RADAR KUDUS – Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, yang selama ini menjadi muara jutaan ton sampah ibu kota, kini berubah menjadi lokasi duka.
Sebuah tragedi kemanusiaan terjadi ketika gunungan sampah raksasa di kawasan tersebut mengalami longsor hebat pada Minggu sore (8/3/2026), menimbun apa pun yang berada di bawahnya, termasuk kendaraan dan bangunan warung milik warga.
Hingga Selasa (10/3/2026), proses pencarian terus dilakukan dengan intensitas tinggi, menyusul penemuan korban terbaru pada Senin siang (9/3/2026).
Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan bahaya laten dari pengelolaan limbah yang telah melampaui kapasitas tampung.
Peristiwa nahas ini terjadi secara tiba-tiba pada pukul 14.30 WIB, di saat aktivitas di TPST Bantargebang sedang berlangsung normal.
Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, tumpukan sampah setinggi puluhan meter yang tidak stabil seketika ambruk.
Material sampah dalam jumlah masif meluncur turun, menyapu bersih area di bawahnya.
Sejumlah warung yang biasa dijadikan tempat istirahat para sopir truk sampah serta kendaraan yang sedang mengantre untuk membongkar muatan tak sempat menghindar.
Mereka terjebak dalam gulungan material sisa pembuangan yang padat dan berat.
Tim SAR gabungan yang bekerja siang-malam berhasil menemukan seorang pria yang diduga sopir truk sampah pada Senin siang, sekitar pukul 12.05 WIB.
Jenazahnya ditemukan terkubur material sedalam 10 meter, tidak jauh dari titik ditemukannya bangkai truk yang dievakuasi sebelumnya.
Hingga saat ini, data dari posko darurat mencatat:
Total Korban: 13 orang.
Meninggal Dunia: 5 orang (seluruhnya telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi forensik).
Selamat: 4 orang.
Masih Hilang: 4 orang.
Pemerintah mengerahkan kekuatan penuh untuk menyisir tumpukan sampah yang sangat berbahaya tersebut.
Sebanyak 336 personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan BPBD bahu-membahu dalam operasi evakuasi.
Medan yang sangat berat menjadi tantangan utama tim di lapangan. Gunungan sampah yang labil berisiko memicu longsor susulan.
Untuk mengatasi hal ini, petugas mengerahkan 15 unit alat berat ekskavator yang bekerja secara estafet untuk membongkar timbunan sampah di titik-titik yang dicurigai sebagai lokasi keberadaan korban yang masih hilang.
Longsor di Bantargebang bukan sekadar musibah, melainkan sinyal bahaya bagi sistem manajemen limbah di Indonesia.
Ketinggian "gunung" sampah yang sudah mencapai titik kritis menciptakan struktur yang sangat tidak stabil, terutama setelah adanya perubahan cuaca atau kepadatan yang melampaui batas.
Pemerintah daerah dan otoritas terkait kini dituntut untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Apakah standar keamanan operasional di TPST telah memadai?
Atau apakah ini menjadi pertanda bahwa kapasitas tampung Bantargebang memang sudah harus dihentikan demi keselamatan nyawa manusia?
Saat ini, doa masyarakat menyertai keluarga korban yang ditinggalkan, serta harapan agar empat orang yang masih hilang segera ditemukan dalam kondisi apa pun oleh tim yang bertugas di lapangan. (*)
Editor : Ali Mustofa