RADAR KUDUS - Gelombang amarah menguasai media sosial setelah seorang influencer bernama Resbob—yang sebelumnya dikenal sebagai streamer penuh sensasi—melontarkan kalimat bernada SARA terhadap masyarakat Sunda.
Potongan video berdurasi singkat itu menyebar bak kobaran api, memicu respons keras dari publik, komunitas suporter, hingga pejabat provinsi Jawa Barat.
Video yang muncul dari sesi live streaming tersebut memperlihatkan Resbob duduk santai, seolah tanpa beban, sembari menyebut frasa yang merendahkan identitas etnis tertentu.
Baca Juga: Resbob Minta Maaf di Instagram, Dinar Candy: Gak , gak ada maaf buat lo
Rekan di sampingnya bahkan terdengar tertawa, memperburuk kesan bahwa hinaan itu dilontarkan secara sadar dan dianggap candaan.
Publik tak tinggal diam—rekaman itu langsung menjadi trending, memancing serbuan komentar dan kecaman.
Respons netizen mengalir deras di Instagram, TikTok, hingga X. Banyak yang menilai apa yang dilakukan Resbob bukan sekadar ucapan kasar, melainkan bentuk ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah.
Di tengah sensitivitas isu identitas di Indonesia, terutama di ruang digital yang sangat cepat memantik emosi, tindakan influencer seperti ini dianggap berbahaya.
Komunitas Sunda, termasuk para pendukung klub sepak bola yang turut disebut dalam hinaan tersebut, menjadi kelompok yang paling tersinggung.
Mereka menafsirkan ucapan Resbob sebagai serangan langsung terhadap identitas, budaya, dan harga diri mereka. Unggahan klarifikasi publik pun mulai bermunculan, memanggil Resbob agar bertanggung jawab dan meminta maaf secara terbuka.
Situasi semakin memanas ketika Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, memberikan pernyataan tegas. Dalam konferensi pers singkat, ia mengungkapkan kemarahannya atas ucapan sang influencer. Baginya, tindakan tersebut bukan sekadar penyimpangan norma, melainkan pelanggaran serius yang menyentuh ranah hukum.
“Saya meminta kepolisian memproses dan menangkap pemilik akun tersebut,” tegas Erwan. Pernyataan itu tidak hanya menjaga sensitivitas antar-etnis, tetapi juga menjadi bentuk proteksi pemerintah daerah agar konflik tidak merembet ke dunia nyata.
Apalagi Jawa Barat memiliki sejarah panjang soal keharmonisan sosial yang dijaga ketat.
Kasus Resbob menjadi cermin betapa besarnya dampak seseorang yang memiliki audiens publik.
Influencer bukan lagi sekadar pembuat konten, melainkan figur yang memiliki pengaruh langsung terhadap opini dan emosi jutaan orang. Ketika pengaruh itu digunakan secara sembrono, kerusakan sosial bisa terjadi hanya dalam hitungan menit.
Ucapan bernada SARA yang keluar dari mulut figur digital dapat memicu konflik horizontal, membangkitkan sentimen etnis, atau bahkan memancing konfrontasi antar-kelompok.
Dalam konteks ini, live streaming—media yang begitu cepat dan spontan—menjadi ruang paling rentan terhadap insiden seperti ini.
Reaksi Warganet: Dari Kecaman hingga Seruan Boikot
Pasca video viral, kolom komentar di media sosial Resbob dipenuhi tuntutan permintaan maaf, sampai seruan agar dirinya diblokir dari semua platform. Sebagian netizen menganggap kasus ini sebagai contoh bahwa konten kreator perlu memahami batas:
“Lucu itu ada batasnya. Ini bukan lucu, ini menghina,” tulis salah satu pengguna X.
Tidak hanya itu, sejumlah komunitas Sunda mulai menggerakkan kampanye etika digital, mendesak agar platform lebih ketat mengawasi live streaming berpotensi provokatif.
Desakan terhadap aparat kepolisian menguat, apalagi setelah Wakil Gubernur ikut bersuara.
Laporan masyarakat mulai masuk, dan warganet meminta proses hukum dilakukan secara transparan.
Hal ini dianggap penting untuk menunjukkan bahwa ujaran kebencian bukan hal sepele, terlebih ketika menyasar kelompok etnis dan budaya.
Kasus ini juga membuka diskusi baru mengenai regulasi influencer. Bagaimana memastikan para konten kreator tidak melampaui batas?
Bagaimana platform dapat bertanggung jawab atas konten yang mereka fasilitasi? Publik menunggu langkah konkret dari pihak kepolisian agar insiden ini tidak menjadi preseden buruk.
Jejak Kontroversial Resbob: Bukan Sekali Ini Saja
Meski tidak dijelaskan dalam video ini, beberapa warganet mengaitkan tindakan Resbob dengan rekam jejaknya yang memang kerap menghadirkan drama dan konflik daring.
Banyak yang menilai gaya kontennya memang agresif dan provokatif, sehingga tidak mengherankan jika suatu saat ada kalimat yang melampaui batas.
Namun, perbedaan utama kasus ini adalah: ia menyasar identitas kolektif yang sangat sensitif. SARA bukan hal yang bisa dianggap sebagai “konten hiburan”.
Peristiwa ini memunculkan wacana baru: saat ruang digital yang bebas dan cepat justru dapat menjadi pemicu perpecahan.
Tindakan satu orang dapat berbenturan dengan martabat satu kelompok. Publik mulai menyadari bahwa kebebasan berpendapat, termasuk di live streaming, tetap memiliki batas hukum dan moral.
Kasus Resbob bukan hanya soal satu influencer yang melewati batas, tetapi sinyal alarm bahwa ruang publik digital Indonesia membutuhkan edukasi, regulasi, dan disiplin baru.
Arah perkembangan kasus ini berada di tangan aparat dan respons Resbob selanjutnya. Jika sang influencer memilih meminta maaf dengan tulus, ketegangan bisa mereda.
Namun jika proses hukum berjalan, ini akan menjadi babak baru dalam sejarah penegakan ujaran kebencian di Indonesia.
Warga Sunda, komunitas suporter, dan publik yang merasa terhina menunggu langkah berikutnya. Menjaga keharmonisan sosial kini menjadi prioritas utama, dan kejadian ini menjadi pengingat bahwa kata-kata dapat lebih tajam daripada tindakan fisik.
Editor : Mahendra Aditya