alexametrics
24.1 C
Kudus
Tuesday, July 5, 2022

Ansor Pati Sebut Ponpes di Eks Lokalisasi LI Mirip Aroma Prostitusi

PATI – Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pati Itqonul Hakim memastikan tidak ada pondok pesantren di Lorong Indah atau Lorok Indah (LI) Pati. Ia menyebut bangunan yang diklaim pondok pesantren itu lebih mirip eks-praktik prostitusi. Berdasarkan pantauannya di lapangan, Kamis (4/2) kemarin, ada sisa-sisa alat kontrasepsi di bangunan itu.

”Bukanlah pesantren. Melainkan bangunan bertingkat dengan kamar-kamar yang identik dengan aroma prostitusi. Lha wong banyak alat kontrasepsi kami temukan di lokasi kok. Kan, saya ada di lokasi dari awal hingga selesai pembongkaran,” ujarnya.

Ia pun membenarkan di sana terpampang pelang pondok pesantren. Di sana juga ada foto-foto beberapa ulama. Namun, berdasarakan info didapatkan dia, pelang pondok pesantren itu baru dipasang setelah Pemkab Pati berencana merobohkan bangunan di LI.


”Siapapun boleh cek ke warga Pati. Begitu mendengar kata Lorok Indah maka sudah pasti itulah sarang prostitusi,” tegasnya.

Pihaknya serta PC NU Pati, menyimpulkan ada oknum yang mau bermain-main dengan menggunakan pesantren sebagai tameng untuk menghindari proses penertiban lokalisasi.

Naudzubillah, jika ada manusia yang tega menggunakan pesantren sebagai bamper prostitusi. Saya ini lahir di lingkungan pesantren. Belajar juga di pesantren. Pulang pun tinggal di lingkungan pesantren,” tuturnya.

”Jadi paham betul dengan pesantren dan dipastikan kawasan LI itu tidak ada pesantren. Adanya prostitusi yang nyamar jadi pesantren biar tidak dirobohkan oleh Pemda. Bahayakan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Kronologi Tabungan Nasabah BRI Pati Senilai Rp 206 Juta Raib, Modusnya Kirim Token Listrik

Sementara itu, pihak pesantren tersebut mengaku soal bangunan pondoknya itu wakaf yang diberikan Zainal Musyafak kepada Gus Nuril.

”Pondok ini bangunan yang sebelumnya karaoke. Namun ini sudah diwakafkan. Memang ada santrinya. Baru sembilan santri laki-laki. Usianya 10-21 tahunan. Karena ada kejadian ini, santri kami pindahkan di Kudus,” kata pengasuh pondok Khoirul Annas saat ditemui wartawan ini di lokasi LI kemarin.

”Sebelumnya ada bangunan untuk untuk beliau (Musyafak, Red) istrirahat. Setelah diwakafkan diganti untuk ruang mesin jahit. Karena mau dibongkar, saya ungsikan mesin-mesin jahit itu,” lanjutnya.

Dia menambahkan, sebenarnya sudah ada audiensi dengan pihak Pemkab Pati. Bahwasannya, yang akan dibongkar bangunan selain pondok. ”Kesepakatannya pondok ditunda dulu dibongkar. Tapi apa? Malah dibongkar sebagian pondok kami,” tambahnya.

Pihaknya mengaku pasrah. Kenapa bangunannya kok dihancurkan. Rencananya, pihaknya akan menuntut adanya hal ini. ”Ini pasti akan kami tuntut. Kami tak terima. Soalnya ada sertifikatnya. Ini kan sama-sama orang Islam. Harusnya ini kan bisa dirembuk dengan baik. Lha ini sudah terlanjur seperti ini,” tandasnya. (zen)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pati Itqonul Hakim memastikan tidak ada pondok pesantren di Lorong Indah atau Lorok Indah (LI) Pati. Ia menyebut bangunan yang diklaim pondok pesantren itu lebih mirip eks-praktik prostitusi. Berdasarkan pantauannya di lapangan, Kamis (4/2) kemarin, ada sisa-sisa alat kontrasepsi di bangunan itu.

”Bukanlah pesantren. Melainkan bangunan bertingkat dengan kamar-kamar yang identik dengan aroma prostitusi. Lha wong banyak alat kontrasepsi kami temukan di lokasi kok. Kan, saya ada di lokasi dari awal hingga selesai pembongkaran,” ujarnya.

Ia pun membenarkan di sana terpampang pelang pondok pesantren. Di sana juga ada foto-foto beberapa ulama. Namun, berdasarakan info didapatkan dia, pelang pondok pesantren itu baru dipasang setelah Pemkab Pati berencana merobohkan bangunan di LI.

”Siapapun boleh cek ke warga Pati. Begitu mendengar kata Lorok Indah maka sudah pasti itulah sarang prostitusi,” tegasnya.

Pihaknya serta PC NU Pati, menyimpulkan ada oknum yang mau bermain-main dengan menggunakan pesantren sebagai tameng untuk menghindari proses penertiban lokalisasi.

Naudzubillah, jika ada manusia yang tega menggunakan pesantren sebagai bamper prostitusi. Saya ini lahir di lingkungan pesantren. Belajar juga di pesantren. Pulang pun tinggal di lingkungan pesantren,” tuturnya.

”Jadi paham betul dengan pesantren dan dipastikan kawasan LI itu tidak ada pesantren. Adanya prostitusi yang nyamar jadi pesantren biar tidak dirobohkan oleh Pemda. Bahayakan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Dana Normalisasi Sungai Juwana Pati Tersisa Rp 100 M

Sementara itu, pihak pesantren tersebut mengaku soal bangunan pondoknya itu wakaf yang diberikan Zainal Musyafak kepada Gus Nuril.

”Pondok ini bangunan yang sebelumnya karaoke. Namun ini sudah diwakafkan. Memang ada santrinya. Baru sembilan santri laki-laki. Usianya 10-21 tahunan. Karena ada kejadian ini, santri kami pindahkan di Kudus,” kata pengasuh pondok Khoirul Annas saat ditemui wartawan ini di lokasi LI kemarin.

”Sebelumnya ada bangunan untuk untuk beliau (Musyafak, Red) istrirahat. Setelah diwakafkan diganti untuk ruang mesin jahit. Karena mau dibongkar, saya ungsikan mesin-mesin jahit itu,” lanjutnya.

Dia menambahkan, sebenarnya sudah ada audiensi dengan pihak Pemkab Pati. Bahwasannya, yang akan dibongkar bangunan selain pondok. ”Kesepakatannya pondok ditunda dulu dibongkar. Tapi apa? Malah dibongkar sebagian pondok kami,” tambahnya.

Pihaknya mengaku pasrah. Kenapa bangunannya kok dihancurkan. Rencananya, pihaknya akan menuntut adanya hal ini. ”Ini pasti akan kami tuntut. Kami tak terima. Soalnya ada sertifikatnya. Ini kan sama-sama orang Islam. Harusnya ini kan bisa dirembuk dengan baik. Lha ini sudah terlanjur seperti ini,” tandasnya. (zen)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/