alexametrics
29.8 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Resahkan Warga, Satpol PP Pati Pulangkan Anak Punk ke Daerah Asal

PATI – Karena dinilai meresahkan, enam orang anak jalanan atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan anak punk ini digelandang ke kantor Satpol PP Pati, siang kemarin. Mereka diberikan pembinaan terlebih dahulu sebelum akhirnya dipulangkan ke daerah masing-masing.

Keenam anak punk ini digelandang dari sekitar lampu lalu-lintas Ngebruk, Kecamatan Juwana, saat Satpol PP Pati menggelar razia secara rutin untuk menjaga ketertiban dan ketentraman masyarakat.

Enam anak punk terdiri dari tiga orang perempuan dan tiga orang laki-laki. Ketiga anak punk perempuan berasal dari Lamongan, Jawa Timur. Mereka ialah KD, 16, IS, 18, dan IH, 18.


Sementara, anak punk laki-laki ialah Yulianto, 21, dan SA, 17, asal Rembang serta M Rizky Dwi Jaya, 20, asal Surabaya.

Ketika dimintai keterangan, KD dan SA mengaku sebagai sepasang kekasih. KD mengaku berkenalan dengan SA di media sosial Facebook. Kemudian SA menjemput KD ke Lamongan dan mengajaknya ke Juwana, tempat di mana mereka terjaring razia.

KD mengaku baru beberapa bulan mengenal SA. Ketiga anak punk laki-laki tersebut diminta memotong cepak rambut mereka. Kemudian mereka berenam dimintai data diri sebelum berlari lima kali putaran di lapangan tenis. Setelah mandi dan diberi pakaian ganti, mereka lalu dipulangkan ke daerah asal masing-masing.

Baca Juga :  Pemkab Pati Salurkan Bantuan Guru Rp 12,4 Miliar

Untuk melakukan pemulangan, Kasatpol PP Pati Sugiyono berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Satpol PP daerah asal mereka masing-masing.

“Kami melakukan razia anak punk ini di tempat-tempat strategis, yakni jalan dari arah Rembang dan arah Kudus. Mereka ini sudah beberapa hari menginap di warung dekat Bangjo (lampu lalu-lintas) Ngebruk,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sugiyono sendiri mengaku sangat prihatin dengan fenomena anak punk ini. Mengingat mereka masih sangat muda dan masih memiliki masa depan cerah di kemudian hari.

“Mereka ini masih muda, punya masa depan, masih punya harapan, tapi malah terlibat kegiatan seperti itu. Meminta-minta, kadang mengamen dengan memaksa. Cukup meresahkan masyarakat,” paparnya.

Sugiyono menjelaskan, anak-anak punk jalanan ini banyak yang berasal dari keluarga kurang harmonis atau broken home. Mereka mengaku ingin hidup bebas tanpa beban. Sehingga kemudian bergabung dengan komunitas dan gaya hidup anak-anak tersebut. Ia menambahkan, pihaknya akan segera memulangkan keenam anak itu ke orang tua mereka masing-masing. (aua/him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

PATI – Karena dinilai meresahkan, enam orang anak jalanan atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan anak punk ini digelandang ke kantor Satpol PP Pati, siang kemarin. Mereka diberikan pembinaan terlebih dahulu sebelum akhirnya dipulangkan ke daerah masing-masing.

Keenam anak punk ini digelandang dari sekitar lampu lalu-lintas Ngebruk, Kecamatan Juwana, saat Satpol PP Pati menggelar razia secara rutin untuk menjaga ketertiban dan ketentraman masyarakat.

Enam anak punk terdiri dari tiga orang perempuan dan tiga orang laki-laki. Ketiga anak punk perempuan berasal dari Lamongan, Jawa Timur. Mereka ialah KD, 16, IS, 18, dan IH, 18.

Sementara, anak punk laki-laki ialah Yulianto, 21, dan SA, 17, asal Rembang serta M Rizky Dwi Jaya, 20, asal Surabaya.

Ketika dimintai keterangan, KD dan SA mengaku sebagai sepasang kekasih. KD mengaku berkenalan dengan SA di media sosial Facebook. Kemudian SA menjemput KD ke Lamongan dan mengajaknya ke Juwana, tempat di mana mereka terjaring razia.

KD mengaku baru beberapa bulan mengenal SA. Ketiga anak punk laki-laki tersebut diminta memotong cepak rambut mereka. Kemudian mereka berenam dimintai data diri sebelum berlari lima kali putaran di lapangan tenis. Setelah mandi dan diberi pakaian ganti, mereka lalu dipulangkan ke daerah asal masing-masing.

Baca Juga :  Wow, Camat di Pati Dapat Mobil Dinas Baru, Ini Kata Bupati

Untuk melakukan pemulangan, Kasatpol PP Pati Sugiyono berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Satpol PP daerah asal mereka masing-masing.

“Kami melakukan razia anak punk ini di tempat-tempat strategis, yakni jalan dari arah Rembang dan arah Kudus. Mereka ini sudah beberapa hari menginap di warung dekat Bangjo (lampu lalu-lintas) Ngebruk,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sugiyono sendiri mengaku sangat prihatin dengan fenomena anak punk ini. Mengingat mereka masih sangat muda dan masih memiliki masa depan cerah di kemudian hari.

“Mereka ini masih muda, punya masa depan, masih punya harapan, tapi malah terlibat kegiatan seperti itu. Meminta-minta, kadang mengamen dengan memaksa. Cukup meresahkan masyarakat,” paparnya.

Sugiyono menjelaskan, anak-anak punk jalanan ini banyak yang berasal dari keluarga kurang harmonis atau broken home. Mereka mengaku ingin hidup bebas tanpa beban. Sehingga kemudian bergabung dengan komunitas dan gaya hidup anak-anak tersebut. Ia menambahkan, pihaknya akan segera memulangkan keenam anak itu ke orang tua mereka masing-masing. (aua/him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

Most Read

Artikel Terbaru

/