RADAR KUDUS – China kembali menegaskan posisinya terkait konflik yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Meskipun dikenal sebagai salah satu pendukung utama Iran secara ekonomi dan politik, Beijing hingga kini belum menunjukkan langkah untuk memberikan dukungan militer langsung.
Pemerintah China secara terbuka mengecam aksi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dalam beberapa hari terakhir, pernyataan resmi Beijing dinilai semakin keras.
Awalnya, China hanya menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut. Namun kemudian pemerintah China menyatakan kecaman terhadap pembunuhan pemimpin Iran serta korban sipil yang jatuh akibat serangan tersebut.
Dalam pernyataan terbaru, China bahkan menilai tindakan militer Amerika Serikat dan Israel sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.
Meski demikian, para analis menilai kecil kemungkinan China akan turun langsung membantu Iran secara militer.
Direktur Australia China Relations Institute di University of Technology Sydney, James Laurenceson, menjelaskan bahwa pendekatan keamanan China berbeda dengan Amerika Serikat.
Menurutnya, Amerika Serikat memandang dirinya sebagai kekuatan global yang memiliki kepentingan keamanan di berbagai wilayah dunia serta membangun aliansi militer formal.
Sementara itu, China cenderung memusatkan kepentingan keamanannya di kawasan terdekat dan tidak memiliki tradisi membentuk aliansi militer seperti yang dilakukan Washington.
Konflik di Timur Tengah juga memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap keseimbangan kekuatan global, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
Dengan fokus militer Amerika Serikat yang tersedot ke Timur Tengah, sebagian pihak menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesiapan Washington dalam menghadapi dinamika keamanan di kawasan lain, termasuk Selat Taiwan.
Laurenceson menilai China saat ini hanya memantau perkembangan konflik tersebut. Ia menegaskan bahwa dari sisi kekuatan militer dan ekonomi, China merasa cukup kuat untuk menghadapi Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik tanpa harus bergantung pada sekutu seperti Iran.
Ia juga menyoroti keunggulan kapasitas produksi militer China yang dinilai terus meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, kemampuan manufaktur China disebut sudah dua kali lebih besar dibandingkan Amerika Serikat.
Bahkan, dalam lima tahun terakhir, produksi kapal selam bertenaga nuklir China dilaporkan meningkat tiga kali lipat dibanding periode sebelumnya dan kini melampaui produksi Amerika Serikat.
Di sisi lain, konflik yang berkepanjangan dikhawatirkan dapat menguras persediaan persenjataan Amerika Serikat, termasuk rudal dan amunisi lainnya.
Hal ini dinilai berpotensi memengaruhi kesiapan militer Washington dalam skenario konflik lain di masa depan.
Sementara itu di dalam negeri, isu konflik Iran diperkirakan tidak akan menjadi agenda utama dalam Sidang Tahunan Kongres Rakyat Nasional China yang sedang berlangsung di Beijing.
Kepemimpinan China, termasuk Presiden Xi Jinping, disebut lebih memprioritaskan isu-isu domestik dibandingkan perkembangan geopolitik global.
Meski demikian, situasi global yang semakin tidak stabil diperkirakan akan memperkuat kebijakan China untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal.
Di tengah ketegangan global tersebut, hubungan antara Amerika Serikat dan China juga tetap menjadi perhatian utama. Presiden Amerika Serikat dijadwalkan melakukan kunjungan ke Beijing pada akhir bulan ini.
Para analis menilai kunjungan tersebut kemungkinan besar tetap akan berlangsung.
Meski kedua negara terlibat dalam persaingan strategis jangka panjang, baik Washington maupun Beijing dinilai sama-sama berupaya menghindari konflik langsung dan tetap menjaga ruang kerja sama di bidang tertentu. (*)
Editor : Ali Mustofa