alexametrics
30 C
Kudus
Wednesday, May 18, 2022

Mahasiswa UMK Gondol Tiga Medali dari PON XX Papua

KUDUS – Empat mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) menorehkan prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021. Walaupun salah satu atlet harus mengalami cidera, namun mampu mendapatkan hasil cukup membanggakan.

Empat atlet yang menyabet medali tersebut yakni Vinka Widyaningrum yang membawa medali perak, lalu ada M. Ari Susendra dan Fatah A. Majid menyabet medali perunggu. Ketiganya merupakan merupakan atlet cabor tarung derajat. Sementara Ro’isul Umam menyabet medali perunggu dari Cabor Voli Indor.

Atlet peraih medali perak Vinka Widyaningrum mengaku sempat cedera selama latihan.


”Saat latihan sempat cidera ankle. Sehingga latihan kurang maksimal karena ada masa pemulihan cidera,” katanya.

Mahasiswi yang tinggal di Desa Gondosari 01/09, Kecamatan Gebog itu sebenarnya sudah latihan sejak dua tahun lalu. Namun karena pandemi pada awal 2020, akhirnya latihan dilakukan di rumah, tentunya dengan pantauan pelatih. Pada akhir 2020, dia sudah mulai pemusatan latihan, namun belum intens.

”Latihan intens sejak April 2021 hingga enam bulan. Lalu berangkat PON Papua 2021,” terang gadis kelahiran Kudus, 12 April 2002 itu.

Dengan persiapan yang cukup lama, dari segi mental, fisik dan teknik sudah siap. Dia mengaku tidak ada kendala berarti. Namun saat di babak penyisihan, ada kendala yang dialami, bagian jempol tangan kanan mengalami bengkak.

Cidera itu langsung ditangani, namun sedikit mengganggu di semi final dan final. Saat bertanding, dia harus menahan sakit. Namun setelah babak final, sakitnya semakin parah dan langsung dicek dokter. Ternyata terjadi sedikit retak.

Dalam pertandingan PON, dirinya menghadapi atlet Jawa Timur dalam babak penyisihan, lalu babak semi final dengan atlet Sumatera Barat dan babak final bertemu dengan atlet Papua.

”Tetap bersyukur dengan riham medali perak, sudah berusaha maksimal,” jelasnya.

Atlet lainnya M. Ari Susendra juga berlatih sejak 2019 dalam mempersiapkan PON XX Papua. Dia latihan di rumah karena ada pandemi. Menyusul PON yang sempat diundur dari jadwal semula awal 2020, Ari pun sedikit jenuh. Terlebih, dia sempat mengalami cidera.

Baca Juga :  PSG Pati Punya Pemain Berkelas, Tapi Persis Lebih Dijagokan

Berlaga di PON Papua lalu, Ari mengaku tidak terlalu banyak kendala. Secara fisik, mental dan teknik juga sudah dilatih dengan baik. Menurutnya, karena dirinya bertanding di kelas seni gerak bertahan menyerang dua arah, chemistry wajib dibangun dengan sebaik mungkin.

”Karena kita bertiga, jadi harus membangun chemistry yang kuat. Jadi tidak boleh mementingkan ego sendiri. Sehingga gerakannya bisa sempurna. Ketika ego muncul dan gerakan tidak sesuai, akan mengurangi nilai,” imbuhnya.

Ro’isul Umam, atlet voli indoor yang juga turut mempersembahkan medali bercerita, dia menjalani latihan cukup ketat. Dalam sebulan dia bisa berlatih hingga sebanyak 52 kali. Menurutnya, voli indoor membutuhkan kerjasama tim. Sehingga membutuhkan latihan cukup banyak agar kerjasama tim bisa terbangun maksimal.

Dia mengaku selama latihan tidak ada kendala yang berarti, sehingga dalam pertandingan di PON sudah sangat siap. Kendala yang dialaminya hanya pada penyesuaian cuaca, makanan dan lingkungan di Papua.

”Untuk kendala teknis tidak ada, kami sudah siap bertanding,” jelasnya.

Dia dan tim dalam PON Papua kontingan Jateng harus melawan Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Papua dan Papua Barat. Ari mengaku dengan raihan medali perunggu itu tetap harus disyukuri. Kedepan, dia menyebut harus terus kerja keras.

Dia menceritakan, untuk lokasi cabor voli indoor berada di daerah kota. Namun ternyata lokasinya setengah hutan. Padahal dia berpikir bahwa Kota Jayapura itu ramai seperti di Jawa. Namun, ternyata lokasinya di daerah yang masih banyak pepohonan.

”Tapi akhirnya bisa merasakan suasana Papua sih,” imbuhnya.

Sebelum berangkat dia beranggapan bahwa orang Papua orangnya keras. Namun ternyata anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Dia merasakan sendiri bahkan orang Papua juga ramah, tidak seperti yang di dalam benaknya selama ini.






