alexametrics
32 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Tergiur Bisnis Mie Instan, Beberapa Warga Pati malah Rugi Ratusan Juta

PATI – Warga Desa Ngepungrojo, Pati tertipu dugaan bisnis reseler mi instan. Setidaknya terdapat sembilan warga di desa itu tertipu. Mereka rugi Rp 398 juta.

Beredar kabar puluhan warga geger menyangkut persoalan tersebut. Bahwasannya, dalam kurun waktu empat bulan terakhir ini ada reseler yang menawarkan harga logistik jauh di bawah pasaran. Oleh sebab itu, para warga berbondong-bondong membeli ribuan dus mie instan.

Kades Ngepungrojo Tri Santoso membenarkan. Warga Bakaran Wetan, Juwana, M, yang jadi reseler ini mengontrak selama satu tahun di desanya. Sebelum menjadi reseler, M punya usaha rental mobil.


”Suami istri ini ngontrak di desa saya. Dia jualan grosiran mi instan di bawah harga normal. Jika dibandingkan dengan di pasar pada umumnya, harga mi instan seharga Rp 93.250. Dia jualnya Rp 74.000-Rp 80.000 per karton,” jelasnya saat ditemui kemarin.

Menurutnya, ada yang janggal soal harganya itu. Dari struk pembelian milik M, harga tertera Rp 93.250 per karton. Akan tetapi dijual dibawah harga tersebut. ”Aneh kan. Malah noroki. Mungkin modusnya seperti itu. Saya kurang paham,” katanya.

Baca Juga :  Angka Petani Muda di Pati Kurang dari Satu Persen

Warganya ini kemudian tertarik bisnis dengan M. Soalnya, membeli barang yang harganya tak lazim. Bisa dapat untung banyak. ”Per karton biasanya untung Rp 1.000-Rp 2.000. Lha ini bisa untung sampai Rp 10.000 per karton. Ada yang beli 500 karton. Jadi untungnya Rp 5 juta. Mungkin warga tergiur. Dan akhirnya kilaf,” tukasnya.

Kemudian warganya berbondong-bondong membeli mi instan yang ditawarkan reseler M itu. Rata-rata per orang membeli 500-1.000 dus.

Dia menambahkan, awalnya pasokan logistik tersebut lancar. Akan tetapi dekat-dekat ini macet. Ada warga yang menagih stok mi instan. Tapi tak kunjung datang.

”Setelah untung, kemudian beli seribu dus. Kemarin warga saya tanya ternyata tak dikirim-kirim. Totalnya ada sembilan warga di desa saya. Secara keseluruhan kerugian Rp 398 jutaan. Itu belum termasuk warga diluar desa saya,” paparnya.

Saat ditemui di kediamannya, reseler berinial M itu tak berkenan diwawancarai. ”Mohon maaf, Mas. Ndak dulu. Jangan diwawancarai,” jelasnya. (zen)

PATI – Warga Desa Ngepungrojo, Pati tertipu dugaan bisnis reseler mi instan. Setidaknya terdapat sembilan warga di desa itu tertipu. Mereka rugi Rp 398 juta.

Beredar kabar puluhan warga geger menyangkut persoalan tersebut. Bahwasannya, dalam kurun waktu empat bulan terakhir ini ada reseler yang menawarkan harga logistik jauh di bawah pasaran. Oleh sebab itu, para warga berbondong-bondong membeli ribuan dus mie instan.

Kades Ngepungrojo Tri Santoso membenarkan. Warga Bakaran Wetan, Juwana, M, yang jadi reseler ini mengontrak selama satu tahun di desanya. Sebelum menjadi reseler, M punya usaha rental mobil.

”Suami istri ini ngontrak di desa saya. Dia jualan grosiran mi instan di bawah harga normal. Jika dibandingkan dengan di pasar pada umumnya, harga mi instan seharga Rp 93.250. Dia jualnya Rp 74.000-Rp 80.000 per karton,” jelasnya saat ditemui kemarin.

Menurutnya, ada yang janggal soal harganya itu. Dari struk pembelian milik M, harga tertera Rp 93.250 per karton. Akan tetapi dijual dibawah harga tersebut. ”Aneh kan. Malah noroki. Mungkin modusnya seperti itu. Saya kurang paham,” katanya.

Baca Juga :  Bikin Geger! Pamit Cari Ikan, Kakek 60 Tahun di Pati Ditemukan Tewas di Sungai

Warganya ini kemudian tertarik bisnis dengan M. Soalnya, membeli barang yang harganya tak lazim. Bisa dapat untung banyak. ”Per karton biasanya untung Rp 1.000-Rp 2.000. Lha ini bisa untung sampai Rp 10.000 per karton. Ada yang beli 500 karton. Jadi untungnya Rp 5 juta. Mungkin warga tergiur. Dan akhirnya kilaf,” tukasnya.

Kemudian warganya berbondong-bondong membeli mi instan yang ditawarkan reseler M itu. Rata-rata per orang membeli 500-1.000 dus.

Dia menambahkan, awalnya pasokan logistik tersebut lancar. Akan tetapi dekat-dekat ini macet. Ada warga yang menagih stok mi instan. Tapi tak kunjung datang.

”Setelah untung, kemudian beli seribu dus. Kemarin warga saya tanya ternyata tak dikirim-kirim. Totalnya ada sembilan warga di desa saya. Secara keseluruhan kerugian Rp 398 jutaan. Itu belum termasuk warga diluar desa saya,” paparnya.

Saat ditemui di kediamannya, reseler berinial M itu tak berkenan diwawancarai. ”Mohon maaf, Mas. Ndak dulu. Jangan diwawancarai,” jelasnya. (zen)


Most Read

Artikel Terbaru

/