RADAR KUDUS – Bayang-bayang konflik Timur Tengah kini secara mengejutkan mencapai ambang pintu Amerika Serikat.
Sebuah buletin intelijen rahasia yang didistribusikan oleh FBI kepada departemen kepolisian di seluruh California mengungkapkan ancaman yang sebelumnya dianggap mustahil.
Aspirasi Iran untuk meluncurkan serangan pesawat tanpa awak (drone) dari kapal misterius di lepas pantai Barat AS.
Laporan ini menandai babak baru dalam eskalasi global, di mana medan tempur tidak lagi terbatas pada Selat Hormuz atau padang pasir Teluk, melainkan meluas hingga 11.000 kilometer ke pusat populasi Amerika Serikat.
Berdasarkan dokumen yang ditinjau oleh ABC News, FBI memperingatkan bahwa Iran "diduga beraspirasi untuk melakukan serangan kejutan menggunakan kendaraan udara tak berawak (UAV) dari kapal yang tidak teridentifikasi di lepas pantai Tanah Air Amerika Serikat, khususnya terhadap target yang tidak ditentukan di California."
Intelijen ini diperoleh pada awal Februari 2026 sebagai antisipasi jika AS melakukan serangan terhadap Iran.
Mengingat militer AS telah melancarkan serangan udara besar-besaran ke Teheran pada 28 Februari lalu, kondisi yang memicu ancaman dalam buletin tersebut kini telah terpenuhi.
Ancaman terhadap California ini menandai fase kelima dari konflik yang terus bermutasi:
1. Fase Pertama: Penutupan Selat Hormuz melalui krisis asuransi, bukan sekadar rudal.
2. Fase Kedua: Target terhadap pusat data (data center) di Teluk, melumpuhkan pusat AI bernilai triliunan dolar.
3. Fase Ketiga: Deklarasi bank-bank sebagai target militer dengan radius evakuasi warga sipil.
4. Fase Keempat: Ancaman siber global terhadap infrastruktur awan (cloud).
5. Fase Kelima: Ancaman fisik langsung terhadap wilayah daratan (homeland) AS di California.
Meskipun kekuatan militer konvensional Iran—termasuk Angkatan Laut dan Angkatan Udara mereka—dilaporkan telah hancur oleh serangan koalisi, Teheran masih memegang kartu "perang asimetris."
Untuk menyerang California, Iran tidak membutuhkan kapal induk atau jet tempur siluman. Mereka hanya membutuhkan kapal dagang komersial yang mengangkut kontainer berisi drone Shahed.
Drone seharga USD 20.000 yang diluncurkan dari mekanisme sederhana mampu menghasilkan efek strategis dan kepanikan massal yang jauh lebih besar daripada kekuatan militer konvensional mana pun, dengan biaya yang jauh lebih murah daripada harga mobil bekas.
Kantor Gubernur California, Gavin Newsom, telah mengonfirmasi peningkatan status keamanan di seluruh negara bagian.
Namun, hingga saat ini, belum ada kapal spesifik yang diidentifikasi dan tidak ada target konkret yang disebutkan.
Pihak FBI di Los Angeles pun menolak memberikan komentar lebih lanjut terkait operasionalitas ancaman ini.
Ketidakpastian ini menciptakan dilema bagi pertahanan AS. Di saat penjaga pantai (Coast Guard) menyisir perairan Pasifik untuk mencari kapal yang mungkin tidak terlihat, Presiden AS justru telah mendeklarasikan kemenangan perang di Kentucky pada 11 Maret.
Dunia kini menyaksikan dua realitas yang saling bertabrakan:
1. Klaim Kemenangan: Gedung Putih menyatakan perang telah usai.
2. Realitas Lapangan: Harga minyak WTI melonjak ke USD 92, tanker terbakar di lepas pantai Basra, dan polisi di Los Angeles diminta bersiaga menghadapi serangan udara dari laut.
Selat Hormuz mungkin menjadi garis depan pertama, namun California kini menjadi garis depan kelima. Perang yang diklaim "menang dalam satu jam pertama" ternyata baru saja mencapai tanah air Amerika. (*)
Editor : Ali Mustofa