RADAR KUDUS – Eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia kini tidak hanya berdampak pada sektor militer dan geopolitik, tetapi juga mengguncang sistem penerbangan global.
Dalam 72 jam pertama sejak konflik memanas, sejumlah maskapai besar dunia menghentikan operasionalnya, memicu pembatalan ribuan penerbangan serta membuat puluhan ribu penumpang terlantar setiap hari.
Maskapai berbasis Uni Emirat Arab, Emirates, dilaporkan menangguhkan sejumlah operasi penerbangan dari Dubai.
Sementara itu, Etihad Airways menghentikan penerbangan dari Abu Dhabi setidaknya hingga 4 Maret, menurut laporan industri penerbangan internasional.
Maskapai regional lainnya, Qatar Airways, juga menghentikan keberangkatan dari Doha dan menahan pengiriman kargo di berbagai pusat logistik global.
Laporan media internasional menyebutkan sedikitnya 2.280 penerbangan dibatalkan dalam tiga hari pertama konflik.
Dampaknya, sekitar 90.000 penumpang per hari dilaporkan terlantar di berbagai bandara hub kawasan Teluk.
Secara khusus, lebih dari 115.000 warga Australia disebut ikut terdampak gangguan perjalanan tersebut.
Gangguan ini dinilai sebagai pukulan besar bagi model penerbangan global modern yang selama dua dekade terakhir bergantung pada stabilitas kawasan Teluk sebagai jalur transit utama antara Timur dan Barat.
Bandara Internasional Dubai, yang pada 2024 melayani lebih dari 92 juta penumpang dan menjadi bandara internasional tersibuk di dunia, kini menghadapi perubahan operasional besar.
Seluruh rute penerbangan yang biasanya melintasi wilayah udara Teluk terpaksa dialihkan ke jalur selatan melalui Arab Saudi, menambah waktu tempuh antara satu hingga tiga jam per penerbangan.
Perubahan rute tersebut menyebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar jet secara signifikan, yang diperkirakan akan berdampak langsung pada kenaikan harga tiket penerbangan global dalam beberapa bulan mendatang.
Industri penerbangan sebelumnya menetapkan harga berdasarkan rute langsung yang kini tidak lagi dapat digunakan.
Ancaman Keamanan Udara Meningkat
Situasi semakin kompleks setelah laporan menyebut Uni Emirat Arab berhasil mencegat ratusan proyektil selama konflik berlangsung.
Data media internasional menunjukkan sedikitnya 137 rudal balistik dan lebih dari 200 drone berhasil dicegat, sementara puluhan lainnya jatuh dan menyebabkan kerusakan material.
Citra satelit memperlihatkan asap di sekitar Pelabuhan Jebel Ali—pusat logistik utama yang menangani sekitar 40 persen perdagangan Uni Emirat Arab.
Bahkan, fragmen drone dilaporkan mengenai area sekitar Burj Al Arab, salah satu ikon wisata paling dikenal di Dubai.
Serangan terhadap infrastruktur logistik dan simbol kota tersebut menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keamanan jalur penerbangan internasional yang selama ini dianggap stabil.
Model Hub Global Terancam Berubah Permanen
Selama lebih dari 20 tahun, Dubai, Abu Dhabi, dan Doha berkembang menjadi pusat transit global karena posisi geografisnya yang berada di titik tengah antara Eropa, Asia, Afrika, dan Oseania.
Maskapai-maskapai Teluk membangun sistem hub-and-spoke modern yang memungkinkan perjalanan jarak jauh efisien melalui satu titik transit utama.
Namun, konflik bersenjata kini mengubah keunggulan geografis tersebut menjadi risiko strategis. Titik tengah dunia yang sebelumnya menjadi pusat konektivitas global kini berada di tengah zona konflik.
Perusahaan asuransi penerbangan internasional, termasuk pasar asuransi Lloyd’s, dilaporkan mulai menghitung ulang premi risiko perang secara real time.
Di sisi lain, perusahaan logistik dan pengiriman kargo mulai mengalihkan jalur distribusi melalui kota alternatif seperti Istanbul, Singapura, dan Addis Ababa.
Tarif pengiriman udara global bahkan dilaporkan mulai meningkat sebelum pembukaan pasar awal pekan, menandakan dampak ekonomi yang meluas.
Jika konflik berlangsung selama empat hingga lima minggu sebagaimana diperkirakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, maka jumlah penumpang terdampak dapat mencapai lebih dari 3 juta orang.
Maskapai penerbangan harus menanggung biaya tambahan berupa penjadwalan ulang, akomodasi, konsumsi, serta kompensasi sesuai regulasi internasional perlindungan penumpang.
Baca Juga: Ancaman Asuransi Perang Lumpuhkan Lalu Lintas Minyak di Selat Hormuz di Tengah Eskalasi Konflik
Para analis menilai kondisi ini bukan sekadar gangguan sementara, melainkan berpotensi menciptakan perubahan struktural permanen dalam peta penerbangan global.
Maskapai yang selama dua dekade membangun jaringan transit melalui kawasan Teluk kini menghadapi kenyataan bahwa jalur utama mereka berada di koridor konflik.
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan besar bagi industri aviasi dunia, apakah pusat konektivitas global yang dibangun di kawasan strategis namun rawan konflik masih dapat menjadi tulang punggung perjalanan internasional di masa depan. (*)
Editor : Ali Mustofa