alexametrics
26.9 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Efek Harga Solar Tinggi, Ribuan Kapal di Pati Jadi Enggan Melaut

PATI – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pati mencatat 70 persen kapal besar di Juwana belum melaut. Atau total sebanyak Sudah berbulan-bulan (sejak lebaran) kapal-kapal besar bersandar di Pelabuhan Juwana.

Kapal berkapasitas di atas 30 Gross Tonnage (GT) jumlahnya mencapai 576 unit. Sedangkan, untuk kapal nelayan kecil berukuran di bawah 10 GT, jumlahnya mencapai 1.732 unit. Jadi total kapal yang masih berlabuh sebanyak 2.305 unit.

Salah satu sebabnya tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Saat ini mencapai Rp 17.000 per liter.


”Saya selalu komunikasi dengan para nelayan, ada grupnya. Baru 20-30 persen kapal besar Juwana yang melaut. Kondisi ini sudah berbulan-bulan. Ini karena harga BBM tinggi. Bisa mencapai Rp 15.000 ke atas (sebelumnya Rp 9.000). Kalau bio solar saja Rp 5.000-an. Ini belum ada,” ujar Kepala DKP Pati Edy Martanto.

Menurutnya, nelayan di Kota Mina Tani ini belum memenuhi skala industri. Tak adil jika ditarif harga BBM dengan skala industri itu (Rp 17.000, Red).

”Rp 15.000-an keatas ini untuk harga BBM skala industri. Sedangkan di Pati ini tak 100 persen skala industri. Bisa dibilang kelasnya medium/menengah (kapal besar/pursein). Paling tidak harganya dibawah itu,” tuturnya.

Edy mengaku telah mengusulkan pertimbangan soal harga BBM solar ini. Sudah bersurat ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Kami selalu bersurat ke KKP soal harga BBM ini. Akan tetapi belum ada respon. Masih ramai ini di kalangan nelayan,” terangnya.

Baca Juga :  Nazar Naik Kasta ke Liga 2, Plt Ketum Persipa Pati Santuni 300 Anak Yatim

Biasanya, para nelayan membeli solar dari distributor dengan harga miring. Tak sampai Rp 15.000 ke atas. “Kalau di Pertamina dulu Rp 9.000. Di distributor bisa dibawah itu. Saat ini di Pertamina harga solar bisa diatas Rp 16.000,” ujar Ketua Barisan Muda Nelayan Juwana Mukit.

Biasanya, per kapal cantrang yang melaut bisa menghabiskan 8 kiloliter (kl) solar.

Sedangkan untuk kapal jenis pursein menghabiskan ribuan drim atau 20 kl solar. ”Kalau ke Papua bisa menghabiskan 140 kl. Ada juga kapal yang berangkat melaut. Tapi itu hanya sisa solar kemarin yang digunakan,” tandasnya.

Dia mengaku, banyak kapal yang memutuskan untuk tak berangkat melaut. Selain pengaruh solar, hasil tangkapannya tak sepadan. ”Banyak kapal yang tak berangkat ini. Ini gara-gara BBM mahal dan hasil tangkapan ikan tak cocok,” paparnya.

Sementara itu, paguyuban kapal pursein Juwana menambahkan ada beberapa kapal yang masih bisa membeli solar dari Pertamina. Beberapa masih berangkat. ”Ada yang berangkat melaut walaupun harga solar mahal. Selain itu saat ini hasil tangkap tak sepadan. Dari situ ada yang memutuskan untuk tak berangkat melaut,” terang Wakil Ketua Paguyuban Kapal Pursein Juwana Purnomo. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pati mencatat 70 persen kapal besar di Juwana belum melaut. Atau total sebanyak Sudah berbulan-bulan (sejak lebaran) kapal-kapal besar bersandar di Pelabuhan Juwana.

Kapal berkapasitas di atas 30 Gross Tonnage (GT) jumlahnya mencapai 576 unit. Sedangkan, untuk kapal nelayan kecil berukuran di bawah 10 GT, jumlahnya mencapai 1.732 unit. Jadi total kapal yang masih berlabuh sebanyak 2.305 unit.

Salah satu sebabnya tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Saat ini mencapai Rp 17.000 per liter.

”Saya selalu komunikasi dengan para nelayan, ada grupnya. Baru 20-30 persen kapal besar Juwana yang melaut. Kondisi ini sudah berbulan-bulan. Ini karena harga BBM tinggi. Bisa mencapai Rp 15.000 ke atas (sebelumnya Rp 9.000). Kalau bio solar saja Rp 5.000-an. Ini belum ada,” ujar Kepala DKP Pati Edy Martanto.

Menurutnya, nelayan di Kota Mina Tani ini belum memenuhi skala industri. Tak adil jika ditarif harga BBM dengan skala industri itu (Rp 17.000, Red).

”Rp 15.000-an keatas ini untuk harga BBM skala industri. Sedangkan di Pati ini tak 100 persen skala industri. Bisa dibilang kelasnya medium/menengah (kapal besar/pursein). Paling tidak harganya dibawah itu,” tuturnya.

Edy mengaku telah mengusulkan pertimbangan soal harga BBM solar ini. Sudah bersurat ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Kami selalu bersurat ke KKP soal harga BBM ini. Akan tetapi belum ada respon. Masih ramai ini di kalangan nelayan,” terangnya.

Baca Juga :  Batik Bakaran Pati Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda

Biasanya, para nelayan membeli solar dari distributor dengan harga miring. Tak sampai Rp 15.000 ke atas. “Kalau di Pertamina dulu Rp 9.000. Di distributor bisa dibawah itu. Saat ini di Pertamina harga solar bisa diatas Rp 16.000,” ujar Ketua Barisan Muda Nelayan Juwana Mukit.

Biasanya, per kapal cantrang yang melaut bisa menghabiskan 8 kiloliter (kl) solar.

Sedangkan untuk kapal jenis pursein menghabiskan ribuan drim atau 20 kl solar. ”Kalau ke Papua bisa menghabiskan 140 kl. Ada juga kapal yang berangkat melaut. Tapi itu hanya sisa solar kemarin yang digunakan,” tandasnya.

Dia mengaku, banyak kapal yang memutuskan untuk tak berangkat melaut. Selain pengaruh solar, hasil tangkapannya tak sepadan. ”Banyak kapal yang tak berangkat ini. Ini gara-gara BBM mahal dan hasil tangkapan ikan tak cocok,” paparnya.

Sementara itu, paguyuban kapal pursein Juwana menambahkan ada beberapa kapal yang masih bisa membeli solar dari Pertamina. Beberapa masih berangkat. ”Ada yang berangkat melaut walaupun harga solar mahal. Selain itu saat ini hasil tangkap tak sepadan. Dari situ ada yang memutuskan untuk tak berangkat melaut,” terang Wakil Ketua Paguyuban Kapal Pursein Juwana Purnomo. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/