alexametrics
28.4 C
Kudus
Wednesday, September 28, 2022

Pernyataan Dispertan Pati Soal Tak Adanya Lahan Puso Tuai Kontroversi

PATI – Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati menyatakan tak ada lahan puso, meski terendam banjir di Kota Mina Tani. Nyatanya, petani di wilayah Wedarijaksa kelimpungan merugi Rp 3 miliar karena tanamannya gagal panen/puso.

Pernyataan pihak Dispertan Pati ini menuai kontroversi. Pihaknya menyatakan tak ada lahan puso paska banjir bandang belum lama ini. Para petani di wilayah Wedarijaksa puluhan hektare (ha) tanaman bawang merah gagal panen akibat banjir.

Kepala Desa Ngurensiti, Wedarijaksa Indra Prasta mengatakan, di wilayahnya dan Desa Ngurenrejo Kecamatan Wedarijaksa banyak yang puso. Di Ngurensiti sendiri kisaran 50 hektare lahan terdampak. 20 hektare tanaman bawang merah puso.


”UPT Dispertan sudah menemui pihak desa. Mereka mendata soal puso. Itupun sudah kami sampaikan di desa kami ada 20 hektare lahan puso. Tapi kenapa dianggap tidak ada puso,” keluhnya.

Menurutnya, pihak Dispertan setempat tak mengetahui kondisi di lapangan. Bahkan akibat puso di desanya itu, akan ada anggota DPR RI yang akan mengkawal petani yang terdampak banjir. Rencananya ada bantuan benih.

”Pernyataan dinas tidak ada puso. Saya anggap mereka tidak turun ke lapangan. Atau mungkin mereka bangun tidur. Sehingga tidak tahu dampak banjir yang mengakibatkan petani ini merugi miliaran rupiah,” tegasnya.

Akibat banjir bandang beberapa waktu lalu itu, ketugian desa sentra bawang merah itu miliaran rupiah. Beberapa petani bawang merah pun mengeluhkan kerugian yang dialaminya akibat tanamannya puso.

Baca Juga :  Ketua DPRD Janjikan Bonus untuk Persipa

”Kalau bawang merah ini terendam air, dipastikan tanaman akan membusuk. Petani dipastikan gagal panen,” tandasnya.

”Silahkan dispertan kalau mau turun ke lapangan. Nanti akan saya tunjukkan langsung ke lokasi. Akan pertemukan langsung dengan petani bawang merah. Soalnya, ini benar-benar terdampak para petani. Lahan mereka puso karena banjir bandang,” lanjutnya.

Saat dikonfirmasi, Dispertan Kabupaten Pati menyatakan, banjir bandang beberapa hari lalu tidak mengakibatkan puso atau gagal panen. Meski sejumlah lahan pertanian di Bumi Mina Tani sempat terendam banjir.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dispertan Pati Kun Saptono mengatakan, kategori puso bila 70 persen tanaman gagal panen. Kemudian, dinyatakan gagal panen oleh Pengendali Urganisme Pengganggu Tumbuhan (PUPT).

”Kalau tidak mengalami puso, bantuan tidak bisa diajukan. Kalau yang sifatnya puso, sudah dua pekan terendam banjir. Lalu tidak produksi itu baru kami bisa menyampikan untuk bantuan,” ujarnya.

Ratusan hektare lahan pertanian yang berada di lima Kecamatan Pati terkena dampak banjir (14/7). Dispertan mencatat, setidaknya ada 518 hektare lahan pertanian yang terdampak bencana tersebut. Meski tidak masuk kategori puso.

Berdasarkan data dari Dispertan Pati, lahan pertanian tanaman padi yang terdampak banjir sejumlah 405 hektare. Meliputi Kecamatan Pati, Margoyoso, Tayu, dan Trangkil.

