinggi, Ribuan Kapal di Pati Jadi Enggan Melaut

”Lima tahun kita disajikan dengan jalan rusak. Tak ada perbaikan sama sekali perbaikan. Ini mengancam keselataman pengguna jalan. Kasian anak-anak yang hendak ke sekolah. Bahkan ada orangtua jatuh. Bagaimana tanggungjawab pemerintah?” katanya ditengah amanah kepada peserta upacara.

”Perbaikan tidak ada sama sekali. Jalan ini rusak layaknya janji mereka (pemerintah, Red),” saut para demonstran itu.

Upacara ini ditutup dengan pembacaan doa dan kembali menyanyikan Indonesia Raya. Sang pembaca doa, Karnadi berharap, pemerintah terketuk hatinya sehingga jalan provinsi ini kembali baik.

”Ya Allah kami rakyat Puncel bersimpuh menengadahkan tangan kepadamu. Kami masih merasakan jalan yang rusak. Kami bersyukur meskipun masih ada keterpaksaan,” ucap Karnadi.

”Kami mengetuk langitmu agar mereka terketuk hatinya. Sehingga segera memberikan hak-hak kami dan tidak jual janji belaka,” lanjutnya.

Rencananya, jika dua pekan ini tak ada respon dari pemerintah masyarakat akan bertindak lebih jauh. Sepanjang jalan rusak akan ditanami pohon pisang. (adr)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru