alexametrics
30.2 C
Kudus
Tuesday, May 24, 2022

Kronologi Tenggelamnya Siswa SMK asal Cirebon saat Magang di Kapal Juwana

PATI – Seorang siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Mundu Kabupaten Cirebon hilang di Perairan Laut Utara Flores belum lama ini. Kejadian tersebut, saat korban melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di salah satu kapal Juwana.

Frans Julius Hutapea, 17, siswa SMK jurusan pelayaran itu, dilaporkan jatuh dari kapal saat berlayar pada Sabtu (5/3) lalu. Hingga kini belum ditemukan. Saat itu, dia menjalani PKL bersama 10 temannya sekolahnya.

Keluarga Korban Reslan Binardo Simatupang menceritakan, awal Julius berangkat magang bersama 10 temannya. Mereka menaiki kapal penangkap ikan Putra Leo.


Singkat cerita, karena akan ada uji kompetensi yang harus diikuti siswa. Untuk itu, pihak sekolah meminta kapal Putra Leo untuk memulangkan siswanya. Akhirnya para siswa magang dialihkan ke kapal penampung ikan Bahtera Sejati yang juga berasal dari Pati pada Sabtu (5/3) lalu itu, kecelakaan dialami Julius.

”Saat kejadian tanggal 5 itu, sebelumnya Julius ngobrol sama temannya empat orang. Kata temannya, tiba-tiba Julius terpeleset jatuh. Lalu temannya lapor kapten. Tapi, katanya tidak bisa tertolong,” paparnya.

Kabar itu pun baru diketahui pihak keluarga pada 7 Maret lalu. Selang dua hari setelah kejadian. ”Itu pun telat. Soalnya tanggal 7. Yang saya tahu kalau kejadian di laut langsung lapor Basarnas. Tetapi saya cek di Basarnas Flores tidak ada laporan. Informasinya kru yang ada di situ mencari sampai empat hari,” jelasnya.

Baca Juga :  Di Balik Alasan Kades di Pati Ngotot Laksanakan Seleksi Perangkat Desa

Sementara kuasa hukum keluarga korban Lamgok H. Silalahi mengaku menyayangkan upaya pencarian yang kurang maksimal dari berbagai pihak. Pada reka adekan awal pekan ini, menurutnya, dia menemukan beberapa perbedaan keterangan kronologi kejadian antara pihak sekolah dan saksi.

”Dari pihak penyidik ini, tanya kejadiannya kapan. Kalau dari siswa pukul 17.00 WITA. Tapi dari sekolah 19.30 WITA. Saya kira ini sangat berbeda. Kami akan mempelajari hal ini. Sekali lagi ini informasi yang kami terima. Untuk prosesnya kami akan percayakan penyidik dari Polres Pati,” ujanya.

Selanjutnya, pihak kuasa hukum akan mempelajari info-info yang ada. Pihaknya siap menempuh jalur hukum jika ditemukan adanya dugaan pelanggaran. ”Apabila ada sedikit saja dugaan pelanggaran hukum di sini, kami akan semaksimal mungkin mencari pertanggungjawaban dan keadilan,” tegasnya.

Kasat Polairud Pati Iptu Sutamto mengatakan, olah TKP digelar di Dermaga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) 2 Juwana. Melibatkan saksi kru kapal, teman magang korban, dan keluarga korban beserta pendamping hukum. ”Ini rekonstruksi kedua. Mengungkap bagaimana alur kecelakaan itu. Supaya kru kapal yang magang dan saksi-saksi tahu kronologinya. Dugaan awal peristiwa ini adalah kelalaian,” katanya saat olah TKP pada awal pekan ini. (adr/lin)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Seorang siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Mundu Kabupaten Cirebon hilang di Perairan Laut Utara Flores belum lama ini. Kejadian tersebut, saat korban melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di salah satu kapal Juwana.

Frans Julius Hutapea, 17, siswa SMK jurusan pelayaran itu, dilaporkan jatuh dari kapal saat berlayar pada Sabtu (5/3) lalu. Hingga kini belum ditemukan. Saat itu, dia menjalani PKL bersama 10 temannya sekolahnya.

Keluarga Korban Reslan Binardo Simatupang menceritakan, awal Julius berangkat magang bersama 10 temannya. Mereka menaiki kapal penangkap ikan Putra Leo.

Singkat cerita, karena akan ada uji kompetensi yang harus diikuti siswa. Untuk itu, pihak sekolah meminta kapal Putra Leo untuk memulangkan siswanya. Akhirnya para siswa magang dialihkan ke kapal penampung ikan Bahtera Sejati yang juga berasal dari Pati pada Sabtu (5/3) lalu itu, kecelakaan dialami Julius.

”Saat kejadian tanggal 5 itu, sebelumnya Julius ngobrol sama temannya empat orang. Kata temannya, tiba-tiba Julius terpeleset jatuh. Lalu temannya lapor kapten. Tapi, katanya tidak bisa tertolong,” paparnya.

Kabar itu pun baru diketahui pihak keluarga pada 7 Maret lalu. Selang dua hari setelah kejadian. ”Itu pun telat. Soalnya tanggal 7. Yang saya tahu kalau kejadian di laut langsung lapor Basarnas. Tetapi saya cek di Basarnas Flores tidak ada laporan. Informasinya kru yang ada di situ mencari sampai empat hari,” jelasnya.

Baca Juga :  Disangka Maling Rp 25 Juta, Pemuda di Pati Ini Jadi Korban Salah Tangkap

Sementara kuasa hukum keluarga korban Lamgok H. Silalahi mengaku menyayangkan upaya pencarian yang kurang maksimal dari berbagai pihak. Pada reka adekan awal pekan ini, menurutnya, dia menemukan beberapa perbedaan keterangan kronologi kejadian antara pihak sekolah dan saksi.

”Dari pihak penyidik ini, tanya kejadiannya kapan. Kalau dari siswa pukul 17.00 WITA. Tapi dari sekolah 19.30 WITA. Saya kira ini sangat berbeda. Kami akan mempelajari hal ini. Sekali lagi ini informasi yang kami terima. Untuk prosesnya kami akan percayakan penyidik dari Polres Pati,” ujanya.

Selanjutnya, pihak kuasa hukum akan mempelajari info-info yang ada. Pihaknya siap menempuh jalur hukum jika ditemukan adanya dugaan pelanggaran. ”Apabila ada sedikit saja dugaan pelanggaran hukum di sini, kami akan semaksimal mungkin mencari pertanggungjawaban dan keadilan,” tegasnya.

Kasat Polairud Pati Iptu Sutamto mengatakan, olah TKP digelar di Dermaga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) 2 Juwana. Melibatkan saksi kru kapal, teman magang korban, dan keluarga korban beserta pendamping hukum. ”Ini rekonstruksi kedua. Mengungkap bagaimana alur kecelakaan itu. Supaya kru kapal yang magang dan saksi-saksi tahu kronologinya. Dugaan awal peristiwa ini adalah kelalaian,” katanya saat olah TKP pada awal pekan ini. (adr/lin)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/