Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Resbob Minta Maaf di Instagram, Dinar Candy: Gak , gak ada maaf buat lo

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 12 Desember 2025 | 00:34 WIB

 

Adimas Firdaus alias Resbobb klarifikasi dan meminta maaf melalui postingan di IG
Adimas Firdaus alias Resbobb klarifikasi dan meminta maaf melalui postingan di IG

RADAR KUDUS - Jagat maya mendadak terbakar setelah sebuah video memperlihatkan streamer sekaligus Youtuber Resbob—nama asli Adimas Firdaus—mengucapkan kalimat kasar yang dianggap menghina suku Sunda dan kelompok suporter Persib Bandung, Viking.

Rekaman singkat itu menyebar secepat kilat melalui TikTok, X, dan Instagram, mendorong reaksi keras dari masyarakat Sunda hingga influencer lokal.

Ucapan bernada agresif itu terekam saat Resbob tengah melakukan live streaming sambil menyetir mobil di Surabaya.

Di dalam mobil terdapat beberapa rekannya, sementara ia tampak mengisap vape dan melontarkan serangkaian ujaran yang memancing amarah publik.

Potongan video yang diunggah akun TikTok @reiclipssx memperlihatkan Resbob berkata:
“Viking an***. Anj*** Viking. Bonex Viking sama saja, tapi yang anj*** cuma Viking,” ucapnya lantang.

Baca Juga: Resbob yang Hina Suku Sunda, Dapat Ancaman, Bergegas Klarifikasi dan Minta Maaf: ‘Mulutku Celaka karena Alkohol!’

Belum cukup di situ, ia menyasar suku Sunda secara keseluruhan dengan kalimat:
“Semua orang Sunda anj***.”

Ungkapan yang menyinggung identitas etnis itu sontak menjadi percikan ledakan. Warganet menilai pernyataan itu tak lagi sekadar ejekan antar suporter, tetapi sudah masuk ke wilayah penghinaan terhadap kelompok masyarakat yang dilindungi hukum.

Ledakan Reaksi dari Warga Sunda: “Sampai ke Mana Pun Ku Kejar Kamu”

Setelah video itu beredar luas, respons keras datang dari berbagai akun, salah satunya pengguna Instagram bernama @abahdedenhareudang. Dalam video terpisah, ia menyampaikan nada ancaman kepada Resbob.

“Kamu menghina suku Sunda. Ingat, sampai ke mana pun ku kejar kamu,” ujarnya dengan nada tinggi.

Abah Deden menilai hinaan itu bukan hanya menyerang dirinya, melainkan seluruh leluhur dan keturunannya. “Kamu bilang semua orang Sunda anjing. Berarti orang tua saya, nenek saya, buyut saya, semua kamu anggap begitu.”

Pernyataan tegas dari figur lokal Sunda ini menjadi pemantik gelombang solidaritas. Banyak warga Sunda lainnya menyatakan tidak menerima ucapan tersebut. Seruan laporan polisi pun bermunculan, mengingat konten video itu dapat dikategorikan sebagai ujaran kebencian berbasis SARA.

Sementara video klarifikasi belum muncul, warganet membanjiri platform media sosial dengan tuntutan agar tindakan Resbob ditindaklanjuti aparat penegak hukum.
Tagar bertema Sunda, Viking, dan Resbob sempat naik ke jajaran teratas trending.

Dalam diskusi daring, publik membahas potensi pelanggaran pasal dalam Undang-Undang ITE terkait penghinaan terhadap suku dan kelompok masyarakat. Sejumlah advokat dan aktivis digital bahkan menyarankan agar kasus ini diproses sebagai pelajaran bagi figur publik lain agar tidak sembrono saat sedang live.

Sorotan media pun tak bisa dihindari. Setiap unggahan terbaru di akun Resbob langsung diserbu warganet yang menagih penjelasan, permintaan maaf, atau setidaknya bentuk tanggung jawab.

