alexametrics
23.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Kasus Penganiayaan dengan Samurai di Pati Dihentikan, Apa Sebab? 

PATI – Kasus penganiayaan yang ditangani pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati dihentikan. Pasalnya, ada beberapa alasan yang dinilai perlu tak dilanjut perkara tersebut. Sehingga, pada kasus ini dihentikan penuntutannya berdasarkan keadilan restoratif (restorative justrice).

Pada Senin (31/1), pihak Kejari Pati mengajukan permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan Restoratif (Restorative Justice). Itu melalui ekspose secara virtual dihadapan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Fadil Zumhana terhadap perkara tindak pidana penganiayaan.

”Itu tersangka atas nama Agus Kami Muhadi. Dia disangka melanggar Pasal 351 ayat (1) KUHP,”  jelas Kasi Intel pada Kejari Pati Teguh Dwicahyono dikonfirmasi kemarin (2/2).


Berdasarkan keterangannya, peristiwa perbuatan pidana yang dilakukan tersangka itu terjadi pada Senin (29/11/2021) sekira pukul 15.30. Tempatnya di Desa Dadirejo, Margorejo.

Adapun alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan. Di antaranya, tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana, pasal yang disangkakan tindak pidananya diancam pidana tidak lebih dari lima tahun, telah ada kesepakatan perdamaian antara tersangka dengan korban pada 19 Januari 2022,

Dia menuturkan, mengingat restorative justice merupakan pemulihan kembali pada keadaan semula dan pola hubungan baik dalam masyarakat. Kemudian dikarenakan antar korban dan tersangka merupakan tetangga.

”Tersangka juga tulang punggung keluarga. Dia harus membantu menghidupi orang tua,” paparnya.

Pihak Kejari setempat kemudian mengupayakan perdamaian melalui restoratif justice. Hasilnya, terwujudnya perdamaian antara korban dan tersangka dengan disaksikan oleh tokoh masyarakat setempat pada 19 Januari lalu.

Baca Juga :  DPRD Pati Bikin Pansus Usut Kecurangan Seleksi Perangkat Desa

”Kami selanjutnya akan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum. Itu berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif,” terangnya.

Teguh menambahkan, Kejadian bermula saat tersangka (Agus, Red) membuat status di facebook (FB). ”Waspada vega ijo motor mentaris koh bose, iki peringatan, nek jek ngelek-ngelek aku nek buriku meneh, ko golek wacane provokator meneh, aku ra segan-segan ngilangke tangan embi sikelmu, nek ngak tak kasi pelajaran dirimu, selot sue kurang ar, wes cukup dirimu neleki uwong berah, malah akeh seng seneng eksekusi dirimu, buajingan kau”. Status tersebut dibaca oleh saksi korban Kahar.

Lanjut dia, kemudian saksi korban tersebut mengirim pesan melalui FB kepada tersangka. Untuk mengklarifikasi permasalahan antara tersangka dengan saksi korban.

”Kemudian Kahar mengajak saksi Hadi Purnomo dan saksi Widi Pebrianto untuk menemui tersangka. Ini untuk klarifikasi status tersangka di FB,” lanjutnya.

Sesampainya di rumah tersangka, kemudian saksi korban Kahar dipukul tersangka Agus. Saat ditemui, tersangka langsung marah.

”Lalu Kahar menggunakan pompa angin memukul korban. Setelah itu, tersangka mengambil samurai yang masih di dalam sarungnya ke arah saksi. Namun ditangkis oleh saksi korban dengan tangan kiri dan sarung samurai tersebut pecah terbelah. Sehingga ujung mata samurai mengenai bagian kepala samping kiri saksi korban,” bebernnya. (him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Kasus penganiayaan yang ditangani pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati dihentikan. Pasalnya, ada beberapa alasan yang dinilai perlu tak dilanjut perkara tersebut. Sehingga, pada kasus ini dihentikan penuntutannya berdasarkan keadilan restoratif (restorative justrice).

Pada Senin (31/1), pihak Kejari Pati mengajukan permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan Restoratif (Restorative Justice). Itu melalui ekspose secara virtual dihadapan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Fadil Zumhana terhadap perkara tindak pidana penganiayaan.

”Itu tersangka atas nama Agus Kami Muhadi. Dia disangka melanggar Pasal 351 ayat (1) KUHP,”  jelas Kasi Intel pada Kejari Pati Teguh Dwicahyono dikonfirmasi kemarin (2/2).

Berdasarkan keterangannya, peristiwa perbuatan pidana yang dilakukan tersangka itu terjadi pada Senin (29/11/2021) sekira pukul 15.30. Tempatnya di Desa Dadirejo, Margorejo.

Adapun alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan. Di antaranya, tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana, pasal yang disangkakan tindak pidananya diancam pidana tidak lebih dari lima tahun, telah ada kesepakatan perdamaian antara tersangka dengan korban pada 19 Januari 2022,

Dia menuturkan, mengingat restorative justice merupakan pemulihan kembali pada keadaan semula dan pola hubungan baik dalam masyarakat. Kemudian dikarenakan antar korban dan tersangka merupakan tetangga.

”Tersangka juga tulang punggung keluarga. Dia harus membantu menghidupi orang tua,” paparnya.

Pihak Kejari setempat kemudian mengupayakan perdamaian melalui restoratif justice. Hasilnya, terwujudnya perdamaian antara korban dan tersangka dengan disaksikan oleh tokoh masyarakat setempat pada 19 Januari lalu.

Baca Juga :  Seni Ketoprak Jadi Nominasi Landmark Kabupaten Pati

”Kami selanjutnya akan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum. Itu berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif,” terangnya.

Teguh menambahkan, Kejadian bermula saat tersangka (Agus, Red) membuat status di facebook (FB). ”Waspada vega ijo motor mentaris koh bose, iki peringatan, nek jek ngelek-ngelek aku nek buriku meneh, ko golek wacane provokator meneh, aku ra segan-segan ngilangke tangan embi sikelmu, nek ngak tak kasi pelajaran dirimu, selot sue kurang ar, wes cukup dirimu neleki uwong berah, malah akeh seng seneng eksekusi dirimu, buajingan kau”. Status tersebut dibaca oleh saksi korban Kahar.

Lanjut dia, kemudian saksi korban tersebut mengirim pesan melalui FB kepada tersangka. Untuk mengklarifikasi permasalahan antara tersangka dengan saksi korban.

”Kemudian Kahar mengajak saksi Hadi Purnomo dan saksi Widi Pebrianto untuk menemui tersangka. Ini untuk klarifikasi status tersangka di FB,” lanjutnya.

Sesampainya di rumah tersangka, kemudian saksi korban Kahar dipukul tersangka Agus. Saat ditemui, tersangka langsung marah.

”Lalu Kahar menggunakan pompa angin memukul korban. Setelah itu, tersangka mengambil samurai yang masih di dalam sarungnya ke arah saksi. Namun ditangkis oleh saksi korban dengan tangan kiri dan sarung samurai tersebut pecah terbelah. Sehingga ujung mata samurai mengenai bagian kepala samping kiri saksi korban,” bebernnya. (him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/