Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Trump Ancam Putus Perdagangan, Spanyol Tetap Tolak Pangkalan Militer Dipakai AS

Ali Mustofa • Jumat, 6 Maret 2026 | 13:34 WIB

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez.

RADAR KUDUS – Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menegaskan sikap tegas pemerintahnya yang menolak terlibat dalam eskalasi militer di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya pada Rabu (4/3), Sanchez menyerukan penghentian konflik secara segera melalui gencatan senjata antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran.

Melalui sebuah video yang diunggah di platform media sosial X, Sanchez menegaskan bahwa Spanyol memilih jalur perdamaian dan tidak mendukung upaya perang yang semakin memperkeruh situasi global.

Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah, Harga Bensin Amerika Naik Tajam, Kini Tembus 3,25 Dolar AS per Galon

Ia menekankan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan untuk ikut dalam tindakan militer yang dinilai dapat memperburuk kondisi dunia.

Menurut Sanchez, Spanyol tidak akan terlibat dalam langkah-langkah yang merugikan stabilitas internasional hanya karena kekhawatiran terhadap kemungkinan pembalasan dari pihak lain.

Sikap tersebut, kata dia, merupakan bagian dari komitmen negaranya terhadap perdamaian dan hukum internasional.

Meski demikian, Sanchez tetap mengkritik pemerintah Iran terkait tindakan represif terhadap warganya.

Namun ia menegaskan bahwa pelanggaran hukum tidak seharusnya dibalas dengan pelanggaran lain.

Pernyataan itu merujuk pada serangan militer sepihak yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Iran Menolak Negosiasi dengan Amerika Serikat

Sanchez juga mengungkapkan bahwa militer Spanyol saat ini bekerja secara intensif untuk menyiapkan langkah-langkah evakuasi bagi warga negaranya yang berada di kawasan konflik.

Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi berbagai mekanisme perlindungan bagi warga sipil.

“Kami memiliki keyakinan penuh terhadap kekuatan ekonomi, institusi, dan juga kekuatan moral negara kami. Dalam situasi seperti ini, kami justru semakin bangga menjadi warga Spanyol,” ujar Sanchez.

Sikap Madrid yang menolak keterlibatan militer turut memicu ketegangan diplomatik dengan Washington.

Pemerintah Spanyol tidak hanya mengecam serangan terhadap Iran, tetapi juga menolak memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer di wilayahnya sebagai titik operasi serangan ke Iran.

Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, sebelumnya juga menegaskan bahwa negaranya tidak pernah menyetujui kerja sama militer tersebut.

Baca Juga: Tak Gentar Hadapi AS-Israel, Iran Tegaskan Sikap Perlawanan

Dalam wawancara dengan radio Cadena SER, Albares membantah klaim yang disampaikan oleh pihak Gedung Putih.

Ia menegaskan bahwa kebijakan pemerintah Spanyol terkait konflik di Timur Tengah maupun penggunaan pangkalan militer tetap konsisten dan tidak mengalami perubahan.

“Posisi pemerintah Spanyol terkait perang di Timur Tengah, termasuk pemboman di Iran dan penggunaan pangkalan militer, tidak berubah sedikit pun,” kata Albares.

Pernyataan itu muncul setelah juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Spanyol telah sepakat untuk bekerja sama dengan militer Amerika Serikat. Klaim tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghentikan seluruh hubungan perdagangan dengan Spanyol.

Ancaman itu dilontarkan Trump setelah pemerintah Madrid melarang penggunaan pangkalan militer di wilayah Spanyol untuk mendukung operasi militer terhadap Iran.

Leavitt bahkan menyatakan bahwa pemerintah Spanyol mulai menunjukkan kerja sama dengan militer AS setelah pernyataan keras Trump tersebut.

“Saya kira mereka telah memahami pesan Presiden dengan sangat jelas. Berdasarkan pemahaman kami, mereka kini telah sepakat untuk bekerja sama dengan militer Amerika Serikat, dan militer AS sedang berkoordinasi dengan pihak Spanyol,” kata Leavitt.

Namun klaim tersebut kembali dibantah oleh Albares yang menegaskan bahwa sikap Spanyol tetap sama dan tidak ada perubahan kebijakan.

Di tengah memanasnya hubungan dengan Washington, Spanyol mendapat dukungan dari Prancis. Presiden Prancis Emmanuel Macron dilaporkan melakukan percakapan melalui telepon dengan Perdana Menteri Pedro Sanchez untuk menyampaikan solidaritas dan dukungannya.

Menurut laporan stasiun televisi BFMTV yang mengutip Istana Elysee, Macron menyatakan dukungan kepada Spanyol setelah muncul ancaman pemutusan kerja sama perdagangan oleh Amerika Serikat.

Sebelumnya, pada Selasa (3/3), Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menghentikan seluruh hubungan dagang dengan Spanyol. Keputusan itu disebut terkait penolakan Madrid memberikan akses pangkalan militer bagi AS untuk menyerang Iran, serta sikap Spanyol yang dianggap kurang meningkatkan anggaran pertahanan.

Ketegangan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah. Pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban di kalangan warga sipil. Media pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Editor : Ali Mustofa
#as #Spanyol #pangkalan militer