alexametrics
29.3 C
Kudus
Thursday, August 4, 2022

Alasan Pedagang Alun-alun Kembang Joyo Pati Tolak Penarikan Retribusi

PATI – Pemkab Pati berencana menarik retribusi bagi pedagang Alun-alun Kembang Joyo Pati. Pasalnya, tempat tersebut merupakan aset dan lahan Pemkab Pati. Adanya pemasukan untuk pendapatan asli daerah (PAD). Hingga saat ini, belum ada penarikan retribusi di sana. Namun rencana itu ditolak para pedagang.

Sementara paguyuban pedagang kaki lima (PKL) di Alun-alun Kembang Joyo untuk saat ini tak menyepakati rencana pungutan retribusi itu. Kondisi di sana masih sepi pengunjung.

”Kebijakan pemerintah itu sebenarnya baik. Tapi untuk saat ini jangan ditarik retribusi dulu. Soalnya, keadaan Alun-alun Timur ini masih sepi pengunjung. Jadi kasian para PKL nantinya,” terang Ketua Paguyuban Alun-alun Timur atau Kembang Joyo Hendro Supriyanto.


Jika memang ditarik retribusi, lanjut dia, menunggu kondisi para PKL ataupun alun-alun sudah pulih. Soalnya, masih banyak pedagang yang kelimpungan mencari modal.

”Alun-alun ini dikatakan pulih belum. Palingan yang ramai masih sisi depan saja. selain itu, lapak juga masih ada yang belum terisi. Banyak juga PKL yang kesulitan cari modal. Jadi soal penarikan retribusi ini perlu dipikirkan,” kata laki-laki yang akrab disapa Sipo ini.

Di sisi lain, adanya wacana penarikan retribusi Alun-alun Kembang Joyo itu telah dirapatkan internal oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati. Baru tahap pendataan lapak dan potensi pendapatan di alun-alun baru itu. ”Rencana penarikan retribusi Alun-alun Kembang Joyo Pati sudah kami rapatkan. Untuk nilainya retribusinya belum. Kemungkinan Rp 1.000 tarifnya. Tapi menunggu hasil rapat lagi. Sementara ini belum,” papar Kepala Disdagperin Pati Hadi Santosa.

Baca Juga :  Status PPKM Pati Turun ke Level I, Bupati: Masyarakat Jangan Euforia

Adanya penarikan retribusi itu, pihaknya perlu melihat perkembangan pedagang di Alun-alun Kembang Joyo. Soal perkembangan di sana, pihaknya meninjau selama 3-6 bulan untuk pemantauan. Sudah pulih atau belum. ”Untuk pemakaian lapak di alun-alun baru sampai saat ini masih kami bebaskan. Tak dipungut retribusi. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ditarik retribusi. Soalnya, mereka menempati lahan pemda. Namun, itu melihat kalau sudah baik keadaannya,” ucapnya.

Penetepan retribusi ini tak semerta-merta langsung direalisasi. Lanjut Hadi, perlu menimbang dari berbagai pihak. Mulai Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) hingga pedagang di alun-alun baru. ”Retribusi alun-alun baru akan kami rapatkan dulu dengan BPKAD. Melihat potensi yang didapat di sana untuk PAD. Nantinya, kami juga mengundang pedagang untuk membahas soal retribusi juga,” tukasnya.

Di samping itu, adanya penarikan retribusi ini dalam rangka mencari sumber pendapatan baru. Dalam hal ini, menyumbang PAD. ”Kami berusaha untuk memenuhi target PAD. Oleh sebab itu, kami berusaha mencari sumber-sumber pendapatan baru. Misalnya, retribusi Pragola dan Alun-alun Kembang Joyo. Tapi belum kami sampaikan ke BPKAD. Soalnya, perlu persiapan yang matang untuk penarikan retribusi,” tambahnya.

