Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Misteri Candi Angin Jepara: Lebih Tua dari Borobudur dan Simbol Larangan Poligami!

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 28 Februari 2025 | 00:20 WIB
candi angin
candi angin

RADAR KUDUS - Di balik pesona alam Kabupaten Jepara, tersembunyi sebuah situs bersejarah yang penuh teka-teki: Candi Angin.

Terletak di Desa Tempur, Kecamatan Keling, candi ini diyakini lebih tua dari Candi Borobudur dan menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Kalingga.

Tak hanya itu, Candi Angin juga menyimpan prasasti kuno yang berisi larangan poligami, menambah daya tariknya sebagai warisan budaya yang sarat makna.

Candi Angin: Kokoh di Tengah Terpaan Angin

Nama "Candi Angin" diambil dari kekuatan bangunannya yang mampu bertahan di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), meski diterpa angin kencang pegunungan.

Beberapa masyarakat setempat percaya bahwa candi ini dulunya merupakan tempat pemujaan Dewa Angin.

Candi ini pertama kali menarik perhatian pada tahun 2013, ketika Ahmad Junaedi, warga Dukuh Duplak, Desa Tempur, menemukan prasasti kuno di sekitar lokasi.

Prasasti tersebut kini disimpan di Museum Kartini, Jepara, dan menjadi bukti penting tentang keberadaan kompleks candi di daerah tersebut.

Prasasti Larangan Poligami: Pesan Moral dari Masa Lalu

Salah satu temuan paling menarik di Candi Angin adalah prasasti batu andesit yang berisi larangan poligami. Prasasti setinggi 82 cm, lebar 30 cm, dan tebal 5 cm ini menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Isinya mencerminkan aturan sosial dan keagamaan pada zamannya, khususnya bagi penganut Dewa Siwa.

Prasasti ini diperkirakan berasal dari era Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-13 hingga ke-14.

Larangan poligami dalam prasasti tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu sudah memiliki kesadaran akan dampak negatif poligami, terutama terhadap status keturunan dan keharmonisan keluarga.

Candi Bubrah: Gerbang Menuju Candi Angin

Tak jauh dari Candi Angin, terdapat Candi Bubrah, yang diyakini sebagai pintu gerbang menuju Candi Angin. Nama "Bubrah" dalam bahasa Jawa berarti rusak atau tidak beraturan, menggambarkan kondisi candi yang sudah tidak utuh lagi.

Menurut legenda lokal, kedua candi ini dibangun oleh Resi Wigotoyoso, seorang tokoh mistis yang konon memiliki kemampuan ajaib untuk membuat batu-batu datang sendiri dan membentuk candi.

Meski mitos ini belum dapat dibuktikan secara ilmiah, cerita tersebut menambah nuansa magis pada situs ini.

Candi Angin vs Candi Borobudur: Mana yang Lebih Tua?

Candi Angin diperkirakan lebih tua daripada Candi Borobudur, salah satu ikon budaya Indonesia. Hal ini didasarkan pada struktur bangunan yang sederhana dan tidak memiliki ornamen Hindu-Buddha seperti candi-candi lainnya.

Beberapa ahli bahkan menduga bahwa Candi Angin mungkin dibangun oleh manusia purba, meski teori ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Mitos dan Legenda yang Melekat

Selain sebagai objek wisata sejarah, Candi Angin dan Candi Bubrah juga dikelilingi oleh cerita-cerita mistis.

Salah satunya adalah legenda tentang Padepokan Gendalisodo Eyang Anoman, tempat pembukaan kitab Mahabharata pada masa Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga.

Meski mitos ini sulit diverifikasi, kehadirannya menambah daya tarik Candi Angin sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga cerita-cerita yang memikat.

Daya Tarik Wisata dan Pelestarian

Candi Angin dan Candi Bubrah kini menjadi destinasi wisata sejarah yang semakin populer di Jepara.

Pengunjung tidak hanya bisa menikmati keindahan alam pegunungan, tetapi juga menyelami jejak sejarah yang masih tersimpan rapi di balik reruntuhan candi.

Namun, upaya pelestarian situs ini masih perlu ditingkatkan. Pemerintah setempat dan komunitas sejarah diharapkan dapat bekerja sama untuk menjaga kelestarian Candi Angin dan Candi Bubrah, agar warisan budaya ini tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Kesimpulan

Candi Angin bukan sekadar bangunan kuno, tetapi juga simbol kekayaan sejarah dan budaya Jawa Tengah.

Dari prasasti larangan poligami hingga legenda mistis yang melekat, candi ini menawarkan cerita yang tak hanya menarik, tetapi juga penuh makna.

Bagi Anda yang tertarik menjelajahi jejak sejarah Nusantara, Candi Angin di Jepara adalah destinasi yang wajib dikunjungi.

Siapa tahu, di balik reruntuhan batu kuno ini, tersimpan rahasia-rahasia masa lalu yang belum terungkap.(*)

Editor : Mahendra Aditya
#prasasti candi angin #Candi Angin dan Candi Bubrah #mitos Candi Angin dan Candi Bubrah #sejarah Candi Angin #misteri Candi Angin #lokasi Candi Angin #wisata candi angin #candi angin