Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Majelis Ahli Tetapkan Mojtaba Khamenei Sebagai Pemimpin Iran, Ini Profilnya

Ali Mustofa • Senin, 9 Maret 2026 | 14:17 WIB

Mojtaba Khamenei (The Guardian)
Mojtaba Khamenei (The Guardian)

RADAR KUDUS – Iran kini memiliki pemimpin tertinggi baru setelah Majelis Ahli secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti Ayatollah Ali Khamenei.

Ayahnya tersebut dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada Sabtu (28/2).

Majelis Ahli, lembaga ulama yang terdiri dari 88 anggota dan memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran, mengumumkan keputusan tersebut melalui pernyataan yang disiarkan media pemerintah pada Minggu (1/3).

Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak: Brent US$111, Akibat Konflik Timur Tengah

Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menyebut Mojtaba Khamenei terpilih melalui pemungutan suara yang dinilai menentukan.

Majelis Ahli juga menyerukan kepada seluruh rakyat Iran, khususnya kalangan ulama, intelektual, dan akademisi di lembaga pendidikan agama maupun universitas, untuk menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru serta menjaga persatuan nasional di tengah situasi yang sedang krisis.

Mojtaba Khamenei, yang kini berusia 56 tahun, merupakan putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei.

Serangan yang menghantam kompleks kediaman pemimpin tertinggi di Teheran tidak hanya menewaskan Ali Khamenei, tetapi juga dilaporkan merenggut nyawa ibu, istri, serta salah satu saudara perempuan Mojtaba.

Saat serangan terjadi, Mojtaba disebut tidak berada di lokasi.

Selama ini, Mojtaba dikenal sebagai figur yang cukup berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran, meski jarang tampil di ruang publik.

Ia disebut memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), salah satu kekuatan militer dan politik paling dominan di negara tersebut.

Baca Juga: Percepat Akses Hunian, BRI Dominasi Penyaluran Kredit Perumahan Nasional

Namanya memang sudah lama disebut-sebut sebagai calon penerus sang ayah.

Namun berbeda dengan banyak tokoh politik Iran lainnya, Mojtaba tidak pernah mencalonkan diri dalam pemilu ataupun secara terbuka membicarakan kemungkinan suksesi kepemimpinan.

Ia juga hampir tidak pernah menyampaikan pidato politik, khutbah Jumat, atau ceramah publik, sehingga banyak warga Iran bahkan tidak pernah mendengar suaranya secara langsung.

Pengangkatan Mojtaba Khamenei dipandang sebagai sinyal bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali dalam pemerintahan Iran.

Sejumlah pengamat menilai keputusan ini menunjukkan bahwa pemerintah Iran kemungkinan tidak akan mengambil langkah kompromi atau membuka jalur negosiasi dalam waktu dekat.

Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah Meningkat, AS Perintahkan Diplomatnya Tinggalkan Arab Saudi

Suksesi tersebut juga memicu perdebatan terkait kemungkinan munculnya pola kekuasaan dinasti di Iran.

Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya menjabat sebagai presiden hampir delapan tahun sebelum akhirnya menjadi pemimpin tertinggi selama sekitar 36 tahun.

Kini posisi tersebut dilanjutkan oleh putranya.

Bagi sebagian kalangan, situasi ini mengingatkan pada sistem monarki Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, ketika Iran beralih dari kerajaan menjadi republik Islam.

Nama Mojtaba sendiri tidak lepas dari sejumlah kontroversi.

Kelompok reformis di Iran sejak lama menuduhnya terlibat dalam manipulasi pemilu serta mendukung pengerahan pasukan Basij untuk menekan demonstrasi pada Gerakan Hijau tahun 2009.

Gelombang protes tersebut terjadi setelah Mahmoud Ahmadinejad kembali terpilih sebagai presiden dalam pemilu yang dinilai kontroversial.

Pasukan Basij juga kembali menjadi sorotan internasional setelah laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah organisasi hak asasi manusia menyebut aparat keamanan menewaskan ribuan orang dalam aksi penindakan terhadap demonstrasi pada awal Januari lalu.

Baca Juga: Longsor Gunungan Sampah di Bantargebang Tewaskan 4 Orang, Tim SAR Masih Cari 5 Korban Hilang

Pemerintah Iran saat itu menolak tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa tindakan aparat ditujukan kepada kelompok yang mereka sebut sebagai teroris dan perusuh yang diduga mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Israel.

Selain isu politik, Mojtaba Khamenei juga pernah dikaitkan dengan jaringan ekonomi besar yang memiliki aset di berbagai negara.

Laporan media internasional menyebut namanya pernah dihubungkan dengan Ali Ansari, pemilik Bank Ayandeh yang akhirnya dilikuidasi oleh pemerintah Iran setelah mengalami kebangkrutan akibat pemberian pinjaman besar kepada pihak internal.

Kebangkrutan bank tersebut disebut turut memperburuk kondisi ekonomi Iran, termasuk mendorong inflasi yang semakin tinggi serta memperparah beban ekonomi masyarakat karena sebagian kerugian ditutup menggunakan dana publik.

Dari sisi keagamaan, status Mojtaba juga menjadi perdebatan. Ia diketahui memiliki gelar hojatoleslam, yang merupakan tingkat ulama menengah dan bukan ayatollah.

Baca Juga: Update Harga Emas Pegadaian 9 Maret 2026, Galeri24 Rp3,091 Juta per Gram

Meski demikian, situasi serupa juga pernah terjadi pada ayahnya ketika Ali Khamenei diangkat sebagai pemimpin tertinggi pada 1989.

Saat itu, konstitusi Iran bahkan diamendemen untuk memungkinkan pengangkatannya.

Para pengamat menilai perubahan aturan serupa bisa saja kembali dilakukan untuk menyesuaikan posisi Mojtaba.

Hingga kini, pemerintah Iran belum mengumumkan secara lengkap struktur kepemimpinan baru setelah pergantian pemimpin tertinggi tersebut.

Di tengah situasi perang dengan Amerika Serikat dan Israel, pemerintah juga kembali memberlakukan pemadaman internet secara nasional.

Pergantian kepemimpinan ini menandai babak baru dalam politik Iran dan berpotensi memberikan dampak besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama di tengah konflik militer yang masih berlangsung antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Editor : Ali Mustofa
#Serangan Gabungan #iran #Israel #amerika serikat #Mojtaba Khamenei #Ali Khamenei