Hadi berharap, di Alun-alun Kembang Joyo ke depannya ramai pembeli. Masyarakat Pati bisa memanfaatkan fasilitas dari Pemda Pati. Di samping itu, para pedagang bisa mematuhi peraturan yang ditetapkan pemerintah. (adr/war)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Pemkab Pati berencana menarik retribusi bagi pedagang Alun-alun Kembang Joyo Pati. Pasalnya, tempat tersebut merupakan aset dan lahan Pemkab Pati. Adanya pemasukan untuk pendapatan asli daerah (PAD). Hingga saat ini, belum ada penarikan retribusi di sana. Namun rencana itu ditolak para pedagang.

Sementara paguyuban pedagang kaki lima (PKL) di Alun-alun Kembang Joyo untuk saat ini tak menyepakati rencana pungutan retribusi itu. Kondisi di sana masih sepi pengunjung.

”Kebijakan pemerintah itu sebenarnya baik. Tapi untuk saat ini jangan ditarik retribusi dulu. Soalnya, keadaan Alun-alun Timur ini masih sepi pengunjung. Jadi kasian para PKL nantinya,” terang Ketua Paguyuban Alun-alun Timur atau Kembang Joyo Hendro Supriyanto.

Jika memang ditarik retribusi, lanjut dia, menunggu kondisi para PKL ataupun alun-alun sudah pulih. Soalnya, masih banyak pedagang yang kelimpungan mencari modal.

”Alun-alun ini dikatakan pulih belum. Palingan yang ramai masih sisi depan saja. selain itu, lapak juga masih ada yang belum terisi. Banyak juga PKL yang kesulitan cari modal. Jadi soal penarikan retribusi ini perlu dipikirkan,” kata laki-laki yang akrab disapa Sipo ini.

Di sisi lain, adanya wacana penarikan retribusi Alun-alun Kembang Joyo itu telah dirapatkan internal oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati. Baru tahap pendataan lapak dan potensi pendapatan di alun-alun baru itu. ”Rencana penarikan retribusi Alun-alun Kembang Joyo Pati sudah kami rapatkan. Untuk nilainya retribusinya belum. Kemungkinan Rp 1.000 tarifnya. Tapi menunggu hasil rapat lagi. Sementara ini belum,” papar Kepala Disdagperin Pati Hadi Santosa.

Baca Juga :  Duh, Baru Direnovasi, Atap Masjid Agung Pati Masih Saja Bocor

Adanya penarikan retribusi itu, pihaknya perlu melihat perkembangan pedagang di Alun-alun Kembang Joyo. Soal perkembangan di sana, pihaknya meninjau selama 3-6 bulan untuk pemantauan. Sudah pulih atau belum. ”Untuk pemakaian lapak di alun-alun baru sampai saat ini masih kami bebaskan. Tak dipungut retribusi. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ditarik retribusi. Soalnya, mereka menempati lahan pemda. Namun, itu melihat kalau sudah baik keadaannya,” ucapnya.

Penetepan retribusi ini tak semerta-merta langsung direalisasi. Lanjut Hadi, perlu menimbang dari berbagai pihak. Mulai Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) hingga pedagang di alun-alun baru. ”Retribusi alun-alun baru akan kami rapatkan dulu dengan BPKAD. Melihat potensi yang didapat di sana untuk PAD. Nantinya, kami juga mengundang pedagang untuk membahas soal retribusi juga,” tukasnya.

Di samping itu, adanya penarikan retribusi ini dalam rangka mencari sumber pendapatan baru. Dalam hal ini, menyumbang PAD. ”Kami berusaha untuk memenuhi target PAD. Oleh sebab itu, kami berusaha mencari sumber-sumber pendapatan baru. Misalnya, retribusi Pragola dan Alun-alun Kembang Joyo. Tapi belum kami sampaikan ke BPKAD. Soalnya, perlu persiapan yang matang untuk penarikan retribusi,” tambahnya.

Hadi berharap, di Alun-alun Kembang Joyo ke depannya ramai pembeli. Masyarakat Pati bisa memanfaatkan fasilitas dari Pemda Pati. Di samping itu, para pedagang bisa mematuhi peraturan yang ditetapkan pemerintah. (adr/war)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/