alexametrics
29.4 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Tak Bisa Hanya Andalkan Dana Pemerintah, Pembangunan Sandar Kapal Juwana Butuh Investor

PATI – Pekerjaan Rumah (PR) Pemerintah Kabupaten Pati untuk menyelesaikan pembangunan area tambat kapal tidak hanya bisa mengandalkan anggaran pemerintah saja. Akan tetapi perlu keterlibatan pihak swasta atau investor untuk mendukung kebijakan pembangunan tersebut.

Hal itu diungkapkan anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati Narso.

“Soal tambat kapal memang tidak bisa hanya mengandalkan dana pemerintah saja tetapi perlu menggandeng swasta. Bisa jadi melalui skema Build Operate Transfer (BOT),” jelas politikus PKS tersebut kepada Jawa Pos Radar Kudus.


Dikutip dari berbagai sumber skema BOT ini maksudnya adalah jenis pembiayaan proyek pembangunan di mana investor menyediakan sendiri modal  untuk proyek tersebut dan dapat memanfaatkan hasil pembangunan tersebut selama jangka waktu tertentu. Build Operate Transfer (BOT) dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Bangun Guna Serah atau disingkat BGS.

Istilah ini merupakan salah satu jenis pembiayaan proyek pembangunan di mana investor menyediakan sendiri modal untuk proyek tersebut dan dapat memanfaatkan hasil pembangunan tersebut selama jangka waktu tertentu. Modal-modal tersebut mulai dari pengadaan material, peralatan, hingga jasa yang dibutuhkan.

Pengertian Build Operate Transfer adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya. Kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu.

Baca Juga :  Raih 6.000 Medali, MTsN 1 Pati Dapat Apresiasi Bupati hingga Gubernur

“Sehingga ketika nanti ketika sudah tuntas dibangun, kendala di lapangan yang dialami pelaku usaha di sektor perikanan bisa teratasi. Seperti kepadatan kapal saat momen idul fitri, hal itu sangat beresiko khususnya jika terjadi kebakaran. Selain itu padatnya kapal saat musim hujan juga bisa berdampak terhambatnya aliran air yang bisa memicu banjir,” paparnya.

Lebih lanjut, Narso menegaskan hal ini perlu segera dipikirkan bersama. Apalagi sektor perikanan ini juga menjadi salah satu tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Mina Tani.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Bupati Saiful Arifin, pihaknya berharap pihak swasta bisa ikut berperan dalam membangun Kabupaten Pati. “Ini karena pembangunan dengan anggaran daerah paling mentok 2,7 triliun, kalau swasta bisa lebih dari itu. Karena itu saya berharap kondusifitas daerah mestinya bisa dijaga agar pihak swasta bisa percaya untuk menaruh uangnya di Pati,” terang pria yang akrab disapa Safin ini.

Untuk diketahui Pemerintahan Bupati Haryanto dan Wakil Bupati Saiful Arifin menyisakan dua pekerjaan rumah (PR) penting. Yaitu soal tambat kapal dan industri perikanan di wilayah Kecamatan Juwana. Dua pekerjaan itu bakal menjadi tantangan bagi pemimpin Kota Mina Tani berikutnya. (aua/ali)

PATI – Pekerjaan Rumah (PR) Pemerintah Kabupaten Pati untuk menyelesaikan pembangunan area tambat kapal tidak hanya bisa mengandalkan anggaran pemerintah saja. Akan tetapi perlu keterlibatan pihak swasta atau investor untuk mendukung kebijakan pembangunan tersebut.

Hal itu diungkapkan anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati Narso.

“Soal tambat kapal memang tidak bisa hanya mengandalkan dana pemerintah saja tetapi perlu menggandeng swasta. Bisa jadi melalui skema Build Operate Transfer (BOT),” jelas politikus PKS tersebut kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dikutip dari berbagai sumber skema BOT ini maksudnya adalah jenis pembiayaan proyek pembangunan di mana investor menyediakan sendiri modal  untuk proyek tersebut dan dapat memanfaatkan hasil pembangunan tersebut selama jangka waktu tertentu. Build Operate Transfer (BOT) dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Bangun Guna Serah atau disingkat BGS.

Istilah ini merupakan salah satu jenis pembiayaan proyek pembangunan di mana investor menyediakan sendiri modal untuk proyek tersebut dan dapat memanfaatkan hasil pembangunan tersebut selama jangka waktu tertentu. Modal-modal tersebut mulai dari pengadaan material, peralatan, hingga jasa yang dibutuhkan.

Pengertian Build Operate Transfer adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya. Kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu.

Baca Juga :  Pemkab Pati Anggarkan Perbaikan Jalur Lambat Senilai Rp 400 Juta

“Sehingga ketika nanti ketika sudah tuntas dibangun, kendala di lapangan yang dialami pelaku usaha di sektor perikanan bisa teratasi. Seperti kepadatan kapal saat momen idul fitri, hal itu sangat beresiko khususnya jika terjadi kebakaran. Selain itu padatnya kapal saat musim hujan juga bisa berdampak terhambatnya aliran air yang bisa memicu banjir,” paparnya.

Lebih lanjut, Narso menegaskan hal ini perlu segera dipikirkan bersama. Apalagi sektor perikanan ini juga menjadi salah satu tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Mina Tani.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Bupati Saiful Arifin, pihaknya berharap pihak swasta bisa ikut berperan dalam membangun Kabupaten Pati. “Ini karena pembangunan dengan anggaran daerah paling mentok 2,7 triliun, kalau swasta bisa lebih dari itu. Karena itu saya berharap kondusifitas daerah mestinya bisa dijaga agar pihak swasta bisa percaya untuk menaruh uangnya di Pati,” terang pria yang akrab disapa Safin ini.

Untuk diketahui Pemerintahan Bupati Haryanto dan Wakil Bupati Saiful Arifin menyisakan dua pekerjaan rumah (PR) penting. Yaitu soal tambat kapal dan industri perikanan di wilayah Kecamatan Juwana. Dua pekerjaan itu bakal menjadi tantangan bagi pemimpin Kota Mina Tani berikutnya. (aua/ali)

Most Read

Artikel Terbaru

/