Baca Juga: Biodata Resbobb, Nama Lengkap, Tanggal Lahir, Agama Hingga Karir, Bikin Konten Menghina Viking dan Sunda

Klarifikasi dan Permintaan Maaf Resbob: Antara Penyesalan dan Alasan Tidak Sadar

Setelah tekanan publik semakin memuncak, Resbob akhirnya muncul di Instagram membawa video klarifikasi. Dalam pernyataannya, ia mengakui rekaman viral itu benar terjadi saat ia live streaming di Surabaya tiga hari sebelum video klarifikasi diunggah.

Resbob menyampaikan permintaan maaf panjang dan menekankan bahwa ucapannya keluar di luar kesadarannya.

“Saya sadar ucapan saya sangat sensitif dan tidak ada pembenaran. Itu kecelakaan murni karena saya tidak sadar penuh,” ujarnya.

Ia juga menambahkan permohonan maaf tulus kepada masyarakat Sunda di seluruh Indonesia, serta secara khusus kepada ibu sambungnya yang merupakan seorang Sunda.

“Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga saya diberi maaf dan doa dari keluarga besar Sunda. Terutama untuk ibu sambung saya, maafkan Daus, Mi.”

Dalam teks tambahan yang ia unggah, Resbob menuliskan kalimat panjang yang cenderung bernuansa reflektif:

“Ketidaksadaran menjadikan kecelakaan saya dalam ucapan. Sampai sekarang saya tidak ingat mulut saya mengucapkan itu. Mari tinggalkan alkohol. Najis dan membuat mulut orang celaka. Contohnya saya.”

Ia menambahkan pesan moral:
“Mulutmu adalah harimaumu. Jangan rusak dengan alkohol.”

Klarifikasi itu memicu respons beragam. Sebagian menilai permintaan maafnya jujur dan layak diterima. Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa alasan “tidak sadar” dan menyalahkan alkohol justru terkesan menghindari tanggung jawab.

Di tengah hiruk-pikuk kecaman, ada satu sudut pandang penting yang jarang diulas platform berita: bahwa kasus Resbob membuka kembali perdebatan lama tentang etika konten kreator di era live streaming.

Tidak seperti video rekaman biasa, live streaming menghadirkan risiko lebih besar—ucapan spontan, candaan kelewatan batas, atau perilaku emosional dapat terekam dan tersebar tanpa filter.

Fenomena ini memunculkan dua catatan besar:

  1. Influencer kini memiliki tanggung jawab sosial yang setara dengan publik figur tradisional.
    Sekali ucapan diskriminatif keluar, dampaknya tidak hanya merugikan si pembuat konten tetapi juga kelompok masyarakat yang disinggung.

  2. Kebiasaan live sambil menyetir dan mengonsumsi alkohol adalah kombinasi yang sangat berbahaya.
    Tidak hanya memicu perkataan kasar, tetapi juga membahayakan keselamatan diri dan orang lain.

Kasus Resbob menunjukkan bagaimana tekanan untuk “selalu tampil live” bisa berbalik menjadi bumerang besar bagi seorang kreator digital.

Meski permintaan maaf sudah dilayangkan, tensi di dunia maya belum sepenuhnya mereda. Akun-akun komunitas Sunda masih menimbang langkah berikutnya, apakah akan membawa masalah ini ke ranah hukum atau menunggu hasil dialog dengan keluarga Resbob.

Di sisi lain, sejumlah pengamat digital menilai kasus ini penting untuk menjadi preseden bahwa ujaran kebencian berbasis etnis tidak bisa dianggap sebagai “kecelakaan live”.

Apakah permintaan maaf Resbob cukup untuk meredam badai?
Atau apakah ia harus menghadapi konsekuensi hukum?
Pertanyaan ini kini menggantung dan terus dibicarakan publik.

Editor : Mahendra Aditya
#Resbob minta maaf #Bigmo dan Resbobb #viking #profil resbobb adimas firdaus #YouTuber Resbobb #resbobb menghina suku sunda #persib #Resbobb #sunda