alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Penanganan Stunting Butuh Gotong Royong

PATI – Penanganan kasus stunting dibutuhkan kekompakan semua pihak. Mulai pemerintah pusat sampai ke tingkat desa. Hal ini diungkapkan Anggota DPD Republik Indonesia (RI) Casytha Arriwi Kathmandu saat meninjau sekaligus memberikan bantuan makanan pendamping bagi balita dalam kegiatan posyandu di Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo

“Meski tidak signifikan, kami turun disini dengan harapan dapat membantu melawan stunting,” terang perempuan yang akrab disapa Sytha ini

Pihaknya menilai gerakan untuk penanganan kasus stunting saat ini relatif cukup. Sytha berharap baik kabupaten, provinsi maupun tingkat pusat dapat bersama-sama dalam menangani stunting.


“Harapannya agar desa-desa terpencil juga bisa dirangkul. Apalagi Jawa Tengah memiliki wilayah yang luas sekali. Jumlah desa di Jateng termasuk yang terbanyak. Diatas 7.000 desa. Pekerjaan kita masih banyak,” imbuhnya.

Sytha meminta agar semua pihak ikut bekerjasama dalam mengeroyok kasus stunting. Salah satunya melalui kegiatan di posyandu. Sebab posyandu menjadi garda terdepan kesehatan di masyarakat.

Baca Juga :  Pekan Depan PTM Terbatas di Pati Dibuka Lagi, Ini Pertimbangannya

“Stunting salah satu faktornya disebabkan karena gizi yang tidak terpenuhi dengan baik. Oleh karenanya dampaknya macam-macam termasuk stunting,” imbuhnya.

Stunting, lanjut Sytha, menjadi persoalan terkait masalah generasi penerus. Persoalan perang melawan stunting menurutnya memang tidak secara langsung dirasakan saat ini namun begitu penting untuk masa depan.

“Kalau generasi muda tidak sehat, bagaimana nanti di masa mendatang. Ini bagian dari upaya menyiapkan generasi unggul di masa depan untuk negara ini,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Desa Dadirejo, Sukarjo mengatakan, upaya penanganan stunting memang menjadi salah satu prioritas dalam progam kerja desa tersebut. Dia bersyukur kasus stunting di wilayahnya dapat turun setiap tahunnya.

“Dulu saat awal menjabat sekitar 200-an kasus, namun sekarang sudah tinggal 120an. Kami memang memiliki sejumlah progam yang diterapkan di desa. Termasuk posyandu untuk balita,” paparnya. (him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

PATI – Penanganan kasus stunting dibutuhkan kekompakan semua pihak. Mulai pemerintah pusat sampai ke tingkat desa. Hal ini diungkapkan Anggota DPD Republik Indonesia (RI) Casytha Arriwi Kathmandu saat meninjau sekaligus memberikan bantuan makanan pendamping bagi balita dalam kegiatan posyandu di Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo

“Meski tidak signifikan, kami turun disini dengan harapan dapat membantu melawan stunting,” terang perempuan yang akrab disapa Sytha ini

Pihaknya menilai gerakan untuk penanganan kasus stunting saat ini relatif cukup. Sytha berharap baik kabupaten, provinsi maupun tingkat pusat dapat bersama-sama dalam menangani stunting.

“Harapannya agar desa-desa terpencil juga bisa dirangkul. Apalagi Jawa Tengah memiliki wilayah yang luas sekali. Jumlah desa di Jateng termasuk yang terbanyak. Diatas 7.000 desa. Pekerjaan kita masih banyak,” imbuhnya.

Sytha meminta agar semua pihak ikut bekerjasama dalam mengeroyok kasus stunting. Salah satunya melalui kegiatan di posyandu. Sebab posyandu menjadi garda terdepan kesehatan di masyarakat.

Baca Juga :  Tak Dapat Suntikan Dana Pemerintah, Persipa Pati Jualan Merchandise

“Stunting salah satu faktornya disebabkan karena gizi yang tidak terpenuhi dengan baik. Oleh karenanya dampaknya macam-macam termasuk stunting,” imbuhnya.

Stunting, lanjut Sytha, menjadi persoalan terkait masalah generasi penerus. Persoalan perang melawan stunting menurutnya memang tidak secara langsung dirasakan saat ini namun begitu penting untuk masa depan.

“Kalau generasi muda tidak sehat, bagaimana nanti di masa mendatang. Ini bagian dari upaya menyiapkan generasi unggul di masa depan untuk negara ini,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Desa Dadirejo, Sukarjo mengatakan, upaya penanganan stunting memang menjadi salah satu prioritas dalam progam kerja desa tersebut. Dia bersyukur kasus stunting di wilayahnya dapat turun setiap tahunnya.

“Dulu saat awal menjabat sekitar 200-an kasus, namun sekarang sudah tinggal 120an. Kami memang memiliki sejumlah progam yang diterapkan di desa. Termasuk posyandu untuk balita,” paparnya. (him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

Most Read

Artikel Terbaru

/