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Empat mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) menorehkan prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021. Walaupun salah satu atlet harus mengalami cidera, namun mampu mendapatkan hasil cukup membanggakan.

Empat atlet yang menyabet medali tersebut yakni Vinka Widyaningrum yang membawa medali perak, lalu ada M. Ari Susendra dan Fatah A. Majid menyabet medali perunggu. Ketiganya merupakan merupakan atlet cabor tarung derajat. Sementara Ro’isul Umam menyabet medali perunggu dari Cabor Voli Indor.

Atlet peraih medali perak Vinka Widyaningrum mengaku sempat cedera selama latihan.

”Saat latihan sempat cidera ankle. Sehingga latihan kurang maksimal karena ada masa pemulihan cidera,” katanya.

Mahasiswi yang tinggal di Desa Gondosari 01/09, Kecamatan Gebog itu sebenarnya sudah latihan sejak dua tahun lalu. Namun karena pandemi pada awal 2020, akhirnya latihan dilakukan di rumah, tentunya dengan pantauan pelatih. Pada akhir 2020, dia sudah mulai pemusatan latihan, namun belum intens.

”Latihan intens sejak April 2021 hingga enam bulan. Lalu berangkat PON Papua 2021,” terang gadis kelahiran Kudus, 12 April 2002 itu.

Dengan persiapan yang cukup lama, dari segi mental, fisik dan teknik sudah siap. Dia mengaku tidak ada kendala berarti. Namun saat di babak penyisihan, ada kendala yang dialami, bagian jempol tangan kanan mengalami bengkak.

Cidera itu langsung ditangani, namun sedikit mengganggu di semi final dan final. Saat bertanding, dia harus menahan sakit. Namun setelah babak final, sakitnya semakin parah dan langsung dicek dokter. Ternyata terjadi sedikit retak.

Dalam pertandingan PON, dirinya menghadapi atlet Jawa Timur dalam babak penyisihan, lalu babak semi final dengan atlet Sumatera Barat dan babak final bertemu dengan atlet Papua.

”Tetap bersyukur dengan riham medali perak, sudah berusaha maksimal,” jelasnya.

Atlet lainnya M. Ari Susendra juga berlatih sejak 2019 dalam mempersiapkan PON XX Papua. Dia latihan di rumah karena ada pandemi. Menyusul PON yang sempat diundur dari jadwal semula awal 2020, Ari pun sedikit jenuh. Terlebih, dia sempat mengalami cidera.

Baca Juga :  Sambut Kontingen PON XX Papua, Jateng Siapkan Tempat Karantina

Berlaga di PON Papua lalu, Ari mengaku tidak terlalu banyak kendala. Secara fisik, mental dan teknik juga sudah dilatih dengan baik. Menurutnya, karena dirinya bertanding di kelas seni gerak bertahan menyerang dua arah, chemistry wajib dibangun dengan sebaik mungkin.

”Karena kita bertiga, jadi harus membangun chemistry yang kuat. Jadi tidak boleh mementingkan ego sendiri. Sehingga gerakannya bisa sempurna. Ketika ego muncul dan gerakan tidak sesuai, akan mengurangi nilai,” imbuhnya.

Ro’isul Umam, atlet voli indoor yang juga turut mempersembahkan medali bercerita, dia menjalani latihan cukup ketat. Dalam sebulan dia bisa berlatih hingga sebanyak 52 kali. Menurutnya, voli indoor membutuhkan kerjasama tim. Sehingga membutuhkan latihan cukup banyak agar kerjasama tim bisa terbangun maksimal.

Dia mengaku selama latihan tidak ada kendala yang berarti, sehingga dalam pertandingan di PON sudah sangat siap. Kendala yang dialaminya hanya pada penyesuaian cuaca, makanan dan lingkungan di Papua.

”Untuk kendala teknis tidak ada, kami sudah siap bertanding,” jelasnya.

Dia dan tim dalam PON Papua kontingan Jateng harus melawan Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Papua dan Papua Barat. Ari mengaku dengan raihan medali perunggu itu tetap harus disyukuri. Kedepan, dia menyebut harus terus kerja keras.

Dia menceritakan, untuk lokasi cabor voli indoor berada di daerah kota. Namun ternyata lokasinya setengah hutan. Padahal dia berpikir bahwa Kota Jayapura itu ramai seperti di Jawa. Namun, ternyata lokasinya di daerah yang masih banyak pepohonan.

”Tapi akhirnya bisa merasakan suasana Papua sih,” imbuhnya.

Sebelum berangkat dia beranggapan bahwa orang Papua orangnya keras. Namun ternyata anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Dia merasakan sendiri bahkan orang Papua juga ramah, tidak seperti yang di dalam benaknya selama ini.






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/