Kemudian, tanaman holtikurtura yang terdampak banjir berada di Kecamatan Wedarijaksa. Tanaman bawang merah dengan luasan 93 hektare, dan luas lahan tanaman cabai sejumlah 20 hektare. (adr)

PATI – Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati menyatakan tak ada lahan puso, meski terendam banjir di Kota Mina Tani. Nyatanya, petani di wilayah Wedarijaksa kelimpungan merugi Rp 3 miliar karena tanamannya gagal panen/puso.

Pernyataan pihak Dispertan Pati ini menuai kontroversi. Pihaknya menyatakan tak ada lahan puso paska banjir bandang belum lama ini. Para petani di wilayah Wedarijaksa puluhan hektare (ha) tanaman bawang merah gagal panen akibat banjir.

Kepala Desa Ngurensiti, Wedarijaksa Indra Prasta mengatakan, di wilayahnya dan Desa Ngurenrejo Kecamatan Wedarijaksa banyak yang puso. Di Ngurensiti sendiri kisaran 50 hektare lahan terdampak. 20 hektare tanaman bawang merah puso.

”UPT Dispertan sudah menemui pihak desa. Mereka mendata soal puso. Itupun sudah kami sampaikan di desa kami ada 20 hektare lahan puso. Tapi kenapa dianggap tidak ada puso,” keluhnya.

Menurutnya, pihak Dispertan setempat tak mengetahui kondisi di lapangan. Bahkan akibat puso di desanya itu, akan ada anggota DPR RI yang akan mengkawal petani yang terdampak banjir. Rencananya ada bantuan benih.

”Pernyataan dinas tidak ada puso. Saya anggap mereka tidak turun ke lapangan. Atau mungkin mereka bangun tidur. Sehingga tidak tahu dampak banjir yang mengakibatkan petani ini merugi miliaran rupiah,” tegasnya.

Akibat banjir bandang beberapa waktu lalu itu, ketugian desa sentra bawang merah itu miliaran rupiah. Beberapa petani bawang merah pun mengeluhkan kerugian yang dialaminya akibat tanamannya puso.

Baca Juga :  Geger! Buaya Lepas, Hebohkan Warga Perumahan Sukoharjo Pati

”Kalau bawang merah ini terendam air, dipastikan tanaman akan membusuk. Petani dipastikan gagal panen,” tandasnya.

”Silahkan dispertan kalau mau turun ke lapangan. Nanti akan saya tunjukkan langsung ke lokasi. Akan pertemukan langsung dengan petani bawang merah. Soalnya, ini benar-benar terdampak para petani. Lahan mereka puso karena banjir bandang,” lanjutnya.

Saat dikonfirmasi, Dispertan Kabupaten Pati menyatakan, banjir bandang beberapa hari lalu tidak mengakibatkan puso atau gagal panen. Meski sejumlah lahan pertanian di Bumi Mina Tani sempat terendam banjir.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dispertan Pati Kun Saptono mengatakan, kategori puso bila 70 persen tanaman gagal panen. Kemudian, dinyatakan gagal panen oleh Pengendali Urganisme Pengganggu Tumbuhan (PUPT).

”Kalau tidak mengalami puso, bantuan tidak bisa diajukan. Kalau yang sifatnya puso, sudah dua pekan terendam banjir. Lalu tidak produksi itu baru kami bisa menyampikan untuk bantuan,” ujarnya.

Ratusan hektare lahan pertanian yang berada di lima Kecamatan Pati terkena dampak banjir (14/7). Dispertan mencatat, setidaknya ada 518 hektare lahan pertanian yang terdampak bencana tersebut. Meski tidak masuk kategori puso.

Berdasarkan data dari Dispertan Pati, lahan pertanian tanaman padi yang terdampak banjir sejumlah 405 hektare. Meliputi Kecamatan Pati, Margoyoso, Tayu, dan Trangkil.

Kemudian, tanaman holtikurtura yang terdampak banjir berada di Kecamatan Wedarijaksa. Tanaman bawang merah dengan luasan 93 hektare, dan luas lahan tanaman cabai sejumlah 20 hektare. (adr)


Most Read

Artikel Terbaru